Peninggggalan Belanda, sejarah dan desain interior Gereja HKBP Sukabumi

- Redaksi

Minggu, 7 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa

Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa

sukabumiheadline.com – Sukabumi merupakan salah satu kota yang memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Dari mulai bangunan Balai Kota Sukabumi, sekolah-sekolah hingga Museum Pegadaian.

Salah satu bangunan heritage peninggalan Belanda, adalah Gereja HKBP Sektor Sukabumi. Keberadaan gereja ini terbilang minim diekspos. Padahal, siapa sangka ternyata bangunan dengan desain arsitektur ala Eropa ini merupakan salah satu peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang mendiami kota ini semenjak abad ke-17 hingga 19.

Baca Juga:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa
Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi – Istimewa

Sejarah awal Kota Sukabumi 

Nama Sukabumi pertama kali diperkenalkan pada 13 Januari 1815 ke dunia luar oleh Administratur Perkebunan bernama Andries Christoffel Johannes de Wilde, yang juga seorang Preanger Planter (kopi dan teh) berkebangsaan Belanda, yang bertempat tinggal di Bandung.

Namun, sebagian berpendapat bahwa nama Sukabumi berasal dari bahasa Sunda, yaitu Suka-Bumen, yang bermakna kawasan yang memiliki udara sejuk dan nyaman untuk menetap.

Sebelum berstatus kota, Sukabumi hanyalah dusun kecil bernama “Goenoeng Parang” (sekarang Kelurahan Gunungparang), lalu berkembang menjadi beberapa desa seperti Cikole atau Parungseah.

Baca Juga:

Lalu pada 1 April 1914, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Sukabumi sebagai “Burgerlijk Bestuur” dengan status “Gemeente” (Kotapraja) dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan yang berada di daerah Sukabumi bagian selatan yang harus mendapatkan pengurusan dan pelayanan yang istimewa.

Bukan tanpa alasan pejabat dan pengusaha Belanda betah di Kota Mochi, hal itu mengingat posisi Sukabumi yang strategis karena menjadi tempat transit yang menghubungkan Batavia dengan Bandung.

Selanjutnya pada 1 Mei 1926, Mr. George François Rambonnet diangkat menjadi “Burgemeester” hingga 1933. Baca lengkap: Daftar Lengkap Wali Kota Sukabumi Sejak Zaman Hindia Belanda, Hanya Ada Satu Wanita

Baca Juga :  Sejarah Gereja Sidang Kristus dan Simbol Toleransi di Kota Sukabumi

Pada masa inilah dibangun stasiun kereta api, masjid, gereja, pembangkit listrik Ubrug, centrale (Gardu Induk) Cipoho, Sekolah Polisi Gubermen yang berdekatan dengan lembaga pendidikan Islam tradisionil, Pondok Pesantren (Ponpes) Syamsul ‘Ulum Gunung Puyuh yang didirikan oleh KH Ahmad Sanusi pada 1933. Baca lengkap: Semangat Melawan Penjajahan dan Perjalanan Panjang Syamsul ‘Ulum Sukabumi

Rencana pembangunan Sukabumi yang sudah dimulai pada abad 19, salah satunya ditandai dengan beroperasinya Stasiun KA pada 1882, disusul kemudian pembangunan hunian warga Belanda di Cikole, hunian Chinese di Pejagalan, pembangunan tempat ibadah Kristen Protestan dan Katholik, Muslim serta Tionghoa.

Baca Juga:

Gereja HKBP Sektor Sukabumi

Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa
Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi – Istimewa

Kompleks Gereja HKBP Resort Sukabumi berada di Jl. Sudirman No 12/19, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pada masa kolonial Belanda kompleks ini disebut Het SOG Kapelletje dengan alamat Tjipelangweg nummer 6.

