sukabumiheadline.com – Warga di kawasan pantai Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, wajib tahu dan waspada bahwa Pulau Jawa dikepung oleh zona megathrust, yang semuanya berada di selatan Jawa. Zona megathrust ini perlu mendapat perhatian khusus karena menyimpan energi besar dan dapat memicu gempa dahsyat dan tsunami.
Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa dalam sebuah diskusi daring yang tayang di kanal YouTube BRIN, Jumat (30/8/2024) lalu.
Merujuk Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 seperti pada gambar di bawah, setidaknya ada empat segmen megathrust di selatan Pulau Jawa, yakni Megathrust Selat Sunda-Banten, Megathrust Jawa Barat, Megathrust Jateng-Jatim, dan Megathrust Bali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Rahma, bagian selatan Jawa menjadi salah satu zona yang tidak terlalu aktif dalam hal kegempaan. Menurutnya hal ini menjadikannya sebagai zona seismic gap.
Berita Terkait: Sukabumi, Pangandaran, Tasikmalaya, Garut dan Cianjur berpotensi terdampak megathrust
Seismic gap merupakan zona sumber gempa potensial, akan tetapi belum terjadi gempa besar dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir. Zona ini diduga sedang mengalami proses akumulasi medan tegangan/stress kerak Bumi.
“Seismic gap itu kami temukannya di daerah Enggano ke selatan, daerah Mentawai, daerah Selat Sunda, sampai selatan Jawa, sampai ke Bali, Lombok. Makanya mungkin ini mendapat highlight dan peringatan yang cukup kuat dari beberapa pihak,” kata Rahma dikutip sukabumiheadline.com, Senin (21/10/2024).
Baca Juga: Bukan isapan jempol, megathrust dan tsunami pernah 10 kali terjadi di pantai Selatan Jawa
Mengutip laman resmi BRIN, berdasarkan peta gempa 2017 yang sedang diperbarui dan diproyeksikan rampung pada akhir 2024, lokasi megathrust di Indonesia umumnya terletak di sisi barat Sumatera hingga selatan Jawa.
“Bidang megathrust ini seukuran Pulau Jawa. Bayangkan jika bergerak 20 meter secara serentak, goncangannya akan sangat besar,” jelas dia.
Dia mengatakan di selatan Jawa megathrust terbentang sepanjang 1.000 km dengan bidang kontak selebar 200 km, yang menghujam hingga kedalaman sekitar 60 km, dan terus menerus mengakumulasi energi yang siap dilepaskan. Baca selengkapnya: Peneliti BRIN: Lempeng Megathrust seukuran Pulau Jawa, bayangkan jika bergerak 20 meter
“Di bawah Pulau Jawa, terdapat lempeng samudera Indo-Australia yang menghujam ke bawah selatan Jawa, sedangkan di atasnya ada lempeng kontinental. Pertemuan antara lempeng samudera dan lempeng kontinental inilah yang disebut bidang megathrust,” jelas Rahma.
Baca Juga: Waspada Palabuhanratu Sukabumi, ini 5 wilayah terdampak gempa megathrust prediksi BMKG
Siklus 400 tahunan
Fakta lainnya yang wajib diketahui oleh warga Sukabumi, gempa akibat energi besar yang dilepaskan megathrust di selatan Jawa diperkirakan bisa terjadi setiap 400 tahun sekali dengan Magnitudo 8,8.
Menurut epala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, hal tersebut berdasarkan perhitungan sejumlah peneliti menggunakan Global Positioning System (GPS) pada 2022.
“[Kami] mencoba menggunakan GPS, Bumi kita bergerak dan pergerakannya itu bisa dihitung dari GPS. Pergerakannya ini kemudian kita estimasi sampai maksimalnya itu dia bisa menahan itu kekuatan gempanya berapa,” ujar dia saat itu.
“Sampai untuk Selatan Jawa hitungan periode ulang itu ada di kisaran 400 tahunan. Satu segmen megathrust dengan kekuatan 8,8,” imbuhnya.
Megathrust merupakan lajur zona pertemuan antar lempeng tektonik (subduksi) yang kedalamannya terbilang dangkal, yakni kurang dari 50 km.
Baca juga:
Selatan Jawa memiliki dua segmen megathrust, yakni segmen selatan Jawa bagian barat dan segmen selatan Jawa bagian timur.
“Kita punya dua segmen, segmen selatan Jawa bagian barat dan selatan Jawa bagian timur, kalau dia pecah satu-satu yang barat itu M 8,8, yang timur itu M 8,9, kalau pecah langsung itu sekitar M 9,1,” ungkap Abdul.
Meski demikian, informasi yang kurang mencukupi membuat Abdul tidak dapat menarik kesimpulan kapan gempa megathrust tersebut akan terjadi. Namun, catatan terakhir menunjukkan gempa megathrust selatan Jawa terakhir kali terjadi pada 1818.
“Kita masih belum bisa menentukan ini kira-kira berapa puluh tahun lagi dia akan perulangan dengan kekuatan 8,8 sampai 9 ini. Jadi yang harus menjadi tantangan kita di sini untuk bisa menggali lebih dalam lagi untuk mengetahui di belakang itu historisnya seperti apa,” tutur pria yang akrab disapa Aam ini.