sukabumiheadline.com – Mecca Fried Chicken, restoran fast food ini menawarkan menu utama makanan cepat saji yang halal, kata CEO PT Inspirasi Bisnis Nusantara, Gufron Syarif, salah satunya fried chicken atau ayam goreng tepung.
Sesuai namanya Mecca Fried Chicken menawarkan ayam goreng tepung sebagai menu utama. Untuk urusan harga, dipatok mulai dari Rp6.000 sampai Rp60.000. Adapun, menu yang tersedia cukup bervariasi, dari makanan pembuka, utama hingga penutup, serta minuman.
“Mungkin kalau dari menu ayam gorengnya, itu tidak banyak berbeda dengan fried chicken yang sebetulnya sudah ada. Tapi menu pendampingnya yang kita beda-bedakan,” tutur Gufron.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mencontohkan, jika biasanya menu restoran fast food di Indonesia identik dengan menu nasi dan kentang, Mecca Fried Chicken menambahkan nasi mandhi sebagai pembeda.
Dengan demikian, restoran ini tidak hanya menghadirkan nuansa western dari menu fried chicken, tapi juga nuansa timur tengah dari nasi mandhi dan kebab, serta nuansa Indonesia dari es durian.
Selain menu-menu tersebut, pengunjung juga bisa memesan puding, minuman cokelat, kentang goreng, dan burger. Fasilitas yang ada di restoran ini, salah satunya adalah area bermain untuk anak-anak.

Makan sambil donasi ke Palestina
Jika Anda mencari restoran fast food yang juga membawa misi kemanusiaan, bisa mengunjungi Mecca Fried Chicken. Cabang pertamanya terletak di Jakarta Barat, dibuka sejak Rabu (5/2/2025) lalu.
“Mecca Fried Chicken lebih dari sekadar restoran keluarga yang menyajikan menu ayam goreng yang lezat dan halal, tapi kami membawa misi kemanusiaan,” ungkap Gufron.
Ia menambahkan, dari setiap potong ayam goreng yang disantap, pihaknya mendonasikan Rp1.000 untuk Palestina. Progres dari donasi ini bisa dilihat di situs web resmi restoran keluarga tersebut.
Belum sistem franchise
Namun sayangnya, meskipun Gufron berencana membuka enam cabang Mecca Fried Chicken di sejumlah mal di wilayah Jabodetabek, ia belum ingin menggunakan sistem franchise dalam mengembangkan restoran keluarga ini.
Salah satu alasan Gufron, adalah ingin fokus menjaga standar kualitas. Hal ini menjadi alasan pihaknya harus berhati-hati terhadap sistem tersebut.
“Kalau tidak hati-hati, banyak brand (ternama, yang menggunakan sistem franchise) yang growth-nya (pertumbuhannya) cepat tapi hilangnya cepat juga,” katanya.
“Setelah kita pelajari, isunya ternyata di operasional, banyak mitra franchise enggak punya experience (pengalaman) dalam menjalankan operasional F&B. Enggak punya komitmen waktu juga maupun kompetensi,” tambahnya.