sukabumiheadline.com – Kebiasaan perempuan Sunda zaman dulu sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai filosofis, kepercayaan terhadap alam, serta peran domestik yang kuat. Berdasarkan tradisi dan sejarahnya.
Dikutip sukabumiheadline.com dari berbagai jurnal, seperti Celebrating Art, How Sundanese Women Wiwitan Kuningan Participate in the Fight to Defend Land and Traditions di laman INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), dan dari Jurnal Perempuan berjudul Perempuan Sunda, Selasa (27/1/2026), perempuan Sunda saat ini menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang kompleks. Baca selengkapnya: Wanita Sukabumi diintai ancaman dan tantangan kultural, stereotip hingga kekerasan
Kondisi tersebut berakar dari kombinasi budaya patriarki, stereotip media, hingga perubahan sosial-ekonomi. Meskipun secara historis perempuan Sunda digambarkan cerdas dan mandiri, tantangan struktural dan kultural masih nyata. Baca selengkapnya: Perempuan Sunda diintai ancaman dan tantangan, dari kultural, stereotip hingga kekerasan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Sukabumi, wanita menghadapi beragam ancaman di lingkup domestik, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kerentanan ekonomi, dan lain sebagainya. Kondisi ini pada gilirannya turut mendorong perubahan perilaku wanita Sukabumi saat ini.
Sedangkan di sisi lain, banyak di antaranya berperan ganda, sebagai ibu sekaligus ayah yang setiap hari diperas tenaganya untuk mencari nafkah akibat perceraian. Baca selengkapnya: Membanding angka perceraian Kota dan Kabupaten Sukabumi dua tahun terakhir, pengertian dan prosedur
Berikut adalah 5 kebiasaan khas wanita Sukabumi yang mulai luntur ditelan perubahan zaman:
5. Kecantikan dan Penampilan Tradisional

Perempuan Sunda dikenal sangat menjaga penampilan dengan cara alami:
- Gelung: Salah satu tatanan rambut khas perempuan Sunda yang mencerminkan kerapian dan identitas diri.
- Pakaian: Kebiasaan sehari-hari menggunakan kebaya yang dipadukan dengan sarung (kain batik) yang melilit pinggang hingga pergelangan kaki.
- Bahan Alami: Mereka sering menggunakan bahan-bahan alami untuk perawatan kulit, yang membuat mereka dikenal dengan reputasi kecantikan alaminya. Kini, semua serba modern dengan kemunculan ratusan brand perawatan kulit atau skincare. Baca selengkapnya: 7 perawatan kulit ala Wanita Sukabumi zaman dulu: Dari kunyit madu hingga lidah buaya
4. Etika dan Tata Krama (Someah)

Kebiasaan berkomunikasi perempuan Sunda tempo dulu sangat mengedepankan nilai “Someah hade ka semah” (ramah dan baik kepada tamu).
- Ramah & Sopan: Mereka terbiasa menyapa dengan lembut dan murah senyum kepada siapa pun, meskipun baru dikenal.
- Panggilan Hormat: Terdapat aturan panggilan yang sangat tertata sesuai usia, seperti Tétéh (kakak), Euceu (kakak akrab), hingga Ambu (ibu/yang dimuliakan).
Kini, seiring perkembangan teknologi banyak momen terlewatkan, di mana komunikasi kini cukup melalui aplikasi perpesanan. Wanita Sukabumi, berinteraksi langsung sesuai keperluan pada saat itu.
3. Tradisi Kebersamaan dan Pamali

- Botram: Kebiasaan makan bersama di atas daun pisang yang sering dilakukan antarperempuan atau dalam keluarga besar untuk mempererat tali silaturahmi. Kini, banyak berdiri tempat nongkrong, sehingga tradisi botram semakin berkurang.
- Memegang Teguh Pamali: Mereka sangat patuh pada larangan-larangan adat (pamali), seperti tidak boleh makan menggunakan cobek atau berdiam diri di ambang pintu, yang sebenarnya mengandung pesan etika dan keselamatan.
- Pola Asuh: Mengajarkan filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh (saling mengasihi, mengasah, dan mengasuh) kepada anak-anak mereka sejak dini.
2. Ritual Pertanian dan Alam

Zaman dulu, perempuan Sunda memiliki peran penting dalam aktivitas pertanian, khususnya padi huma.
- Pemujaan Dewi Sri: Mereka melakukan berbagai ritual untuk menghormati Sri Pohaci (Dewi Padi) sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan.
- Menjaga Lahan: Perempuan dianggap memiliki karakter yang sama dengan rahim bumi, sehingga mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam dan lahan tradisi.
1. Peran Sentral dalam Rumah Tangga (Indung)

Dalam budaya Sunda, perempuan dipandang sebagai “Indung” (ibu) yang merupakan pusat aktivitas dan simbol kehidupan keluarga. Mereka memiliki kebiasaan mengelola segala urusan domestik, mulai dari mengurus anak hingga mengatur dapur, namun tetap dihargai sebagai pilar kehormatan keluarga. Baca selengkapnya: Puluhan ribu pria di Kabupaten Sukabumi urus rumah tangga, 500 ribu lebih wanita bekerja
Kini, semakin banyak wanita Sukabumi yang aktif di ruang publik. Kondisi yang dinilai banyak kalangan sebagai ancaman sekaligus tantangan. Baca selengkapnya: 45% Wanita di Kota Sukabumi Memilih Bekerja, 20% Pria Menganggur









