Ceu Molly Mulyahati, 5 Fakta Wanita Hijau Pertama Jadi Wali Kota Sukabumi

- Redaksi

Selasa, 4 Oktober 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Sukabumi ke-22, Molly Mulyahati. l Istimewa

Wali Kota Sukabumi ke-22, Molly Mulyahati. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l CIKOLE – Sejak berdiri 77 tahun silam, Kota Sukabumi pernah dipimpin oleh 25 orang wali kota, di mana salah satu sekaligus satu-satunya wanita yang pernah menjadi Wali Kota Sukabumi, adalah Molly Mulyahati Djubaedi atau biasa dipanggil Ceu Molly.

Berikut adalah 5 fakta tentang Ceu Molly, Wali Kota Sukabumi ke-22 yang menjabat sejak 1998-2003, dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber.

1. Daftar 25 Wali Kota Sukabumi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut nama-nama Wali Kota Sukabumi definitif dan penjabat dari masa ke masa:

  1. George François Rambonnet
  2. Albert Leonard Anihenie Van Unen
  3. Willem Johannes Philippus van Waning
  4. Rd. Rangga Adiwikarta (Pejabat)
  5. Rd. Abas Wilagosomantri (Pejabat)
  6. Rd. Syamsudin
  7. Rd. Mamur Soeria Hoedaja
  8. Rd. Ebo Adine
  9. Rd. Widjaja Soerija (Pejabat)
  10. Rd. S. Affandi Kartadjoemena
  11. Rd. Soebandi Prawiranata
  12. Mochamad Soelaeman
  13. Rd. Soewala.jpg Raden Soewala
  14. Raden Semer (Penjabat)
  15. Achmad Darmawan Adi
  16. Rd. Bidin Suryagunawan (Penjabat)
  17. Saleh Wiradikarta
  18. Soejoed
  19. Zaenudin Mulaebary
  20. Udin Koswara
  21. Rd. Nuriana, (Penjabat Sementara)
  22. Molly Mulyahati Djubaedi
  23. Mokh. Muslikh Abdussyukur
  24. Mohamad Muraz
  25. Achmad Fahmi

2. Alumni Damas

Sebagai wanita Sunda, Ceu Molly terbilang aktif di organisasi, termasuk ke-Sunda-an, seperti Daya Mahasiswa Sunda (Damas).

Di Damas, ia merupakan rekan seangkatan tokoh wanita Sunda sekaligus anggota DPD RI, Popong Otje Djundjunan. Ia bersama Ceu Popong dinilai berkontribusi besar di bidang politik dan budaya Sunda.

3. Pemimpin Hijau, Sosok Peduli Lingkungan dan Program Penting di Akhir Masa Jabatan

Selama menjabat Wali Kota Sukabumi ke-22, Ceu Molly sangat peduli terhadap lingkungan, visinya yang “hijau” tersebut kemudian menjadikan tiga Kecamatan, yakni Baros, Cibeureum, dan Lembursitu berada di wilayah peri-peri, berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi, menyentuh langsung Sungai Cimandiri dan daerah perbukitan di wilayah pinggirannya ditata menjadi lebih asri.

Daerah ini memiliki kontur menarik, kecuali terdiri dari beberapa bukit, juga didominasi oleh areal persawahan. Karenanya, pada 2002, Ceu Molly menggulirkan program Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM) yang menyentuh langsung dengan menjadikan wilayah ini sebagai prioritas pembangunan.

Menurutnya, latar belakang penduduknya sebagai petani membawa satu pemikiran; pengembangan tanaman holtikultura harus dimaksimalkan di wilayah ini.

Ia juga mencanangkan penanaman berbagai macam pohon untuk daerah pemekaran ini dengan mendistribusikan hampir 6.000 bibit pohon albasia, jati kebon, mahoni, dan jambu bol ke setiap kelurahan untuk ditanam di pinggir jalan utama di tiga kecamatan tersebut.

Pada akhir masa jabatannya, Ceu Molly mencanangkan satu program penting untuk Kecamatan Lembursitu, tepatnya di daerah Cikundul, yakni Jalan Kapitan, dibangun pusat-pusat pengembangbiakan tanaman holtikultura dan berbagai macam bunga.

Sebuah bukit pun dibebaskan, kemudian ditanami berbagai macam pohon dan bunga-bunga. Di wilayah tersebut juga disiapkan rumah-rumah penyemaian, pembuahan, dan perkawinan berbagai macam pohon.

