sukabumiheadline.com I Tumbuhan bambu banyak ditemui di kampung-kampung di Sukabumi, ada banyak pohon bambu tumbuh tersebar dengan subur, seperti di Kampung Cibiru, Desa/Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, yang dikenal memiliki jenis pohon bambu berkualitas baik.
Di Cibiru, tumbuhan bambu tidak sekadar menjadi penahan tanah agar tidak longsor, tapi sudah menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama bagi warganya, sekaligus merawat tradisi turun temurun dalam memproduksi aneka kerajinan. Meskipun hanya berbahan baku bambu, tetapi membuat aneka kerajinan diperlukan keahlian khusus agar memiliki nilai jual tinggi.
Dapur Bambu, adalah sentra industri tempat berkumpul dan berkreasi para perajin anyaman bambu, dengan spesialisasi memproduksi bilik bambu hitam. Seperti usaha berbahan baku bambu lainnya, para perajin bilik ini juga mewarisi keahliannya dalam menganyam bilik dari orang tua mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jadi ini usaha milik orang tua saya dulu, mereka memang perajin bilik bambu sejak puluhan tahun silam dan keahlian mereka diturunkan ke anak-anaknya, termasuk saya. Pada tahun 2006 saya meneruskan usaha ini, dengan merangkul tetangga dan saudara di sini untuk membantu memproduksi bilik bambu,” ungkap Nurdin, pemilik Dapur Bambu, kepada sukabumiheadline.com. Rabu (29/12/2021).

Diakuinya, secara perlahan tapi pasti usaha turun temurun ini diberi nama Dapur Bambu. Berkat kesungguhannya, usahanya tersebut terus berkembang, sehingga hasil produknya sudah merambah ke pelbagai kota besar di Indonesia.

“Alhamdulillah konsumennya dari beberapa kota di Indonesia, seperti Kediri, Medan, Bali, NTT, Pati, Bandung, dan Jakarta. Itu kota-kota yang paling sering pesan, hampir seluruh Indonesia pokoknya,” papar pria berusia 35 tahun itu.
Nurdin menambahkan, bahan dasar bambu hitam dipilih karena memang kualitasnya yang bagus dan tahan lama, serta untuk memberikan sentuhan motif berbeda. “Kualitasnya bagus, kuat, tahan lama juga. Selain itu, untuk memberikan motif warna agar tidak monoton,” katanya.
Untuk pemasaran kreasi biliknya, Dapur Bambu sudah dipasarkan melalui media sosial yang dikelola dengan serius. Selain itu, Dapur Bambu juga melakukan direct selling kepada para konsumen, dan memasoknya ke toko bahan bangunan.
Kendala yang Dihadapi
Meskipun sudah berjalan bertahun-tahun, bukan berarti usaha ini tanpa kendala. Nurdin memaparkan, kendala yang dihadapi Dapur Bambu, adalah berkurangnya peminat bilik bambu, seiring trend penggunaan material bangunan yang terus berkembang baik jenis maupun modelnya.
“Waktu itu sempat punya pikiran usaha ini akan gulung tikar, tapi keyakinan dan dorongan dari keluarga, saudara dan para perajin disini, alhamdulillah sampai sekarang masih bisa berjalan usahanya. Sempat berpikir, saat ini banyak jenis bahan bangunan yang lebih praktis saat digunakan, tapi kan memang kembali lagi ke selera masing-masing. Jadi intinya harus yakin,” tegasnya.
Berbicara modal, Nurdin mengaku mengeluarkan modal Rp3 juta setiap kali memproduksi bilik bambu. Modal sebesar itu hanya untuk pembelian bahan baku bambu saja. Dari modal tersebut, yang ia putarkan terus, saat ini omsetnya sekira Rp20 juta setiap bulan.
“Modalnya untuk beli bambu Rp3 juta, tapi kadang lebih. Sekarang alhamdulillah, untuk pendapatan perbulannya sekira Rp20 juta. Berkat keyakinan dan dorongan orang-orang di sini meyakinkan saya agar tidak menutup usaha ini,” pungkasnya.