Mitos dan cerita menyedihkan di balik keindahan Situ Batu Karut Sukabumi

- Redaksi

Minggu, 26 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi - Ist

Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi - Ist

sukabumiheadline.com – Banyak muda-mudi sering datang ke Situ Batu Karut. Dari mereka yang mengunjungi bersama pasangan, tamasya bersama teman, hingga si jomblo yang larut dalam kesendirian.

Namun, ada sejumlah mitos beredar di kalangan masyarakat terkait penamaan danau yang memiliki pemandangan menawan ini.

Situ Batu Karut nan indah ini terletak di Kampung Batu Karut RT 003/008, Desa Selawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sebuah danau yang membelah dua kampung, yaitu Batu Karut di sisi timur, dan Pulopanggang di sisi barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Batu Karut kini menjadi salah satu destinasi wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi baik wisatawan lokal, maupun dari luar daerah. Di area situ ini, pengunjung dapat melihat-lihat kejernihan air dari kolam kecil dan pancuran tujuh di sana.

Tak mengherankan jika saat weekend dan hari libur nasional, banyak orang yang mengunjunginya, dari sekadar nongkrong, berolahraga, hingga berekreasi. Bahkan, ada juga yang sekadar memancing ikan.

Karenanya, di tempat ini banyak terdapat rakit yang biasa digunakan untuk memancing ikan atau sekadar bermain-main ke tengah danau.

Konon, di area danau ini dulu banyak terdapat rumah-rumah dan tempat penggilingan beras. Kemudian setelah warga di sana pindah, tempat itu dijadikan destinasi wisata air, Situ atau Danau Batu Karut.

Mata air situ ini kini hanya dinaungi pohon-pohon besar khas hutan di kaki Gunung Gede Pangrango seluas lima hektar, dengan status tanah milik PDAM Kota Sukabumi.

Sayangnya, di kiri dan kanan lokasi ini dipadati pemukiman penduduk. Padahal, dalam model zonasi perlindungan mata air, seharusnya pada Zona 1, radius 13,5 hektar, tidak boleh ada pemukiman ataupun aktivitas yang bisa merusak ekosistem hutan.

Sedangkan pada Zona 2, dari model perlindungan mata air yang luasannya adalah 72 hektar, seharusnya tidak boleh ada aktivitas yang bisa mencemari air tanah.

Di jalan yang semakin menyempit menanjak dan hanya dialasi bebatuan. Di sepanjang jalan ada sejumlah kegiatan yang sebenarnya bisa menimbulkan pencemaran, seperti pengolahan pupuk kandang, peternakan ayam dan sapi.

Paling menyedihkan, seluas 72 hektar Zona 2 tidak ada satu pohon besar yang hidup. Semua lahan sudah berganti fungsi menjadi ladang holtikultura milik sebuah perusahaan swasta. Dan sepanjang mata memandang ke arah puncak Gunung Gede Pangarango yang ada adalah perkebunan, nyaris tanpa pepohonan besar atau pohon pinus khas Gede Pangrango.

Cerita di Balik Nama Batu Karut

Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. l Istimewa
Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi – Ist

Di balik nama Batu Karut ada cerita menarik. Menurut warga setempat, di area tersebut dulunya terdapat sebuah batu terikat akar beringin. Ajaibnya, akar beringin ini bisa mengangkat batu itu keatas kurang lebih setinggi satu meter.

Batu Karut, dalam bahasa Sunda bisa diartikan “batu anu dikarut ku akar” yang artinya “batu yang diikat dengan akar”. Maka kampung tersebut dinamakan Kampung Batu Karut. Tapi sekarang batu yang di ikat oleh akarnya itu sudah tidak bisa lagi kita temukan.

Konon pula, menurut warga setempat, masyarakat di sini masih meyakini mitos bahwa pernah ada pohon kelapa yang menjulang tinggi tumbuh persis di tengah-tengah situ. Selain itu, juga mitos jika di situ tersebut hidup seekor ikan memakai anting, atau dalam bahasa Sunda biasa disebut lauk antingan.

Selain itu, ada banyak yang menjadikan tujuan mengunjunginya karena tertarik dengan tempat pemandiannya yang bernama “Pancuran Tujuh” yang terletak di utara Danau Batu Karut. Pancuran Tujuh ini berair jernih yang berasal dari sumber mata air.

Selain itu, sumber air situ ini juga bisa digunakan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

Berita Terkait

Profil Zahran dan Salma, wakil Kota Sukabumi di Grand Final Pasanggiri Moka Jawa Barat 2026
Memahami batik dan Lokatmala Sukabumi dalam perspektif Gen Z
Memahami harmonisasi budaya di Chinatown Sukabumi
Kentring Manik Mayang Sunda: Mengenal ibu dari Raja-raja Pajajaran
Seren Taun: Merawat tradisi 447 tahun ala Kasepuhan Ciptamulya
Benarkah keberadaan Nyi Roro Kidul diulas dalam AlQuran?
Mengenal 6 bangunan tertua di Sukabumi, megah dan berkarakter
6 di Sukabumi, ini daftar event unggulan sepanjang Juli 2026 bakal ramaikan Jawa Barat

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Profil Zahran dan Salma, wakil Kota Sukabumi di Grand Final Pasanggiri Moka Jawa Barat 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:42 WIB

Memahami batik dan Lokatmala Sukabumi dalam perspektif Gen Z

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:20 WIB

Mitos dan cerita menyedihkan di balik keindahan Situ Batu Karut Sukabumi

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:01 WIB

Memahami harmonisasi budaya di Chinatown Sukabumi

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:03 WIB

Kentring Manik Mayang Sunda: Mengenal ibu dari Raja-raja Pajajaran

Berita Terbaru

Kawasan hutan primer (hijau) dan kawasan tutupan hutan yang hilang (pink) - GNW

Lingkungan

GNW: Sukabumi kehilangan 160 ha hutan primer basah dalam 4 tahun

Minggu, 16 Agu 2026 - 02:26 WIB

Ilustrasi Prabowo Subianto - sukabumiheadline.com

Nasional

Revisi UU, Prabowo mau izinkan kewarganegaraan ganda

Sabtu, 15 Agu 2026 - 20:00 WIB