sukabumiheadline.com – Agensi Rumah Tangga adalah tontonan yang nyaman, menghibur, sekaligus menggelitik. Menyaksikannya setelah berjibaku bekerja seharian demi bertahan hidup, bagai menikmati bakso yang hangat, menenangkan dan kembali naikin mood.
Pemeran utama film ini dibintangi Enzy Storia sebagai Katia, Afgansyah Reza sebagai Kafka, Fita Anggriani Ilham sebagai Sashi, Ardit Erwandha sebagai Banu, dan Yunita Siregar sebagai Mila.
Umi Quary, Ardit Erwandha, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, hingga Kak Kev (Luqman), Mario Caesar dan Niky Putra dari New Pusat Dunia (NPD), serta Vino ‘Gubernur Blok M’, mendapat ruang untuk menghidupkan karakter masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka tidak sekadar membawa persona komedi dari panggung ke layar, tetapi benar-benar melebur dalam cerita. Dialog, gestur, hingga interaksi antarpemain menjadi sumber gelak tawa yang membuat suasana film tetap riuh.
Di balik komedi yang ditulis Ayu Anggraini dan Upi Avianto, adaptasi novel bertajuk sama karya Almira Bastari ini membawa sejumlah persoalan sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Terutama, tentang sulitnya mencari kerja dan kerasnya perempuan berjuang di zaman ini untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarganya.
Agensi Rumah Tangga dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada tanggal 10 September 2026.
Film mengisahkan Katia, seorang wanita karier yang terkena PHK dan harus membayar cicilan rumah. Namun, ia kemudian merintis usaha membuka yayasan penyalur asisten rumah tangga (ART) dari rumahnya.
Sayangnya, Katia kemudian menghadapi berbagai drama dari klien unik dan para ART, termasuk penyanyi terkenal Kafka yang diperankan oleh Afgansyah Reza.
Apiknya, berbagai persoalan itu tidak disajikan dengan pertunjukan dramatisasi nelangsa perempuan modern yang berurai air mata. Sutradara Naya Anindita justru membawanya terasa ringan lewat karakter, situasi, dan kelucuan yang dekat dengan keseharian.
Agensi Rumah Tangga juga tidak berisik ketika menyentil persoalan sosial. Kritik terhadap kondisi dunia kerja hingga persoalan gengsi hadir lewat adegan dan dialog tanpa membuat film ini terasa seperti sedang memberikan ceramah.
Bahkan ketika menyinggung tugas dan peran lelaki untuk membantu menghidupi keluarga tetapi malah gengsi untuk bekerja, semuanya tetap dibungkus dengan humor.
Humor yang dibangun Ayu dan Upi pun cukup beragam, mulai dari kiasan yang mungkin akrab bagi generasi milenial hingga istilah yang lahir dari tren media sosial Gen Z.
Sebagian besar sajian komedi itu terasa natural karena datang dari karakter dan situasi, meski sesekali ada istilah trending yang terasa dipaksakan dan mengganjal.
Salah satu yang berperan penting dalam menyampaikan punch-punch komedi dalam Agensi Rumah Tangga ini jelas adalah kehadiran para komika.
Meski berhadapan dengan gerombolan komika, Enzy Storia tak kehilangan pesonanya. Ia tetap tampil apik sebagai Katia sang tokoh utama dengan segala gundah-gulananya.
Katia punya cukup banyak alasan untuk menjadi karakter yang penuh keluhan, tetapi Enzy membawanya dengan cara yang tetap ringan dan menyenangkan untuk diikuti. Ada sisi keras kepalanya, ada idealismenya, tetapi ada pula kerentanan seorang perempuan yang sedang berusaha mencari pijakan setelah kehilangan pekerjaan.
Chemistry Enzy dengan Afgan sebagai Kafka juga terasa mengalir. Keduanya punya interaksi yang tidak dibuat-buat, terutama ketika hubungan Katia dan Kafka mulai bergerak dari sekadar urusan pekerjaan menuju kedekatan personal.
Pertemuan keduanya menjadi salah satu bagian yang membuat cerita terasa lebih hangat tanpa harus buru-buru menjadikannya romansa.
Agensi Rumah Tangga mengingatkan bahwa kadang-kadang kita memang cuma butuh tontonan yang tidak terlalu rumit untuk membuat hari terasa sedikit lebih ringan.









