17 Februari bakal ada fenomena gerhana matahari cincin

- Redaksi

Sabtu, 14 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana matahari cincin - Ilustrasi sukabumiheadline.com/AI

Gerhana matahari cincin - Ilustrasi sukabumiheadline.com/AI

sukabumiheadline.com – Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Dalam peristiwa langka ini, Matahari tampak seperti dilingkari “cincin api” yang memukau. Lantas, apakah fenomena ini bisa dilihat dari Indonesia, dan di mana saja lokasi terbaik untuk menyaksikannya?

Pada 17 Februari 2026, Bumi akan menyaksikan gerhana matahari pertama di tahun tersebut. Fenomena ini berupa gerhana matahari cincin (annular eclipse), yang jalurnya melintasi wilayah Antartika dan Samudra Selatan.

Waktu terjadinya gerhana

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 akan berlangsung selama beberapa jam. Jika dilihat dalam waktu internasional (UTC), prosesnya dimulai sejak pagi hingga sore hari.

Gerhana mulai terlihat secara parsial pada pukul 09.56 UTC, ketika Bulan perlahan menutupi Matahari. Proses ini kemudian mencapai puncaknya pada pukul 12.12 UTC, saat Matahari tampak seperti dikelilingi cincin cahaya. Setelah itu, Bulan perlahan menjauh dan gerhana parsial berakhir pada pukul 14.27 UTC.

Secara keseluruhan, peristiwa ini berlangsung selama 271 menit. Pada puncaknya, Matahari akan tertutup Bulan hingga sekitar 96 persen, dengan fase “cincin api” berlangsung sekitar 2 menit 20 detik.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Cincin awal Oktober 2024 dan 4 fenomena luar angkasa, Saturnus muncul

Gerhana ini terjadi sekitar 6,8 hari setelah Bulan mencapai apogee, titik terjauhnya dari Bumi. Saat puncak gerhana, Matahari berada di arah konstelasi Aquarius. Gerhana ini memiliki magnitudo 0,9630 dan termasuk dalam Saros 121, yakni gerhana ke-61 dari total 71 gerhana dalam rangkaian tersebut.

Gerhana matahari cincin bukan gerhana total. Matahari tidak pernah sepenuhnya tertutup, sehingga pengamatan tanpa pelindung mata yang sesuai tetap berbahaya sepanjang gerhana berlangsung.

Meski tidak dapat disaksikan dari Indonesia, gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 tetap menjadi peristiwa astronomi penting. Fenomena ini menyoroti keteraturan gerak Bulan dan Matahari, sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua peristiwa langit spektakuler dapat terlihat dari setiap sudut Bumi.

Intinya, gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 akan terlihat dari Antartika dan wilayah selatan Bumi, sementara Indonesia tidak termasuk dalam area pengamatan.

Bisa dilihat di mana saja?

Sayangnya, dari Indonesia gerhana ini tidak bisa disaksikan secara langsung. Meski begitu, peristiwa ini tetap menarik untuk dibahas karena keunikannya, sekaligus memberi gambaran tentang bagaimana dinamika orbit Bulan dan Bumi dapat menghasilkan fenomena langit yang berbeda-beda.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Cincin awal Oktober 2024 dan 4 fenomena luar angkasa, Saturnus muncul

Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada terlalu jauh dari Bumi untuk menutupi Matahari sepenuhnya. Akibatnya, piringan Matahari masih tampak sebagai lingkaran cahaya terang yang mengelilingi Bulan, menciptakan efek visual yang dikenal sebagai “cincin api”.

Gerhana cincin pada 17 Februari 2026 sebagian besar hanya dapat diamati dari wilayah paling selatan Bumi. Jalur gerhana cincin akan melintasi bagian terpencil Antartika dan perairan selatan Samudra Selatan.

Sementara itu, gerhana parsial akan terlihat dari: ujung selatan Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, sebagian Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia, serta sebagian besar wilayah Antartika.

Fenomena ini terutama akan diamati dari stasiun-stasiun penelitian ilmiah di Antartika, seperti Stasiun Penelitian Concordia (Prancis–Italia) dan Stasiun Mirny milik Rusia. Stasiun McMurdo, pangkalan utama Amerika Serikat di Antartika, akan menyaksikan gerhana parsial yang dalam, dengan Matahari tertutup Bulan hingga sekitar 86 persen.

Berita Terkait

Prakiraan cuaca Sukabumi 8-15 Februari, berawan hingga hujan disertai petir
Hanya 0-155 MDPL: Kecamatan dengan daratan terendah di Sukabumi, bukan Palabuhanratu
Mengapa MDPL? Sejak kapan? Siapa penggagas pengukuran ketinggian di atas permukaan laut?
Prakiraan cuaca Sukabumi 1-7 Februari 2026 menurut BMKG dan AccuWeather
Prakiraan cuaca Sukabumi 29-31 Januari dan rekomendasi BMKG
Prakiraan cuaca Sukabumi 7 hari ke depan, dan sampai kapan musim hujan 2026?
Dari Sukabumi ke Sumbar, BRIN wanti-wanti fenomena sinkhole 3 daerah
16 manfaat sabun colek untuk tanaman, petani semakin sejahtera

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 15:00 WIB

17 Februari bakal ada fenomena gerhana matahari cincin

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:55 WIB

Prakiraan cuaca Sukabumi 8-15 Februari, berawan hingga hujan disertai petir

Kamis, 5 Februari 2026 - 00:09 WIB

Hanya 0-155 MDPL: Kecamatan dengan daratan terendah di Sukabumi, bukan Palabuhanratu

Rabu, 4 Februari 2026 - 23:26 WIB

Mengapa MDPL? Sejak kapan? Siapa penggagas pengukuran ketinggian di atas permukaan laut?

Minggu, 1 Februari 2026 - 03:04 WIB

Prakiraan cuaca Sukabumi 1-7 Februari 2026 menurut BMKG dan AccuWeather

Berita Terbaru

Gerhana matahari cincin - Ilustrasi sukabumiheadline.com/AI

Sains

17 Februari bakal ada fenomena gerhana matahari cincin

Sabtu, 14 Feb 2026 - 15:00 WIB

Ilustrasi pelajar SD sedang menanam pohon - sukabumiheadline.com

Pendidikan

KDM ingin semua pelajar di Jawa Barat cinta alam sejak dini

Sabtu, 14 Feb 2026 - 08:00 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131