Keberlanjutan untuk menciptakan daerah Sukabumi sebagai lambung oksigen dengan nama “Gerakan Sukabumi Hijau” ini diestafetkan oleh Molly kepada walikota Sukabumi Periode 2003-2013; Muslikh Abdusysukur.

Baca Juga :  Ajengan Amang, Darah Biru Menak Sunda dan Sejarah Sarkem Cicurug Sukabumi

Kecamatan Lembursitu menjadi daerah dengan skala prioritas tertinggi dan terus mendapatkan perhatian serius darinya.

Kedua, pemindahan Tempat Pembuangan Sampah Akhir dari TPA Kerkhoff ke TPA Santiong pada 1998 telah ditaksir akan mengakibatkan beberapa dampak terhadap lingkungan di masa depan, terutama polusi udara.

Meskipun pada 1998-2005, dampak tersebut belum dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar, di mana wilayah pemukiman penduduk berada di sebelah Utara TPA tersebut, Kampung Santiong, Cipanengah Hilir, Jeruknyelap, dan Kibitay masih bisa bernafas lega menghirup udara segar.

Namun, sejak 2006-2013, telah diprediksi, keberadaan TPA tersebut akan berdampak pada peningkatan polusi udara, jika angin berhembus dari arah selatan, daerah pemukiman penduduk tadi akan menerima bau tidak sedap sampah busuk dari TPA Santiong.

Untuk mengantisipasi kondisi masa depan yang tampak memburuk itu, salah satu Program Pendanaan Kompetitif Indeks Pembangunan Manusia diarahkan pada upaya-upaya penguatan lingkungan berbasis masyarakat.

Ceu Molly kemudian memberikan fasilitas dan anggaran sementara penggerak utamanya adalah element-element masyarakat. Program penyelamatan lingkungan berbasis masyarakat tersebut antara lain membidik:

1.Penanaman berbagai jenis pohon besar di daerah perbukitan sekeliling TPA Santiong;

2.Penanaman berbagai jenis pohon kecil di daerah Pemakaman China Santiong yang terletak di sebelah Timur TPA;

3.Maksimalisasi pengembangan daerah pembibitan bunga dan pohon di wilayah Bukit Kapitan, sebelah Timur TPA.

4.Pembangunan sarana dan prasarana pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik bernama INDUS (Industri Daur Ulang Sampah); dan

5.Pendistribusian pupuk organik kepada para petani pengelola sawah dan padi sehat.

Usaha preventif pemerintah bersama masyarakat untuk mencegah kemungkinan menakutkan terhadap adanya TPA Santiong ini memang berdampak positif di masa kini.

Namun, dampak yang diakibatkan oleh semakin besarnya pertumbuhan produksi sampah dari seluruh rumah tangga di Kota Sukabumi seolah lebih mencolok dari upaya-upaya penyelamatan lingkungan tadi.

Beberapa pohon besar yang ditanam sejak tahun 2006 di sekitar TPA Santiong, karena kerapatan dan kerindangannya masih belum maksimal, masih belum mampu menyerap polusi udara, bau busuk sampah yang memenuhi udara perkampungan di sekitar TPA. Di akhir tahun 2011, gejala ini sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Langkah strategis pun diambil oleh pemerintah Kota Sukabumi, dengan diusulkan pembangunan Hutan Kota oleh masyarakat sekitar.

Wilayah Sela Jambu dan Cipanengah Hilir dipilih untuk dijadikan lahan Hutan Kota. Kemudian, pada medio 2012, dibangunlah Hutan Kota. Berbagai jenis pohon yang akan menghasilkan dedaunan lebat serta rindang ditanam di wilayah ini.

Keberadaan Hutan Kota di wilayah peri-peri Kecamatan Lembursitu ini merupakan langkah pencegahan terhadap semakin buruknya kondisi udara karena telah tercemar oleh bau busuk sampah dari TPA. Kecuali itu, untuk mengantisipasi kekurangan air bersih di musim kemarau bagi beberapa penduduk yang berada di kaki-kaki bukit Sala Jambu.

Baca Juga :  Santriwati asal Sukalarang Hilang 4 Hari Kembali ke Sukabumi, Ini Alasannya

Di tahun 2013 ini, dampak dari pembangunan Hutan Kota bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar, Polusi Udara –meskipun bau busuk sampah TPA masih tercium di saat-saat tertentu- namun kekuatan baunya telah diminimalisir oleh banyaknya pepohonan rindang yang tumbuh di Hutan Kota tersebut.

