20.4 C
Sukabumi
Senin, Juli 22, 2024

5 kecamatan terluas dan tersempit, persentase terhadap luas Kabupaten Sukabumi

sukabumiheadline.com - Kabupaten Sukabumi merupakan daerah terluas...

Piala Presiden 2024 hari ini, Persib vs Borneo FC, kans debut pemain anyar Maung Bandung

sukabumiheadline.com - Punggawa anyar Maung Bandung berpotensi...

Arij Humaira, Hijaber Sukabumi Kuliah di Luar Negeri Dapat Nilai Sempurna

InternasionalArij Humaira, Hijaber Sukabumi Kuliah di Luar Negeri Dapat Nilai Sempurna

sukabumiheadline.com l BOJONGGENTENG – Seorang gadis asal Kampung Pamatutan, Desa/Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Arij Humaira AZ Zahra, berhasil meraih nilai A dan A+ untuk semua mata kuliah.

Diketahui, hijaber kelahiran Sukabumi, 24 Maret 2001 itu saat ini kuliah di Albukhary International University (AIU), Malaysia, jurusan Business of Administration.

Diakui Arij, kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh adalah cita-citanya sejak dulu. Selain mengejar kualitas, Arij yakin dengan begitu ia bisa belajar memosisikan diri di luar zona nyaman.

Arij Humaira Az Zahra menerima award untuk GPA yang diraihnya. l Arij Humaira Az Zahra

“Bisa melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa penuh adalah mimpi terbesar saya, selain mendapat kualitas dan fasilitas yang baik, saya bisa memposisikan diri di luar zona
nyaman,” katanya kepada Wanita Sukabumi, sukabumiheadline.com, Selasa (18/7/2023).

“Saya percaya bahwa agar seseorang bisa berkembang dan memaksimalkan
potensinya, maka orang tersebut harus keluar dari zona nyamannya,” imbuh Arij.

Arij Humaira Az Zahra memamerkan GPA di halaman kampusnya. l Arij Humaira Az Zahra

Meskipun begitu, Arij mengakui bahwa kualitas pendidikan universitas di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri.

“Tapi dengan kuliah di luar negeri saya bisa memperluas cakrawala pemikiran dan pergaulan karena bisa berinteraksi
dengan teman teman dari berbagai negara, di kampus saya terdapat mahasiswa yang berasal dari lebih 50
negara berbeda,” paparnya.

Arij mengungkapkan, kondisi tersebut telah memaksa dirinya untuk menguasai bahasa asing berbagai negara, terutama bahasa Inggris.

“Saya merasakan perbedaan budaya belajar disini terutama dalam hal bahasa karena di sini menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, di sini mahasiswa dituntut untuk jauh lebih kritis, imajinatif dan kreatif,” jelasnya.

“Tugas-tugasnya sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran karena tak cukup hanya tahu tentang suatu materi dari satu sumber, tapi harus bisa membuka lebih jauh dan lebih dalam lagi,” ungkap Arij.

Ditambahkannya, hubungan antara dosen dan mahasiswa terjalin sangat baik dan tanpa diskriminasi berdasarkan ras, serta status ekonomi dan sosial.

“Tidak ada perbedaan, walaupun kita berasal dari berbagai macam negara, ras, kebiasaan, dan budaya,” jelas gadis yang biasa dipanggil Aiz itu.

Arij Humaira Az Zahra (ketiga dari kiri) bersama mahasiswa asing lainnya. l Arij Humaira Az Zahra

Cara Arij Raih Nilai Sempurna 

Aiz saat ini duduk di Semester 2, capaiannya dalam dua semester yang telah dijalaninya terbilang membanggakan karena selama dua semester berturut turut saya berhasil mendapatkan nilai sempurna.

“GPA (Grade Point Average-red) saya di atas 3.8 dengan status A+ dan A, untuk semua mata kuliah selama dua semester berturut-turut,” ungkapnya.

Aiz mengungkapkan, untuk bisa mendapatkan nilai A baginya cukup dengan melakukan cara sederhana, yakni cukup dengan mendengarkan dan mematuhi dosen di kampus.

“Bagi saya cukup mendengarkan dan mematuhi perintah yang diberikan oleh dosen. Seperti di kampus saya, setiap mata kuliah diberikan panduan penilaian (rubrics) yang berisikan tugas selama satu semester, perintah, dan aturan bagaimana kita bisa mendapat nilai bagus dalam mata kuliah tersebut,” paparnya.

“Terdengar mudah, namun sebetulnya sangat menguras tenaga dan pikiran. Misalnya selama ujian saya bisa tidur hanya dua jam agar semua materi bisa dipahami,” tambahnya.

Arij Humaira Az Zahra dan pertunjukan seni budaya Indonesia di kampusnya. l Arij Humaira Az Zahra

Kesan Selama Kuliah di Malaysia 

Bicara soal kesannya selama kuliah di Malaysia, Aiz mengaku bangga bisa kuliah dengan beasiswa penuh di luar negeri, meskipun ia bertekad untuk terus meningkatkan capaian.

“Bagi saya kuliah di luar negeri itu sebuah privilege, sebuah kebanggaan akan sebuah pencapaian. Tak semua orang mampu dan bisa mewujudkannya. Dengan berkuliah di luar negeri, diri saya terekspos dengan dunia luar. Dari mulai pertemanan, jaringan dan wawasan yang lebih luas dari berbagai penjuru dunia. Sebuah pengalaman hidup yang tak akan terlupakan,” paparnya.

“Sisi positif lainnya adalah saya bisa belajar mendapat cara pandang dan pengalaman hidup baru terhadap cara belajar dan cara hidup, eksposur terhadap networking yang lebih luas, dan
lebih menghargai perbedaan,” tambah Aiz.

Untuk informasi, Aiz mendapatkan beasiswa dari BAZNAS dan AIU. Selain biaya pendidikan, Aiz juga mendapatkan seluruh biaya proses keberangkatan. Dari mulai paspor, tiket pesawat, dan lainnya.

“Saya juga mendapat beasiswa
penuh dari kampus AIU untuk hostel, gratis pendidikan dan uang saku per bulan sebesar RM450 atau sekira Rp1,5 juta,” pungkasnya.

Selain Arij, di kampus yang sama terdapat sekira 80 mahasiswa asal Indonesia di berbagai jurusan, baik program beasiswa maupun mandiri.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer