sukabumiheadline.com – Osaka, kota terbesar ketiga di Jepang yang terletak di wilayah Kansai, Pulau Honshu. Kota ini berada di mulut Sungai Yodo di Teluk Osaka, kota ini memiliki dua pusat utama, yakni Umeda (utara) dan Namba (selatan), yang dihubungkan oleh jalan Midosuji.
Kota ini dikenal sebagai pusat kuliner, perdagangan, dan kehidupan malam yang meriah. Terkenal sebagai “dapur Jepang” dan memiliki atmosfer yang lebih santai daripada Tokyo.
Di Tenka no Daidokoro atau dapur nasional, kuliner andalan meliputi takoyaki, okonomiyaki, dan kushikatsu. Budaya komedi dan keramahan warganya sangat kental. Kawasan ini ramai dengan dengan papan nama neon ikonik yang disebut Glico Man, dan pusat kuliner malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Profil dan Capaian Gerall Saprilla, Komika asal Sukabumi Pernah Tampil di Jepang

Osaka juga menawarkan ikon sejarah seperti Istana Osaka, pusat perbelanjaan di Namba/Umeda, serta kawasan wisata kuliner populer di Dotonbori. Situs bersejarah dengan taman yang indah, terutama saat musim sakura.
Di kota ini juga terdapat Universal Studios Japan (USJ), taman hiburan kelas dunia, termasuk Super Nintendo World. Lalu ada Akuarium Kaiyukan, salah satu akuarium terbesar di dunia. Kemudian, Umeda Sky Building, sebuah gedung dengan pemandangan panorama kota. Kuil Shitennoji, alah satu kuil Buddha tertua di Jepang, juga terletak di kota ini.
Osaka dapat diakses dengan shinkansen (kereta peluru) dari Tokyo dalam waktu singkat. Kota ini adalah destinasi wajib bagi pecinta kuliner dan budaya populer, menawarkan perpaduan sempurna antara modernitas dan sejarah.
Selain itu, di Osaka juga terdapat perguruan tinggi, salah satunya Osaka University for Foreign Studies. Salah satu lulusannya adalah Eka Komariah Kuncoro. Meskipun tidak terlalu dikenal warga Sukabumi, Jawa Barat. Namun, tidak berarti wanita yang kini aktif di dunia politik ini tidak populer di bidang yang digelutinya.
Informasi dihimpun, Eka Komariah Kuncoro lahir di Sukabumi, 19 November 1947. Selain bersinar di panggung politik Tanah Air mewakili Kalimantan Timur, ia juga dikenal sebagai akademisi. Baca selengkapnya: Eka Komariah Kuncoro, Wanita Sukabumi Bersinar Sebagai Politikus dan Akademisi di Kalimantan
Osaka juga dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi utama di Jepang, memiliki industri yang sangat beragam dan kuat, mencakup manufaktur berat hingga teknologi tinggi. Baca selengkapnya: Daftar korporasi tertua: Kongō Gumi adalah perusahaan pertama di dunia
Sebagai kota pelabuhan utama, Osaka juga kuat dalam industri, distribusi, jasa, dan keuangan. Industri unggulan di kota ini meliputi elektronik seperti Panasonic dan Sharp, farmasi, kimia, baja, galangan kapal, serta permesinan, hingga karpet.
Jadi pekerja pabrik di Jepang
Salah satu warga Kabupaten Sukabumi yang pernah bekerja di pabrik karpet, adalah Tri Fitrahman. Pria asal Desa Cipanengah, Kecamatan Bojonggenteng ini pernah bekerja di Etos, pabrik karpet di Osaka.
Ia mengaku berangkat ke Jepang dibantu salah satu lembaga pendidikan dan keterampilan (LPK) yang khusus mendidik bahasa Jepang.
“Saya bekerja tiga tahun di sana, tapi kontrak. Jadi, setelah kontrak habis, harus kembali dulu ke Indonesia,” kata Tri kepada sukabumiheadline.com, Senin (16/2/2026).
“Sebenarnya banyak juga perusahaan yang menerima lanjutan. Maksudnya, setelah selesai kontrak, lalu kembali direkrut. Cuma saya pas kebagian perusahaan yang hanya menerima karyawan magang aja,” jelas pria 30 tahun itu.
Soal kesejahteraan, Tri mengaku menjadi pegawai pabrik di Jepang sangat sejahtera. Menurutnya, sisa bersih gaji setelah dipotong makan dan sewa apartemen, masih berkisar belasan juta.
“Kalau makan kan cuma sekali, pas pulang kerja aja, karena kalau makan siang dikasih sama perusahaan. Kalau makan sendiri, ini beli ya, terjangkau banget. Saya sebulan hanya habis 2,5 juta Rupiah untuk sekali makan. Itu beli lho, Nah, kalau sewa apartemen dan lainnya, sekira 7 juta Rupiah,” jelasnya.
Tri yang mengaku digaji Rp20 juta per bulan, masih bisa menyisihkan Rp14 juta per bulan, untuk kebutuhan pribadi dan dikirim ke orang tua.
“Sisa gaji, ada lah 14 juta Rupiah, karena kita juga kan suka dapat lemburan,” katanya.
“Kalau pribadi, saya termasuk jarang main, karena Osaka kan banyak tempat wisata juga. Kalaupun main yang dekat, paling ke Kyoto. Kalau ke Tokyo, paling setahun sekali, karena jaraknya lumayan jauh,” ungkap dia.
Selain itu, jelas anak sulung dari enam bersaudara itu, pemerintah Jepang juga cukup dermawan kepada semua warga. Bahkan, tenaga kerja asing (TKA) seperti Tri sekalipun masih mendapatkan tunjangan inflasi yang nominalnya tidak selalu sama.
“Ada tunjangan juga dari pemerintah Jepang, sekira lima jutaan. Itu untuk tunjangan kenaikan harga kebutuhan. Kita juga yang bukan warga Jepang, sama, dapat tunjangan,” aku Tri yang mengaku tengah berencana untuk kembali bekerja di Jepang itu.
“Bedanya, kalau di kita kan, kayak kenaikan BBM itu suka ada pengumuman dulu. Kalau di sana naik aja, tapi warganya santai aja, karena pasti dapat tunjangan itu,” papar Tri.
Selain itu, warga yang melahirkan anak pun mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Kebijakan tersebut tidak hanya berlaku bagi warga Jepang, tapi semua yang tinggal di Negeri Matahari Terbit itu.
“Sama, semua dapat. Teman saya yang bawa istri juga dapat tunjangan,” jelas Tri.
Kebiasaan buruk TKA di Jepang
Tri menambahkan, salah satu kebiasaan TKA, terutama yang berasal dari Indonesia, adalah sering membawa kebiasaan di Tanah Air ke Jepang.
“Kayak, misalnya nongkrong rame-rame di taman atau trotoar. Di kota mungkin biasa ya, tapi bagi warga Jepang, itu mengganggu. Cuma kalau yang saya tau, sepanjang di sana, orang Sunda jarang yang begitu,” jelas Tri.
“Saya sendiri lebih suka nyari wara Sunda, atau Sukabumi yang sudah menetap di sana. Misalnya, dia punya toko, ya saya nongkrong sambil jajan di aja di situ,” ungkap dia.
Warga Jepang sendiri, menurut Tri tergolong baik dan ramah kepada pendatang. Namun, mereka tetap tegas. Tidak mentolerir apapun yang merugikan orang lain.
“Makanya, orang Jepang tuh, kalau sudah baik, ya baik banget. Nah, kalau sudah sekali saja dibohongi, seumur hidup dia gak akan percaya lagi,” pungkas Tri.









