sukabumiheadline.com – Penemuan kepingan karet bertuliskan TJIPETIR yang terapung di pesisir pantai Eropa dan Amerika sempat menghebohkan jagad pemberitaan media nasional dan internasional. Menghebohkan, mengingat keberadaan pabriknya sendiri belum banyak terkuak.
Namun sayangnya, pabrik dan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII tersebut sudah berhenti beroperasi beberapa tahun lalu.
Di sisi lain, kepingan gutta percha bertuliskan TJIPETIR tersebut berasal dari Sukabumi. Kepingan-kepingan itu disebut ikut tenggelam bersama kapal Miyazaki Maru dan Titanic. Baca selengkapnya: TJIPETIR dari Sukabumi yang hebohkan Eropa, tenggelam bersama Miyazaki Maru dan Titanic
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk informasi, gutta-percha adalah bentuk karet yang diperoleh dari pohon tropis dari famili Sapotaceae. Ini adalah isomer trans dari poliisoprena, yang ada dalam dua bentuk kristal, fase α dan β. Fase α terjadi secara alami dan fase β muncul selama pemurnian. Keduanya dapat dipertukarkan tergantung pada suhu.

Satu-satunya Pabrik Gutta Percha di Hindia Belanda
Gutta Percha (palaquium gutta/gutta merah) merupakan pohon yang menghasilkan karet dan digunakan oleh orang-orang Melayu sejak dulu. Gutta Percha berbeda dengan karet yang disebut orang Belanda dengan caoutchouc atau pohon menangis karena mengeluarkan getah mirip cucuran air mata. Sedangkan gutta percha yang baru diketahui orang Eropa di Singapura pada 1822, diambil daun dan rantingnya.
William Montgomery, seorang pejabat di East Indies Company melakukan penelitian tentang gutta percha yang banyak berkembang di kepulauan Melayu seperti Sumatera dan Kalimantan.
Rekomendasi Redaksi: Ini lho 5 kecamatan yang menjadi lumbung padi di Kabupaten Sukabumi
Pasca dikenalkan oleh Montgomery pada 1843, mulailah kebutuhan gutta percha ini berkembang pesat yang menyebabkan penebangan secara massal. Penguasa Belanda di Hindia Belanda pun mulai mencoba menanam gutta percha dalam skala kecil di Banyumas, Jawa Tengah, meskipun belum bisa dibilang berhasil.
Perhatian dunia ilmiah dan teknis pertama kali pada gutta-percha terjadi sesudah Kongres Listrik di Paris pada 1881. Tak mau ketinggalan dengan jirannya, Hindia Belanda melakukan investigasi melalui Dr. Burck yang menyimpulkan bahwa gutta percha terbaik terdapat di kepulauan Melayu hingga ke Malaka. Jenis ini tidak ditemukan di tempat lain bahkan di Amerika maupun Afrika sekalipun, sehingga Hindia Belanda merasa harus membudidayakannya.
Permintaan gutta percha saat itu meningkat tajam, terutama dari Amerika, Jerman dan Perancis. Sultan Johor dari negeri jiran, bahkan sampai menjanjikan satu dolar untuk setiap satu benih gutta percha yang bisa tumbuh. Selain itu, di Kulalalumpur, Melaka, Singapura, dan Wellesley (seberang Penang) diusahakan pembudidayaan massal gutta percha, namun belum memuaskan. Baca selengkapnya: Gutta Percha Tjipetir, keping masa silam Sukabumi di samudera sejarah dunia

Rekomendasi Redaksi: Daftar 23 kecamatan penghasil kopi lokal Sukabumi
Kecamatan penghasil getah karet di Kabupaten Sukabumi
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Kabupaten Sukabumi menghasilkan 1.531,17 ton getah karet pada 2022 dan 1.650,18 ton pada 2023.
Masih menurut data yang sama, berikut adalah kecamatan-kecamatan penghasil getah karet di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Rekomendasi Redaksi:
- Kecamatan Ciemas: 30,55 ton (2022), 50,70 ton (2023)
- Kecamatan Ciracap: 2,28 ton (2022), 2,28 ton (2023)
- Kecamatan Waluran: 9,10 ton (2022), 9,10 ton (2023)
- Kecamatan Surade: 12,35 ton (2022), 18,85 ton (2023)
- Kecamatan Tegalbuleud: 29,25 ton (2022), 29,25 ton (2023)
- Kecamatan Cidolog: 95,94 ton (2022), 95,94 ton (2023)
- Kecamatan Sagaranten: 35,62 ton (2022), 53,50 ton (2023)
- Kecamatan Cidadap: 39,00 ton (2022), 47,84 ton (2023)
- Kecamatan Curugkembar: 53,66 ton (2022), 53,65 ton (2023)
- Kecamatan Pabuaran: 217,75 ton (2022), 227,50 ton (2023)
- Kecamatan Lengkong: 19,50 ton (2022), 39,00 ton (2023)
- Kecamatan Palabuhanratu: 116,68 ton (2022), 116,68 ton (2023)
- Kecamatan Warungkiara: 308,75 ton (2022), 308,75 ton (2023)
- Kecamatan Bantargadung: 273,00 ton (2022), 273,00 ton (2023)
- Kecamatan Jampang Tengah: 29,25 ton (2022), 65,65 ton (2023)
- Kecamatan Cikidang: 103,35 ton (2022), 103,35 ton (2023)
- Kecamatan Cisolok: 90,68 ton (2022), 90,68 ton (2023)
- Kecamatan Cikakak: 64,48 ton (2022), 64,48 ton (2023).