4. Tetap Peduli Terhadap Kota Sukabumi

Meskipun tak lagi menjabat sebagai Wali Kota Sukabumi, namun Ceu Molly masih menunjukkan kepeduliannya terhadap kota yang pernah dipimpinnya.

Hal itu tergambar ketika ia melakukan dialog bersama Mahasiswa dengan tema Partisipasi Politik Perempuan Sunda, digelar di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi, Sabtu (31/3/2018).

Peran Perempuan di Kota Sukabumi yang berperan aktif dalam berpolitik, dengan Nada Bahasa Sunda yang kental Molly berujar, “Iya sebenarnya sih Kesempatannya ada, tapi mau atau tidak nya perempuan itu sendiri berjuang untuk merebutnya. Kalau selama ini dia hanya menunggu saja, sebagai pelengkap saja lalu menerima saja apa adanya, dimarjinalkan itu yang sampai kapanpun juga gak akan maju. akhirnya yang maju itu boleh dikatakan rada Nutup Beunget (nutup wajah) lah gitu,” ujar Molly.

Usai acara, ia menyampaikan rasa mirisnya ketika dimintai pendapat tentang pesta demokrasi lima tahunan di Kota Mochi.

“Setahu saya agak- agak miris untuk berkomentar, khawatir, mau dibawa ke mana Negaraku. bukan di Sukabumi dimana-mana juga sama kondisinya begini,” ungkap Ceu Molly.

Menurutnya, politik harus memiliki tujuan yang baik, bagaimana memuat kesejahteraan dan menyejahterakan masyarakat.

Nah kalau sekarang para politikus merubah sedemikian rupa, orientasinya bukan untuk kebaikan apalagi bukan untuk keseluruhan tapi hanya untuk kelompok atau apa gitu, saya rasa kurang bagus, itu saja,” sesalnya.

5. Memimpin Sekolah Gratis

Di masa tuanya, Ceu Molly masih menunjukkan kepeduliannya dengan memimpin sebuah sekolah gratis milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, Bina Siswa SMA Plus Cisarua. Sekolah yang berlokasi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Sekolah tersebut merupakan satuan pendidikan milik Pemprov Jabar yang memiliki asrama, menampung siswa-siswi lulusan SMP/MTs yang berprestasi dan berpotensi dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat.

Ketika Gubernur Jawa Barat dijabat H. R. Nuriana, berniat menampung siswa-siswi lulusan SMP/MTs yang berprestasi dan berpotensi dengan status yatim piatu dan keluarga lengkap dengan kategori perlu dibantu, maka didirikanlah Asrama Bina Siswa SMA Plus Cisarua pada 1995.

“Niatan luhur yang secara tersirat menjadi visi-misi tersebut, kami pertahankan sampai saat ini,” jelas Molly yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana Bina Siswa SMA Plus Cisarua.

Hingga angkatan XXI (2015-2016), Bina Siswa SMA Plus Cisarua meluluskan 1.307 alumni. Dari jumlah tersebut, yatim piatu 2,37%, yatim 19.59%, piatu 5,13%, dan orangtua lengkap 72.92%.

“Setiap siswa tidak dipungut biaya. Kita menggratiskan biaya sekolah dan biaya hidup selama belajar di asrama Bina Siswa SMA Plus Cisarua  dan SMAN 1 Cisarua. Biaya tersebut, seluruhnya ditanggung Pemerintah Provinsi Jabar melalui APBD setiap tahun,” tambah Molly.

Berita Terkait

Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?
Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak
Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda
Nirkabel! Tak lama lagi Palabuhanratu dan Cikole Sukabumi bebas kabel listrik dan telepon
Sejarah, tugas dan daftar Jaksa Agung RI dari masa ke masa, pertama tokoh antikorupsi asal Sukabumi
Penduduk miskin Kota Sukabumi naik, ranking berapa se-Jawa Barat?
Bak kamar mayat, angka kematian di Kota Sukabumi 3 kali lipat dari kelahiran
Sukabumi berapa? Ini jumlah penduduk kota dan kabupaten se-Jawa Barat 2021-2025

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 10:00 WIB

Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?

Rabu, 2 April 2025 - 03:32 WIB

Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak

Selasa, 1 April 2025 - 00:01 WIB

Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda

Senin, 31 Maret 2025 - 13:00 WIB

Nirkabel! Tak lama lagi Palabuhanratu dan Cikole Sukabumi bebas kabel listrik dan telepon

Minggu, 30 Maret 2025 - 10:00 WIB

Sejarah, tugas dan daftar Jaksa Agung RI dari masa ke masa, pertama tokoh antikorupsi asal Sukabumi

Berita Terbaru