22.2 C
Sukabumi
Minggu, Mei 26, 2024

Smartphone dengan Peforma Mewah, Spesifikasi Xiaomi 13T Dilengkapi Kamera Leica

sukabumiheadline.com - Xiaomi selalu menjadi incaran bagi...

Biodata Lee Da Hyeon, Bidadari Voli Korea Selatan Idola Baru Netizen Viral Joget TikTok

sukabumiheadline.com l Setelah sebelumnya ada Zehra Gunez...

Yamaha Gear Facelift Siap Meluncur, Desain Bongsor ala Skutik Maxi

sukabumiheadline.com l Yamaha kembali berencana meluncurkan skutik...

5 Dosa Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi yang Dinilai Kejam

Internasional5 Dosa Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi yang Dinilai Kejam

sukabumiheadline.com l Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, adalah sosok yang dianggap sebagai penguasa de facto negara kerajaan di Teluk Arab itu.

Pria yang dikenal dengan sebutan MbS itu dinobatkan sebagai pemimpin Arab paling berpengaruh pada 2022 versi Russia Today (RT). MBS bahkan mendapatkan reputasi internasionalnya karena memelopori gerakan liberalisasi di negaranya.

Pangeran berusia 37 tahun itu berani mengambil langkah-langkah untuk menarik beragam investasi guna membentuk ekonomi yang tidak bergantung pada minyak.

Namun demikian, MbS dinilai banyak kalangan sebagai pemimpin yang kejam. Berikut daftar kekejaman MbS dirangkum sukabumiheadline.com dari Al Jazeera, Senin (15/5/2023).

1. Terlibat dalam Perang Saudara di Yaman

Arab Saudi ikut campur dalam perang saudara di negara tetangganya, Yaman. Arab Saudi meluncurkan kampanye udara dengan menargetkan pemberontak Houthi, yang dengan cepat merebut wilayah pada 2015 silam.

Kelompok hak asasi manusia menuduh pasukan koalisi pimpinan Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) telah mengebom tanpa pandang bulu warga sipil dan rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur lainnya.

Perang yang berlangsung lama telah menewaskan puluhan ribu orang, menelantarkan jutaan lainnya, dan menyebabkan sebagian besar negara itu di ambang kelaparan.

Dalam laporannya, Time pada April 2018 lalu menyebut jika PBB menggambarkan Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Namun, MBS menyebut intervensi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, sebagai ketidaksengajaan.

“Dalam setiap operasi militer, kesalahan terjadi. Tentu saja, kesalahan apa pun yang dibuat oleh Arab Saudi atau koalisi adalah kesalahan yang tidak disengaja. Kita tidak perlu memiliki Hizbullah baru di semenanjung Arab, mengacu pada kelompok Lebanon yang didukung Iran. Ini adalah garis merah tidak hanya untuk Arab Saudi tetapi untuk seluruh dunia,” kata MbS.

2. Memenjarakan Aktivis Hak-hak Perempuan

Arab Saudi juga mengizinkan perempuan untuk mengemudi, sebuah langkah yang dilihat oleh banyak orang sebagai langkah progresif untuk hak-hak perempuan di kerajaan tersebut. Kebijakan tersebut diambil pada 2018 lalu.

MbS umumnya dipandang sebagai kekuatan utama di balik keputusan tersebut, tetapi kelompok aktivis hak asasi manusia Arab Saudilah yang pertama kali memperjuangkan hak untuk mengemudi kembali pada tahun 1990-an.

Beberapa aktivis, kebanyakan perempuan, ditangkap hanya beberapa pekan sebelum larangan resmi dicabut.

Kebijakan tersebut dikecam Human Rights Watch (HRW) yang mengatakan hal itu sebagai upaya MBS untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan menerima kritik atas kekuasaannya.

3. Menyiksa Rival Politik

MbS tidak hanya menindak tegas aktivis HAM, tetapi juga rival politik. Seperti pada 2017, di mana pasukan keamanan Saudi menangkap ratusan orang terkaya yang diduga sebagai upaya untuk memerangi korupsi di kalangan pejabat tinggi.

Ratusan orang kaya tersebut kemudian dikurung dan dianiaya secara fisik selama berminggu-minggu di hotel mewah Ritz-Carlton di Riyadh.

Dilansir New York Times, sebanyak 17 tahanan memerlukan perawatan rumah sakit setelah penganiayaan fisik, termasuk seorang yang kemudian meninggal dalam tahanan.

Kebijakan itu dituding sejumlah kalangan sebagai upaya untuk menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menimbulkan ancaman politik baginya.

4. Marak Hukuman Mati

MbS kemudian telah melembagakan beberapa reformasi sosial, termasuk membuka bioskop pertama di negara itu serta mengizinkan konser musik. Sebuah langkah yang dipuji banyak kalangan sebagai kemajuan dan lebih terbuka.

Namun dalam periode yang sama, jumlah eksekusi mati di kerajaan pun meningkat tajam. Arab Saudi, satu-satunya negara di dunia yang masih memenggal kepala sebagai bentuk eksekusi, berada di lima negara teratas untuk jumlah eksekusi yang dilakukan selama lebih dari satu dekade.

Menurut laporan Reprieve dan Amnesty International, sedikitnya sebanyak 16 orang per bulan dieksekusi mati.

5. Terlibat Pembunuhan Jamal Khashoggi

Jurnalis Arab Saudi sekaligus kritikus MbS Jamal Khashoggi memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mendapatkan dokumen yang menyatakan perceraiannya dengan mantan istrinya.

Namun, ia dikabarkan tidak kembali sejak kedatangannya pada 2 Oktober 2018 itu.

Setelah lebih dari dua pekan Arab Saudi menyangkal, akhirnya mereka mengakui jika Jamal telah dibunuh, setelah diduga terlibat perkelahian dengan salah seorang pejabat di dalam konsulat.

Otoritas Turki mengatakan mantan penasihat anggota keluarga kerajaan itu tidak disukai karena kritiknya terhadap program reformasi MBS. Ia dibunuh segera setelah memasuki misi diplomatik oleh pasukan pembunuh Arab Saudi.

Dalam laporannya, pelapor khusus PBB untuk eksekusi di luar hukum, Agnes Callamard menyebut jika pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan pembunuhan di luar hukum yang direncanakan.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer