sukabumiheadline.com – Kalangan baby boomers dan Generasi X Sukabumi, Jawa Barat, tentunya masih mengingat tragedi Arie Hanggara, seorang anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia pada akhir tahun 1984. Arie Hanggara tewas ditangan ibu tirinya, pada usia yang masih sangat belia, 7 tahun.
Terbaru, Nizam Syafei, bocah asal Kabupaten Sukabumi juga tewas, setelah diduga berulangkali dianiaya ibu tirinya. Nizam menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, dan dikuburkan pada Sabtu (21/2/2026).
Sayangnya, “mimpi buruk” ibu tiri tidak berhenti di tragedi Arie Hanggara, namun berlanjut hingga puluhan, bahkan ratusan anak-anak lain di Indonesia, meskipun tidak selalu menimbulkan korban jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga kemudian, tragedi Nizam Syafei di Sukabumi, menghenyak perhatian publik tanah air. Berita-berita kematian Nizam pun menjadi pemberitaan di berbagai media nasional.
Mengenang tragedi Arie Hanggara
Arie Hanggara Machtino, adalah seorang anak yang meninggal setelah dianiaya oleh ayahnya Machtino dan ibu tirinya Santi pada 1984 hingga dinyatakan meninggal. Kasus Arie Hanggara menjadi begitu besar karena besarnya perhatian media massa untuk mengangkat tragedi tersebut.
Arie Hanggara lahir di Bogor pada 21 Desember 1977, dan meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit menjelang ulang tahunnya yang ke-7, tepatnya padaa 8 November 1984.
Arie Hanggara meninggal disebabkan penganiayaan. Hingga sekarang, kasus Arie Hanggara masih sering diangkat dan dijadikan referensi oleh media massa indonesia, terutama jika ada sebuah kasus sejenis ketika seorang anak menjadi korban kekerasan orangtuanya sendiri.
Begitu besarnya animo masyarakat, membuat kasus tersebut diangkat menjadi sebuah film, Arie Hanggara, yang diproduksi oleh PT Tobali Indah Film pada 1985, dan cukup sukses dalam pemasaran.
Arie Hanggara terlahir sebagai anak kedua dari pasangan Machtino Eddiwan dan Dahlia Nasution. Namun saat rumah tangga mereka menjadi kacau, Arie bersama dua orang saudaranya dibawa sang ayah untuk hidup bersama perempuan selingkuhannya bernama Santi.
Santi sering dikabarkan sebagai ibu tiri Arie dan saudara-saudaranya, meskipun Machtino dan Santi belum resmi sebagai pasangan suami istri, seperti diberitakan majalah Tempo edisi 13 April 1985. Publik yang menganggap Santi sebagai ibu tirinya kelak akan menjadikan status “ibu tiri” sebagai mimpi buruk bagi anak-anak.
Arie sendiri ketika itu tercatat sebagai pelajar di Perguruan Cikini, Jakarta Pusat. Ayahnya menganggur setelah usahanya bangkrut dan Santi bekerja kantoran. Arie dikenal suka bergaul dan periang pada teman-temannya di sekolah menurut gurunya, Khadidjah.
Sementara Santi dan ayahnya menganggap Arie sebagai anak yang nakal. Konon, beberapa kali mereka mendapati Arie mencuri uang.
Karena kesal dengan perbuatan Arie, Ayahnya dan Santi kerap menyiksanya. Arie dianiaya oleh ayahnya dan ibu tirinya seperti dipukul, ditendang, ditampar, dibuat tak bedaya. Arie juga kerap disuruh squat jump secara terus-menerus sampai kelelahan, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan dikurung di dalam kamar mandi.
Meskipun sering mendapat perlakuan KDRT, menurut Khadidjah, Arie tidak pernah memperlihatkan dirinya mengalami tekanan mental. Jika luka di tubuhnya ketahuan oleh guru, ia menjawabnya karena jatuh, atau alasan lain.
Setelah disiksa dari siang, pada malam hari ia disuruh menghadap tembok, kepalanya dibenturkan ke tembok, tidak diperbolehkan makan dan minum, dan dikurung di dalam kamar mandi dan dikunci, hukuman terakhir.
Arie yang saat itu masih berusia 6 tahun dipaksa masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa jam, Arie akhirnya pingsan di kamar mandi tanpa disadari. Ayahnya yang merasa hukuman Arie sudah cukup membuka pintu kamar mandi dan mendapati anaknya telah pingsan sekaligus sekarat dengan kepala yang berdarah. Arie dilarikan ke rumah sakit dan meninggal saat di perjalanan.
Setelah mengalami penganiayaan dari orang tuanya, Arie Hanggara meninggal pada Kamis, 8 November 1984. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada subuh hari di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Kondisi jenazah Arie Hanggara penuh dengan memar dengan mata kanan membiru akibat lebam, darah mengalir dari hidung, dan bagian kening terluka. Sebagian kepalanya mengalami keretakan dan dan beberapa tulangnya patah akibat mengalami benturan dan pukulan.
Jasad Arie dipenuhi sekitar 40 luka yang menyebar di hampir sekujur tubuhnya, di antaranya di punggung, pinggang, pantat, dada, tengkuk, luka serius yang menyebar di kedua lengan, dan lainnya.
Arie Hanggara dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Dilansir Republika edisi 2 Mei 2014, berjudul Nasib Makam Arie Hanggara ‘Si Korban Ibu Tiri’ (1), di samping kanan dan kiri nisannya, terdapat tulisan “Maafkan Papa” dan “Maafkan Mama”.
Proses hukum
Machtino Eddiwan ditahan di Kantor Kepolisian Sektor Mampang, Kota Jakarta Selatan. Ia kemudian memilih seorang pengacara bernama Henry Yosodiningrat untuk membela dirinya.