Gereja ini pada mulanya dibangun untuk keperluan asrama Soekaboemisch Opvoedings Gesticht (SOG), semacam sekolah berasrama khusus untuk keluarga pekerja perkebunan. Bangunan yang dikelola oleh Yayasan Protestan ini juga kerap disebut sebagai panti asuhan karena diperuntukkan kepada para Belanda yang dipekerjakan di perkebunan yang kesulitan untuk mencari kosan untuk anak-anaknya yang bersekolah di Sukabumi.

Hingga kini, sebagian warga Sukabumi masih menyebut tempat ini sebagai kapel atau Gereja Kapel yang sekarang menjadi HKBP. Kapel adalah istilah untuk bangunan yang dipergunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang kristen.

Menurut catatan, gereja ini pernah mengalami dua kali renovasi, yakni pada 1925-1927 oleh arsitek W. Selle, dan renovasi kedua pada 1940 oleh arsitek Reyerse.

Baca Juga :  Pastor Filipina Mengaku 'Utusan Tuhan' Terlibat Kasus Perdagangan Seks

Kemudian, di masa kemerdekaan, gereja kecil ini berubah nama menjadi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) atau populer disebut Gereja Kristen Batak Protestan.

Hal itu bisa dilihat pada prasasti, tertulis gereja tersebut diresmikan pada Ahad, 5 Oktober 2003 oleh Pdt. STP. Siahaan, STH., MBA.. selaku Praeses HKBP Distrik VIII Jawa – Kalimantan.

Interior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa
Interior Gereja HKBP Kota Sukabumi – Istimewa

Interior gereja yang bergaya Calvinian masih dipertahankan hingga kini. Dari mulai dari bangku panjang berbanjar terbuat dari kayu jati, lampu gantung di langit-langit yang menjulang tinggi, mimbar pendeta, kotak perpuluhan, bahkan alat musik orgel sangat kuno yang menggunakan pipa-pipa angin masih tergeletak disimpan di balkon bagian depan yang menghadap ke arah mimbar.

Kursi antik Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa
Kursi antik Gereja HKBP Kota Sukabumi – Istimewa

Baca Juga:

Namun demikian, sejumlah bagian sudah mengalami perubahan, antara lain pada bagian ubin yang telah diganti keramik dan di bagian depan eksterior gereja.

Atap sirap dari kayu besi Kalimantan tetap dipertahankan termasuk penambahan ruang multifungsi di sebelah kanan gereja yang bisa digunakan untuk Sekolah Minggu.

Selain itu, di bagian belakang gereja terdapat rumah dinas pendeta yang ditugaskan Pengurus Pusat HKBP di Pearaja Tarutung, Sumatera Utara. Keberadaan rumah dinas tersebut, pada awalnya berada disebelah kiri gereja.

Baca Juga:

Eksterior Gereja HKBP Kota Sukabumi - Istimewa
Bangunan multifungsi Gereja HKBP Kota Sukabumi – Istimewa

Selain itu, ada penambahan ruang multi fungsi di sebelah kanan gereja, saya pikir itu memang kebutuhan yang bisa digunakan untuk sekolah minggu dan terlebih untuk menampung kelebihan jemaat di bagian utama gereja.

Itulah gereja antik HKBP Sukabumi yang adalah  gereja bersejarah peninggalan Belanda dan sangat layak untuk kita kunjungi dalam rangka beribadah maupun berwisata sejarah.


Dilarang republikasi artikel kategori Headline dan Rubrik Headline tanpa seizin Redaksi sukabumiheadline.com

Berita Terkait

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat
Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan
Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi
Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya
Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi
Hasil rukyatul hilal di Sukabumi, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Mengenang kiprah Wisjnu Mouradhy, jurnalis dan tokoh film nasional asal Sukabumi era 1940
Masih binggung? Jangan abaikan aturan qadha dan fidyah bagi yang batal puasa Ramadhan ini

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 00:01 WIB

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat

Selasa, 1 April 2025 - 20:44 WIB

Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan

Senin, 31 Maret 2025 - 21:56 WIB

Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi

Senin, 31 Maret 2025 - 10:00 WIB

Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya

Minggu, 30 Maret 2025 - 00:01 WIB

Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi

Berita Terbaru