Aristide William, orang Indonesia asal Sukabumi pertama lulus Iowa State University AS

- Redaksi

Kamis, 30 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aristide William Lauw-Zecha (digambar ulang dengan AI - sukabumiheadline.com

Aristide William Lauw-Zecha (digambar ulang dengan AI - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Keberadaan etnis Tionghoa di Sukabumi, Jawa Barat, memiliki catatan panjang. Meskipun harus berjuang stereotipe negatif dan diskriminatif selama masa perjuangan hingga pascakemerdekaan Republik Indonesia, faktanya mereka sudah benar-benar menyatu dengan warga kota ini yang mayoritas dari etnis Sunda hingga kini.

Bahkan, banyak dari mereka yang kemudian turut mengharumkan nama daerah dan negara. Salah satu yang diabadikan namanya dalam banyak catatan, adalah Aristide William Lauw-Zecha atau populer sebagai William Lauw-Zecha.

Informasi dihimpun sukabumiheadline.com, Aristide William Lauw-Zecha lahir pada 1899 di Sukabumi, Hindia Belanda (Indonesia). Ia meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1983.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Semasa hidupnya di Sukabumi, William Zecha dikenal sebagai seorang pemilik kebun dan pebisnis asal Indonesia.

Berita Terkait: Intip kehidupan mewah artis Michelle Saram, menantu konglomerat asal Sukabumi

Kuliah di Amerika Serikat 

Pada usia 24, Aristide William Lauw-Zecha menamatkan pendidikannya dari Iowa State University, Amerika Serikat (AS), tepatnya pada 1923. Alhasil, ia menjadi orang Sukabumi dan Indonesia pertama yang lulus dari universitas terkemuka di AS.

Selama kuliah, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Tionghoa di Amerika Serikat Bagian Timur, dan bahkan terpilih sebagai konselor eksekutif dari himpunan tersebut.

Setelah kembali ke Hindia Belanda, Aristide William Lauw-Zecha membantu keluarganya dalam mengelola tanah partikelir dan bisnis, serta menggantikan ayahnya sebagai distributor resmi dari Parker Pen.

Berita Terkait:

Adrian Zecha. l Istimewa
Adrian Lauw-Zecha – Ist

William Zecha kemudian menikahi wanita Tionghoa asal Malaysia, Lim Kim See, dan memiliki lima orang anak, yakni Andrew Lauw-Zecha, Allen Lauw-Zecha, Adrian Willem Lauw-Zecha, Alwin Lauw-Zecha, dan Austen Lauw-Zecha.

Lima orang putra tersebut kemudian dikuliahkan di Amerika Serikat. Salah satunya adalah Alwin yang akhirnya lulus dari Universitas Tufts pada 1956.

Dengan demikian, William Zecha merupakan kakek dari Ajai Lauw-Zecha, bos Hotel Regent International Singapura. Baca selengkapnya: Mengenal Ajai Lauw, bos Hotel Regent International Singapura berdarah Sukabumi

Asal-usul William Zecha 

Keluarga besar SIM Keng Koen di Sukabumi. l Istimewa
Keluarga besar Sim Keng Koen di Sukabumi – Ist

Dari namanya, bisa ditelusuri jika ia berasal dari keluarga Lauw-Sim-Zecha, bagian dari ‘Cabang Atas’ di Hindia Belanda, dan merupakan ayah dari Adrian Lauw-Zecha, pendiri Aman Resorts. Baca selengkapnya: Mengenal ortu, istri, anak dan sepupu Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi

Berita Terkait:

Dengan demikian, ia merupakan anak dari Louis Tjeng Bie Lauw-Zecha yang berkerabat dengan Lauw Tek Lok, Letnan Cina (kakek dari pihak ayah) dan
Louisa Zecha (nenek dari pihak ayah). Louisa kemudian menikah dengan tokoh Tionghoa berpengaruh di Sukabumi, Sim Keng Koen. Baca selengkapnya: Leluhur Adrian Zecha, Karena Sim Keng Koen Perayaan Cap Go Meh di Sukabumi Dimundurkan

Baca Juga: Mengenal Kapitan Sim Keng Koen, Cabang Atas Kakek Buyut Miliarder asal Sukabumi

Bisnis keluarga William Zecha 

Keluarga Lauw-Sim-Zecha memiliki sejumlah tanah partikelir dan kebun di sekitar Batavia dan Sukabumi, serta hidup dengan mewah sebagai keluarga Cina teratas di Sukabumi.

Ayah kandung Lauw-Sim-Zecha, Louis Lauw-Zecha, adalah pemilik tunggal dari Soekaboemische Snelpersdrukkery, sebuah perusahaan percetakan dan peralatan kantor. Louis juga berbisnis di bidang budidaya teh dan padi, serta ekspor dan impor, termasuk mobil.

Mulai 1911, Louis Lauw-Zecha juga menjadi distributor resmi dari Parker Pen di Hindia Belanda. Hingga pada 1920, Louis menunjuk seorang profesional asal Amerika, Edwin F. Lee, untuk bertindak sebagai manajer bagi semua bisnisnya di Hindia Belanda.

Baca Juga: Beda dengan Ahmad Sahroni, pria asal Sukabumi ini terusir ke Singapura dan jadi miliarder

Ketika masa pendudukan Jepang, tanah partikelir dan bisnis milik keluarga Lauw-Zecha berhasil selamat dari rampasan tentara Nippon Hindia Belanda selama Perang Dunia II, dan revolusi Indonesia mulai 1945 hingga 1950.

Namun, pada 1956, presiden pertama Indonesia, Sukarno, menasionalisasi sejumlah aset milik swasta di Indonesia, sehingga memaksa Aristide William Lauw-Zecha bersama anak istri, dan sejumlah kerabatnya untuk keluar dari Sukabumi dan Indonesia. Baca selengkapnya: Roda Hidup Berputar, Pria Sukabumi Ini Diusir dari Indonesia Tapi Malah Jadi Konglomerat

Lauw-Zecha akhirnya tinggal di Malaysia, negara asal istrinya, dan meninggal pada 6 Juli 1983 di Kuala Lumpur.

_______________________

Catatan: Redaksi hanya menemukan satu foto Aristide William Lauw-Zecha. Foto digambar ulang dengan bantuan artificial intelegence (AI) dan dipilih yang paling mendekati serupa.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB