Wakil Menteri asal Sukabumi ini sebut Gubernur Jawa Barat bikin kebijakan makruh

- Redaksi

Minggu, 20 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Biodata dan karya Fajar Riza Ul Haq - Istimewa

Biodata dan karya Fajar Riza Ul Haq - Istimewa

sukabumiheadline.com – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengkritisi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait kebijakan rombongan belajar (rombel) 50 siswa.

Kebijakan tersebut, seperti diketahui, ramai menuai kritik karena dinilai mengancam eksistensi sekolah swasta. Tak ayal, kebijakan tersebut menuai kritik dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam yang juga bergerak di bidang pendidikan.

Berita Terkait: Fajar Riza Ul Haq dari Sukabumi jadi Wakil Menteri Pendidikan, daftar lengkap Wamen Kabinet Merah Putih

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk itu, Fajar Riza Ul Haq yang juga merupakan kader Muhammadiyah menilai kebijakan tersebut sebagai makruh. Karenanya, ia menyebutnya sebagai solusi jangka pendek.

“Pertama, bukan solusi jangka panjang,” kata Wamendikdasmen asal Sukabumi tersebut, dikutip sukabumiheadline.com, Ahad (20/7/2025). Baca selengkapnya: Biodata dan karya Fajar Riza Ul Haq, dari Sukabumi menuju Wakil Menteri era Prabowo

“Yang kedua, kebijakan tersebut makruh. Tahu makruh? Makruh itu haram sih tidak, tapi sebaiknya tidak dilakukan,” lanjut pria kelahiran Sukabumi, 1 Februari 1979 tersebut.

Baca Juga :  Selain siswa nakal, Pemkab Cianjur akan kirim pelajar yang melambai

Menurut Fajar, untuk mengurangi ATS (Angka Tinggal Sekolah) di Jawa Barat tidak dengan dengan kebijakan tersebut, namun dengan cara melibatkan sekolah-sekolah swasta.

“Ketiga, untuk mengurangi ATS di Jawa Barat, sebaiknya tidak dengan mengambil kebijakan tersebut, tapi dengan melibatkan sekolah-sekolah swasta untuk mengurangi ATS di Jawa Barat secara jangka panjang dan berkelanjutan,” kata lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat itu.

Baca Juga: Fajar Riza Ul Haq jadi Wakil Menteri Pendidikan, pria asal Sukabumi itu dapat gaji segini

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan juga mengaku kurang setuju dengan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat yang menambah rombel di sekolah negeri menjadi 50 siswa per kelas.

Tak hanya mengganggu efektivitas proses belajar pada siswa, kebijakan tersebut juga akan berdampak pada sekolah swasta di Jawa Barat.

“Iya memang akan berpengaruh terhadap eksistensi sekolah swasta,” kata Iwan dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (17/7/225) lalu.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi ke Asep Japar: Hari ini saya kedatangan Bupati Sukabumi terpilih

Iwan menuturkan, sekolah swasta selama ini hanya berharap dari limpahan siswa yang tidak diterima di sekolah negeri.

“Mereka (sekolah swasta) pastinya hanya akan menerima limpahan murid dari yang tidak diterima di sekolah negeri dengan jumlah yang sedikit. Sekolah swasta kan sangat berharap dapat limpahan murid dari yang tidak bisa masuk sekolah negeri,” ucapnya.

Alih-alih menambah jumlah siswa untuk mencegah angka putus sekolah, Iwan menilai lebih baik membangun ruang kelas baru dengan maksimal rombel 36 hingga 37 siswa per kelas, atau membangun unit sekolah baru.

“Lebih baik menambah ruang kelas baru yang maksimal diisi sekitar 35 sampai 36 atau 37 siswa atau unit sekolah baru itu lebih baik,” kata Iwan.

Selain itu, dia juga menyarankan Pemprov Jawa Barat untuk menyiapkan beasiswa pendidikan bagi siswa yang kurang mampu dan tidak diterima di sekolah negeri. Menurutnya, langkah itu dapat menjadi win-win solution dari persoalan tersebut.

Berita Terkait

Beasiswa LPDP 2026 dibuka! Skema Social, Humanities, Art for People, Religious Studies, Economics
KDM akan dirikan Sekolah Maung: Jurusan, kuota dan lokasi SMK Manusia Unggul
Wajib dipelajari! Ini 7 bahasa asing dibutuhkan di masa depan dan penjelasannya
Pelajar Sukabumi, simak yuk kalender akademik 2026 ini
Daftar jurusan kuliah paling dibutuhkan pada 2030
Dunia kampus: Mengenal pengertian dan perbedaan rektor dan lektor
KDM minta sekolah di Jawa Barat terapkan satu hari belajar di luar kelas
Sahara asal Parakasalak Sukabumi, mahasiswi IPB University termuda baru berusia 15 tahun

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 13:38 WIB

Beasiswa LPDP 2026 dibuka! Skema Social, Humanities, Art for People, Religious Studies, Economics

Selasa, 13 Januari 2026 - 02:51 WIB

KDM akan dirikan Sekolah Maung: Jurusan, kuota dan lokasi SMK Manusia Unggul

Selasa, 6 Januari 2026 - 21:42 WIB

Wajib dipelajari! Ini 7 bahasa asing dibutuhkan di masa depan dan penjelasannya

Kamis, 1 Januari 2026 - 19:44 WIB

Pelajar Sukabumi, simak yuk kalender akademik 2026 ini

Kamis, 1 Januari 2026 - 07:38 WIB

Daftar jurusan kuliah paling dibutuhkan pada 2030

Berita Terbaru

Kesehatan

Sudahi hubungan toxic! Demi keselamatan mentalmu

Selasa, 27 Jan 2026 - 23:39 WIB

Dua perempuan LGBT - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Internasional

Setelah LGBT Rusia ditetapkan sebagai gerakan teroris dan ekstremis

Selasa, 27 Jan 2026 - 21:00 WIB

Sayuran selada, brokoli, wortel, timun, kembang kol, sawi, kangkung, dan paprika - sukabumiheadline.com

Kesehatan

Diet sehat dengan sayuran, apa saja?

Selasa, 27 Jan 2026 - 20:19 WIB