Indah Bak Tanah Surga Jatuh ke Bumi Tapi Terkesan Seram, Ini Asal-usul Nama Pulau Kunti di Sukabumi

- Redaksi

Kamis, 31 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Kunti jadi spot pengambilan gambar dua film Livi Zheng. l Istimewa

Pulau Kunti jadi spot pengambilan gambar dua film Livi Zheng. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Sebuah destinasi wisata alam yang memesona menghampar di selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Keindahannya yang sulit untuk dilupakan membuatnya begitu populer di kalangan para wisatawan dari luar daerah.

Namun sulit dimengerti bagi sebagian orang yang pernah mengunjunginya, daratan yang didominasi bebatuan karang tersebut dinamai Pulau Kunti. Nama yang kontradiktif dengan keindahan yang disajikan pulau kecil yang terletak di kawasan Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu itu.

Lantas, kenapa dinamai Pulau Kunti dan adakah hubungannya dengan kuntilanak, hantu perempuan yang begitu populer di Indonesia?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi sebagian orang mendengar nama Kunti disebut, mungkin sudah membuat bulu kuduk berdiri. Tapi lain halnya dengan masyarakat setempat.

Asal Usul Pulau Kunti

Untuk menuju ke Pulau Kunti, pengunjung harus menyeberang menggunakan perahu dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit.

Rasa was-was sepanjang naik perahu akan terobati dengan pemandangan berupa hamparan pasir putih. Di sisi kiri dari arah datangnya perahu terdapat deretan karang sisa lava gunung api (lava bantal) dari puluhan juta tahun silam.

Baca Juga :  Wisata Religi, Menyusuri Misteri Goa Karang Pamulang Palabuhanratu Sukabumi

Selain itu, di bawah laut pulau ini juga terkenal memiliki pemandangan yang menawan, terutama bagi para pecinta petualangan bawah laut.

6
Terumbu Karang di Pulau Kunti I Istimewa

Ada nuansa gersang jika melihat rerumputan yang sudah berwarna coklat dan mengering di beberapa bagian karang.

Menurut salah seorang warga setempat, Saman, pulau tersebut termasuk pulau purba yang tercipta dari letusan gunung api bawah laut pada sekira 60 juta tahun silam.

Diceritakan Saman, nama pulau tersebut memang diambil dari suara tawa khas mahluk menakutkan tersebut, kuntilanak.

Hal itu bermula dari cerita seorang nelayan setempat yang sedang mencari ikan di laut dan kerap mendengar suara tawa kuntilanak yang berasal dari pulau tersebut.

Namun ternyata, suara yang menyerupai kuntilanak tersebut berasal dari lubang dan celah-celah karang yang dihantam ombak pasang. Gelombang yang menghantam bebatuan kemudian mengeluarkan suara mirip seperti kuntilanak tertawa.

“Di bawah banyak gua-gua kecil, jadi jika dihantam gelombang 4 sampai 5 meter dia akan mengeluarkan gema mirip tawa kuntilanak,” kata Saman.

Baca Juga :  Tumpukan Sampah di Trotoar Jalan Palabuhanratu - Cisolok Sukabumi

Dari fenomena tersebut, warga setempat kemudian mengenalnya dengan sebutan Pulau Kunti.

Meskipun tergolong memiliki pemandangan yang indah, namun Pulau Kunti tidak dihuni warga setempat. Pulau ini hanya digunakan sebagai tempat singgah oleh wisatawan yang berkunjung.

Goa Jomblo 

Masih di lokasi yang sama, pulau ini juga memiliki goa yang kental akan mitosnya bisa mempercepat datangnya jodoh usai mengunjunginya, namanya Goa Jomblo.

Goa ini termasuk dalam kategori gua litoral yang terdapat di daerah pantai, palung laut, atau tebing muara sungai. Gua jenis ini terbentuk akibat terpaan air laut (abrasi) yang lama kelamaan membentuk lubang pada karang di sekitar pantai.

Goa Jomblo di Pulau Kunti, Sukabumi. l Istimewa
Goa Jomblo di Pulau Kunti, Sukabumi. l Istimewa

Menurut Saman, Goa Jomblo merupakan goa purba terbentuk bersamaan dengan Pulau Kunti. Namun, goa ini menyimpan mitos yang turun temurun, baik dari warga setempat maupun wisatawan.

Konon, bagi siapa saja yang masuk ke dalam goa tersebut, bisa mempercepat mendapatkan tambatan hati alias jodoh.

“Ada mitos siapa yang masuk ke gua itu maka akan dapat jodoh,” kata Saman.

Berita Terkait

1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah
14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I
28 stasiun radio di Sukabumi dan sejarah 13 Februari Hari Radio Sedunia
Sampai kapan orang yang baru memeluk Islam menyandang sebutan mualaf?
Harimau Sunda dan Kontinental: Mengapa hanya dua subspesies maung di dunia?
Pamer manuskrip turats ulama Pasundan, pengertian Haol Masyayikh di Sunanulhuda Sukabumi
Haram! Hukum membuang sampah sembarangan menurut Islam, ini dalilnya
Mengapa di Sukabumi ada nama Loji? Begini asal-usulnya

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 04:21 WIB

1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 04:00 WIB

14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I

Jumat, 13 Februari 2026 - 19:06 WIB

28 stasiun radio di Sukabumi dan sejarah 13 Februari Hari Radio Sedunia

Jumat, 13 Februari 2026 - 01:40 WIB

Sampai kapan orang yang baru memeluk Islam menyandang sebutan mualaf?

Minggu, 1 Februari 2026 - 08:00 WIB

Harimau Sunda dan Kontinental: Mengapa hanya dua subspesies maung di dunia?

Berita Terbaru

Ilustrasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

Kalau masih ada maling motor, KDM: Gubernur gagal

Kamis, 19 Feb 2026 - 03:30 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131