sukabumiheadline.com l Gempa bumi dengan magnitudo 4,0 yang terjadi pada Jumat (8/12/2023) dini hari lalu menyebabkan setidaknya 144 rumah rusak di wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, rusak.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (9/12/2023), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, gempa bumi Jumat lalu itu berpusat pada kedalaman lima kilometer di sekira 25 kilometer arah barat daya Kota Bogor.
Berita Terkait: Ratusan Rumah di Sukabumi Rusak, Gempa Bumi Magnitudo 4,0
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Sebanyak 74 Rumah di Kabandungan Rusak
Di wilayah Kabupaten Sukabumi, gempa bumi menyebabkan sembilan rumah rusak berat, 28 rumah rusak sedang, dan 37 rumah rusak ringan di Kampung Pasirmasigit, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Gempa berdampak pada 27 keluarga di kampung itu.
Gempa bumi juga menyebabkan satu rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan 14 rumah rusak ringan serta berdampak pada 16 keluarga yang terdiri atas 56 jiwa di Desa Mekarjaya.
Selain itu, gempa bumi menyebabkan 29 rumah rusak ringan di Desa Cihamerang, satu rumah rusak ringan di Desa Tugu Bandung, serta menyebabkan satu rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan tiga rumah rusak ringan di Desa Kabandungan.
“Hingga saat ini bantuan tanggap darurat sangat dibutuhkan, termasuk terpal dan tenda dome keluarga. Pihak BPBD mengkonfirmasi satu tenda dome sudah terpasang dari KSB Kabandungan,” kata Abdul dikutip sukabumiheadline.com, Ahad (10/12/2023).
2. Gempa Tektonik Lokal di Gunung Salak Meningkat
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Salak yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Kepala PVMBG Hendra Gunawan mengatakan gempa bumi dengan magnitudo 4,0 yang mengguncang barat daya Kota Bogor, pada Jumat (8/12) dini hari, menyebabkan gempa tektonik lokal Gunung Salak mengalami peningkatan.
“Gempa tektonik lokal mengalami peningkatan jumlah gempa di atas empat kali kejadian per hari,” ujarnya dalam laporan yang diterima di Jakarta, Senin.
PVMBG mencatat ada delapan kejadian gempa tektonik lokal di Gunung Salak pada 6 Desember 2023, lalu tercatat sebanyak tujuh kali kejadian pada 7 Desember 2023, dan tujuh kali kejadian pada 8 Desember 2023.
3. Gempa Vulkanik Tidak Terekam
Berdasarkan pengamatan kegempaan periode 1-9 Desember 2023, PVMBG mengungkapkan Gunung Salak masih didominasi gempa tektonik jauh yang terekam sebanyak 31 kali kejadian dan gempa tektonik lokal sebanyak 22 kali kejadian.
Sedangkan, gempa vulkanik sebagai indikasi aktivitas Gunung Salak tidak terekam.
“Meskipun dari kegempaan cenderung normal, namun tetap perlu diwaspadai terjadinya erupsi freatik berupa semburan lumpur atau erupsi uap air yang dapat terjadi tiba-tiba pasca terjadinya kenaikan gempa tektonik lokal beberapa hari lalu,” kata Hendra.
4. Konsentrasi Gas Berbahaya Bagi Kehidupan
Lebih lanjut dia mengingatkan bahwa musim hujan membuat kelembaban udara di sekitar kawah menjadi lebih tinggi, sehingga gas-gas vulkanik akan sulit terurai. Kondisi itu dapat menyebabkan konsentrasi gas-gasnya meningkat dan bisa membahayakan kehidupan.
Hendra menyatakan tingkat aktivitas Gunung api Salak tidak mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan tetap berada pada status level I atau normal.
Dalam tingkat aktivitas level I tersebut, masyarakat direkomendasikan untuk tidak memasuki kawah dalam radius 500 meter dari kawah-kawah yang aktif di Gunung Salak (Kawah Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah Paeh) terutama saat musim hujan untuk menghindari terjadinya akumulasi gas yang berbahaya.
5. Gunung Salak Pernah Dua Kali Meletus
Meletusnya Gunung Semeru dan Merapi seolah sinyal peringatan dini kepada warga Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat tentang bahaya yang setiap saat selalu mengintai, termasuk kemungkinan Gunung Salak meletus.
Seperti diketahui, Gunung Salak berada di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kecamatan Cidahu dan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.
Gunung Salak yang berada pada 2.211 mdpl atau meter di atas permukaan laut ini merupakan salah satu gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Bahkan menurut catatan, gunung ini pernah dua kali meletus. Baca lengkap: Dua Kali Meletus dan Berulangkali Erupsi, Mengenal Gunung Salak dari Catatan Sejarah