SUKABUMIHEADLINE.com l TENGGARONG – Suhendri, kakek asal Sukabumi, Jawa Barat, yang kini tinggal di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berharap hutan buatannya di tengah Kota Tenggarong akan terus dijaga dan dirawat.
Suhendri memiliki alasan, yakni menyediakan oksigen bagi masyarakat Tenggarong melalui hutan seluas 1,5 hektare yang telah dirintisnya sejak 1986 itu. Puluhan tahun ia menjaga hutannya melalui cobaan yang tidak mudah. “Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat di kota ini,” dikutip sukabumiheadline.com dari korankaltim.com pada Kamis (18/11/2021).
Digoda Rp10 Miliar
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lokasi hutan mini milik Suhendri memang sangat strategis, mengingat lokasinya hanya sekira 1 kilo meter dari Kantor Bupati Kutai Kartanegara, di Jalan Pesut, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Pohon menjulang tinggi di antara pemukiman penduduk menjadi pembeda agroforestri milik kakek berusia 78 tahun itu, yang sejak muda mendedikasikan dirinya untuk penyelamatan lingkungan, terutama pelestarian hutan. Baginya, hutan dan pohon adalah cara terbaik menjaga alam.
Berita terkait: Suhendri, Kakek 78 Tahun asal Sukabumi Populer di Kalimantan
Agroforestri milik Suhendri memang kini berubah jadi hutan lebat. Pepohonan tumbuh seolah saling berlomba paling tinggi. Di bawah rindang pohon damar atau agathis, ada juga ulin dan meranti, dan lainnya membuat suasana sejuk sangat terasa meski hari itu sangat terik.
Di bagian depan, berdiri rumahnya yang sederhana, hunian dari kayu khas Sunda dengan tambahan padepokan di bagian depan berdiri di atas lahan panjang 100 meter dan lebar 150 meter.
Di tempat lain, Suhendri juga memiliki lahan serupa dengan luas yang sama. Hutan pribadi miliknya itu kini telah benar-benar berubah menjadi hutan.
Diakui Suhendri, salah satu pengalaman yang tak pernah dilupakannya adalah ketika menolak tawaran menjual hutan kotanya senilai Rp10 miliar.
“Saya tidak jual. Saya harap ada orang yang bisa melanjutkan merawat hutan ini meskipun bukan keluarga saya. Saya pernah menolak uang Rp10 miliar dari pengembang perumahan yang ingin membeli tanah saya,” ujar Suhendri seperti dilansir dari kompas.com.
Tawaran itu, tambah dia, datang pada tahun 2000 silam. Tak hanya sekali, tawaran itu bahkan beberapa kali diterimanya, hingga pengembang dari Jakarta dan Yogyakarta.
Penolakan Suhendri bukan tanpa alasan, niatnya untuk menjaga lingkungan dengan menanam pohon di tengah kota sudah tertanam dalam hati. Godaan para investor yang menawar akan membeli lahan seluas 1,5 hektar untuk dijadikan perumahan pun tak digubrisnya.
“Banyak yang datang mau beli, tapi saya tidak mau. Apalagi mau bikin perumahan, saya tidak mau, lingkungan rusak,” ungkap Suhendri.
Kakek dua anak ini menceritakan, pertama kali menginjak tanah Kalimantan Timur pada 1971, dia bekerja di proyek pembangunan asrama milik perusahaan kayu. Saat itu juga bisnis kayu sedang marak. Dia menyaksikan kayu ditebang, berhektar-hektar hutan gundul tanpa sisa.
Dari situ muncul keinginannya merawat hutan. Lalu, Suhendri membeli lahan seluas 1,5 hektar pada 1979 seharga Rp100.000. Lahan itu dia gunakan untuk bertani dengan konsep pertanian agroforestri, yaitu menggabungkan pepohonan dengan tanaman pertanian, seperti lombok, sayuran, dan buah-buahan.
Kemudian, pada 1986 dia mulai menanam (pohon) kayu setelah mendapat bibit dari Bogor, Jawa Barat. Waktu itu, kata Suhendri, ada 1.000 bibit kayu damar, meranti, kapur, pinus, kayu putih, ulin, dan sengon. Saat ini, pohon yang dia tanam pada 1986 sudah tinggi menjulang membentuk hutan dalam kota dan memberi udara segar bagi warga Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara itu.
Seiring waktu, hutan tengah kota milik Suhendri kerap menjadi tempat penelitian mahasiswa. Bahkan, hutan tengah kota ini pernah menjadi lokasi penelitian skripsi mahasiswa asal Jepang. Suhendri juga sering mendapat penghargaan dari berbagai pihak karena hutannya.