sukabumiheadline.com – Haol Masyayikh Pesantren Sunanulhuda tahun 2026 digelar selama tiga hari, sejak Rabu hingga Jumat (28-30/1/2026). Salah satu rangkaian acara yang menyedot perhatian, adalah Pameran Manuskrip Turats Ulama Pasundan.
Pameran tersebut menjadi unjuk manuskrip turats ulama Pasundan pertama di Jawa Barat. Pameran menampilkan lebih dari 500 karya turats dari berbagai disiplin keilmuan.
Pameran Manuskrip Turats Ulama Pasundan ini menjadi bagian penting dari Haol Masyayikh Sunanulhuda 2026, sekaligus penegasan peran pesantren sebagai penjaga sanad keilmuan, pusat peradaban Islam Nusantara, dan ruang pewarisan nilai-nilai keulamaan lintas generasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berita Terkait: Mengenal KH Muhammad Ridwanullah, ulama Sukabumi penafsir kitab Alfiyah Ibnu Malik
Karya-karya itu disajikan dalam bentuk manuskrip asli, salinan manuskrip, serta kitab yang ditulis ulang dari karya tangan para masyayikh ulama Pasundan.
Seluruh rangkaian pameran dipusatkan di lingkungan Pondok Pesantren Sunanulhuda, dengan tata pamer yang terbagi ke dalam empat ruangan utama.
Ruangan pertama merupakan ruang pembuka pameran yang menghadirkan wajah para Ulama Pasundan, denah pameran, pohon ilmu, serta instalasi seni yang menggambarkan perjalanan dan kesinambungan tradisi keilmuan ulama Nusantara.
Ruangan kedua dan ketiga secara khusus menampilkan karya-karya turats ulama Pasundan, sementara ruangan keempat menyajikan warisan peninggalan Masyayikh Sunanulhuda. Di antaranya foto para masyayikh seperti Mama KH Uci Sanusi, dan Buya KH Dadun Sanusi.
Berita Terkait: Hikmah puasa dalam manuskrip tua karya ulama Sunda jadi materi kajian di Jerman
Kemudian, terdapat karya KH Eman Sulaeman, dan KH Encep Solahuddin Al-Ayubi, serta sejumlah warisan intelektual berupa surban, kacamata, kitab turats karya KH Eman Sulaeman, Mama KH Uci Sanusi, dan Buya KH Dadun Sanusi, sanad keilmuan Buya KH Dadun Sanusi, serta biografi para masyayikh.
Sejumlah manuskrip kitab penting turut dipamerkan, di antaranya Hidayatul Mustafid, Safinah an-Naja, Tadzkiratul ‘Awam, Sabilul Akhyar, Maslakul Hal, dan Miftahul Muhtaj.
Baca Juga: Masa muda dan silsilah keluarga ulama asal Sukabumi keturunan menak Sunda, KH Dadun Abdulqohhar

Pameran ini juga menghadirkan karya-karya KH Eman Sulaeman, termasuk terjemah Al-Fatihah dan Al-Baqarah yang ditulis dalam aksara Arab Pegon, yang menunjukkan kekhasan tradisi pesantren Pasundan dalam mentransmisikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Selain itu, turut ditampilkan Miftahus Sa‘adah karya KH Ilyas Tafsiri dalam tulisan Arab Pegon, serta Kitab Mantiq karya Ahmad Syatibi yang ditulis dalam aksara Arab dan Pegon.
Keberagaman karya tersebut mencerminkan keluasan disiplin keilmuan para ulama Pasundan, mulai dari fikih, akidah, hingga logika keislaman ini diapresiasi oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI, KH Basnang Said, sebagai gagasan besar dari kreativitas santri dan generasi muda pesantren.
“Ini merupakan sebuah gagasan yang luar biasa dari anak-anak muda, para santri, yang berupaya menghimpun dan memamerkan karya-karya para ulama. Inisiatif seperti ini harus terus kita pelihara, karena sesungguhnya inilah paku-paku penyangga Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: KH Ahmad Sanusi: Mengingat 5 fase hidup ulama pejuang dari Sukabumi
KH Basnang menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan karya-karya ulama Nusantara, khususnya ulama Pasundan, sebagai akar keberislaman masyarakat Indonesia.
“Karya-karya ulama Nusantara. Khususnya ulama Pasundan, harus senantiasa dijaga dan dikembangkan. Inilah asal-muasal keberislaman kita. Islam memang lahir di Timur Tengah, tetapi praktik Islam di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri, khas Nusantara,” jelasnya.
Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Agama RI untuk terus mendorong dan mendukung agenda-agenda pelestarian khazanah keilmuan pesantren.
“Sudah menjadi kewajiban Kementerian Agama untuk terus mendorong dan mendukung proses-proses seperti yang dilakukan saat ini. Kepada para santri dan santriwati yang telah menginisiasi kegiatan ini, teruslah menghidupkan agenda-agenda seperti ini,” jelasnya.
“Insyaallah, Kementerian Agama akan memberikan dukungan ke depannya,” pungkasnya.
Baca Juga: Profil ulama Sunda Ustadz Adi Hidayat: Kehidupan pribadi, karya dan kontroversi
Pengertian Haul Masyayikh
Haul atau Haol Masyayikh adalah tradisi peringatan tahunan wafatnya para guru besar, ulama, atau kyai (masyayikh), yang lazim diperingati di pondok pesantren Indonesia. Acara ini bertujuan mendoakan almarhum, meneladani akhlak dan ajaran mereka, serta mencari keberkahan (tabarrukan). Biasanya diisi dengan tahlil, ziarah, kirim doa, dan pengajian umum.
Poin penting Haul Masyayikh
- Tujuan Utama: Selain mendoakan, haul masyayikh bertujuan untuk tabarrukan (mencari keberkahan) agar mendapatkan syafaat dan mengenang jasa-jasa para alim ulama dalam menyebarkan ilmu.
- Waktu & Tempat: Umumnya dilakukan setiap tahun berdasarkan kalender Hijriyah. Contohnya, haul ke-82 Masyayikh Al-Khoziny pada 28 Rajab 1447 H atau Haul ke-76 di Ponpes Nurul Jadid pada 26 Rajab.
- Nilai Tradisi: Merupakan bentuk kesetiaan santri dan alumni kepada guru (khidmah), menjaga kesinambungan ilmu, serta memperkuat ikatan kekeluargaan pesantren.
- Contoh: Peringatan haul yang rutin diadakan seperti di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, dan keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Haul masyayikh menjadi momen spiritual dan kultural yang penting bagi warga Nahdliyin untuk menjaga keberkahan hidup melalui penghormatan kepada guru.









