sukabumiheadline.com – Anda pasti kerap mendengar istilah kelas atas, kelas menengah dan bawah. Bahkan kelas menengah dalam beberapa pekan terakhir kerap diperbincangkan pakar ekonomi dan media.
Sejumlah riset menyebut bahwa jumlah kelas menengah Indonesia turun drastis. Kondisi ekonomi saat ini disebut banyak pakar membuat sebagian besar kelas menengah terjerumus ke dalam kelompok kelas bawah.
Lantas, bagaimana kelas-kelas ekonomi masyarakat tesebut dikelompokkan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rekomendasi Redaksi: Jadi orang terkaya ke-5 di Asia, ini profil 2 perusahaan Prajogo Pangestu di Sukabumi

Mengukur kelas ekonomi menurut harta yang dimiliki
Meskipun tidak ada cara yang ideal untuk mendefinisikan kelas ekonomi, namun sejumlah pendapat menyebut pengelompokan bisa dilakukan melalui pendekatan jumlah kekayaan bersih yang dimiliki.
Mengacu pada data Federal Reserve, angka-angka kekayaan dimaksud dikelompokkan sebagai berikut:
Jika Anda termasuk kelas atas, Anda dalam posisi yang baik. 10% peraih pendapatan teratas memiliki kekayaan bersih rata-rata US$ 2,65 juta atau setara dengan Rp40,96 miliar.
Beralih ke kelas menengah, keadaan menjadi sedikit lebih bervariasi. Orang-orang kelas menengah ke atas memiliki kekayaan bersih rata-rata sekitar US$ 300.800 atau Rp4,64 miliar.
Keluarga kelas menengah pada umumnya memiliki kekayaan bersih US$ 169.420 atau Rp2,61 miliar. Dan jika Anda berada di kelas menengah ke bawah, Anda akan memiliki sekitar US$ 58.550 Rp900 juta.
Sekarang, untuk kelas bawah, jumlahnya menurun drastis. Kekayaan bersih rata-rata di sini hanya US$ 16.900 atau Rp261,24 juta.
Namun demikian, ini hanyalah rata-rata. Situasi Anda mungkin terlihat sangat berbeda. Ingat, menjadi ‘kelas atas’ atau ‘kelas bawah’ hanyalah label di masyarakat. Yang benar-benar penting adalah bagaimana Anda bergerak menuju tujuan keuangan Anda sendiri.