Setelah menjalani proses persidangan, akhirnya vonis dijatuhkan. Machtino Eddiwan, ayah Arie, divonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sementara Santi divonis 2 tahun penjara. Hukuman terhadap Santi yang lebih ringan karena ia dianggap hanya membantu Machtino Eddiwan dalam melakukan penganiayaan.
Nugroho Notosusanto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hendak memasang patung Arie Hanggara di depan kantor kementerian tersebut dengan maksud agar peristiwa itu tidak diulang.
Namun, kabarnya patung itu akhirnya batal dipasang karena diprotes pihak keluarga, terutama ibu kandungnya, yang menganggapnya hanya akan mengabadikan luka.
Pada 1985, PT Toboali Indah Film mengangkat kasus ini dalam film Arie Hanggara. Yan Cherry Budiono berperan sebagai Arie, sementara Machtino dan Santi diperankan oleh Deddy Mizwar dan Joice Erna.
Agar dapat ditonton oleh semua usia, cerita dalam film ini sedikit diubah dan diperhalus dari peristiwa aslinya, contohnya adegan ibu kandung Arie, Dahlia (diperankan Anissa Sitawati) hadir saat pemakaman Arie.
Dalam peristiwa sebenarnya, Dahlia baru mengetahui kematian anaknya beberapa hari setelah pemakaman, bahkan publik sempat mengira bahwa Santi adalah ibu kandung Arie.
Machtino Eddiwan diketahui meninggal dunia pada tahun 2004. Sedangkan Santi dan Dahlia telah memiliki keluarga baru.
Tragedi Nizam Syafei asal Sukabumi
Kekinian, mimpi buruk ibu tiri, kembali menghantui dalam kasus meninggalnya Nizam Syafei. Bocah 12 tahun asal Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, itu tewas dalam kondisi kulit melepuh diduga disiksa ibu tirinya.
Diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, Nizam Syafei (NS), seorang anak berusia 12 tahun diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh ibu tirinya, harus dilarikan ke Rumah Sakit Jampang Kulon pada Kamis (20/2/2026) pagi, namun nyawa korban tak tertolong dan akhirnya meninggal dunia pada Kamis sore.
NS diduga menjadi korban KDRT yang dilakukan ibu tirinya itu sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Namun, nyawa korban tidak tertolong akibat luka parah yang dideritanya di sekujur tubuh.
Kabar duka pun menyelimuti Kampung Leuwinanggung, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon,
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ketika jasad bocah laki-laki yang berstatus sebagai santri itu tiba di kampung halaman dalam kondisi sudah meninggal dunia, Jumat (20/2/2026) dinihari.
Berdasarkan informasi, korban diduga mengalami penyiksaan fisik yang keji, termasuk dipukuli dan dipaksa meminum air mendidih. Baca selengkapnya: Anak 12 tahun di Sukabumi dianiaya ibu tiri hingga tewas
Tragedi kematian Nizam dengan kondisi tubuh penuh luka bakar, menjadi klimaks hidup penuh kekerasan yang dialami korban.
Anwar Satibi (38), ayah kandung korban, mengungkap bahwa sang istri nyaris mendekam di penjara akibat menyiksa korban, namun selamat berkat aksi bersimpuh mohon ampun. Peristiwa terjadi pada 2025 lalu.
Alhasil, kematian Nizam memicu kemarahan publik karena kekerasan yang terjadi dalam keluarga ternyata telah gagal dihentikan.
Beberapa jam sebelum meninggal dunia di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), menurut Anwar, anaknya itu sempat memberikan keterangan saat ditanya mengenai penyebab luka di tubuhnya.
“Jawabnya di (ruang) IGD. Katanya disuruh minum air panas,” ujar Anwar, Sabtu (21/2/2026).
Nizam kemudian menjalani perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU. Namun tak lama setelah itu, nyawanya tidak tertolong. “Dari IGD masuk ICU, habis dari ICU meninggal,” katanya lagi.
Sekitar satu tahun lalu, Anwar sempat melaporkan istrinya ke Polres Sukabumi. Saat itu, ia sudah tidak tahan melihat penderitaan NS yang badannya penuh luka lebam akibat dipukul benda tumpul oleh sang ibu tiri.
“Sebetulnya laporan di Polres pun belum saya cabut. Saksi waktu itu Kanit Riki. Kita buka baju anak saya, saya sampai nangis lihatnya,” ujar Anwar.
Namun, perkara terhenti setelah muncul mediasi yang difasilitasi tokoh masyarakat. Saat itulah, sang istri mengeluarkan jurus sandiwara untuk meluluhkan hati Anwar.
“Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik. Akhirnya terjadi perdamaian,” kenangnya.
Kesepakatan damai itu kini disesali Anwar karena ternyata sang istri hanya melakukan “tobat sambal”. Anwar menyebut kekerasan setahun lalu dipicu oleh perselisihan antara Nizam dan anak angkat sang istri.
Setiap kali ada konflik antar-saudara, sang ibu tiri selalu memposisikan korban sebagai sasaran amuk demi membela anak angkatnya.
“Istri saya punya dua anak angkat. Kalau berantem antara anak saya (NS) dengan anak itu, yang dihantam selalu anak saya,” tegas Anwar.
Menolak damai
Kini, setelah Nizam meninggal dunia dengan kondisi melepuh yang mengerikan, Anwar tidak ingin lagi tertipu oleh air mata sang istri. Ia meminta polisi menggunakan laporan lama yang belum dicabut sebagai dasar untuk memberatkan hukuman pelaku.
“Kalau memang terbukti, saya ingin ini jadi efek jera. Kita ini negara hukum, jangan semena-mena!” pungkasnya.









