Jadi Miliarder dari Jualan Cilok, Harsono Punya 3 Apartemen dan 13 Rumah Kontrakan

- Redaksi

Rabu, 12 Oktober 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harsono, bos Cilok Edy. l Istimewa

Harsono, bos Cilok Edy. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l Kisah Harsono ini akan membuktikannya, geng. Berkat cilok, ia bisa punya aset miliaran dan berjuluk “Tukang Cilok Naik Haji”.

Cilok Edy adalah cilok yang cukup populer di kota Jember. Gerobaknya seringkali ditemui di berbagai area kampus seperti Universitas Jember dan Universitas Muhammadiyah Jember, serta di depan kantor DRPD Jember.

Jajanan tersebut digemari oleh berbagai kalangan, dari anak-anak, mahasiswa, hingga orang dewasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui, Cilok Edy juga pernah membuka sejumlah cabang di Probolinggo dan Bondowoso. Saking laris manis dan populernya, Cilok Edy mampu meraup Rp5 juta dari empat rombong. Bahkan, sebelum pandemi melanda, omzetnya mencapai Rp8 juta per hari.

Jadi bos cilok di Jember, Harsono mengungkapkan dirinya telah membeli 3 apartemen, 13 rumah kontrakan, dan sawah. Ia juga telah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 2019.

Tak menggapai kesuksesan secara instan, ini dia sepak terjang Harsono dan sang istri dalam membesarkan usaha Cilok Edy.

Awal Mula Edy Jualan Cilok

Awalnya, Harsono bekerja sebagai tukang ojek sepeda. Namun pekerjaannya terhenti akibat ia dan sang istri, Siti Fatimah, tak dapat membayar kredit sepedanya – menyebabkan sepeda itu disita.

Baca Juga :  Wanita Sukabumi Ini Boyong 90 Seniman Gelar Pentas Seni Tradisi di Jakarta

Setelah itu, Harsono sempat menjadi tukang becak dan bekerja sebagai honorer petugas kebersihan Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya Jember.

Ide berjualan cilok pun muncul dari ayahnya yang juga berjualan cilok di Bali. Ditambah lagi, saat itu belum ada cilok yang terbuat dari daging di Jember – kebanyakan dibuat dari tepung. Tentu saja, ini adalah peluang bagi Harsono.

Pada 1997, ia dan sang istri meniru bisnis bapaknya dengan menjual cilok berbahan daging sapi dengan modal awal sebesar Rp20 ribu.

Sempat Putus Asa

Harsono mulai berjualan cilok secara keliling sejak pukul 06.30 WIB hingga setelah azan Isya, Biasanya ia berkeliling di berbagai sekolah di Kecamatan Sumbersari sampai Kecamatan Kaliwates.

Dagangannya tak langsung habis, bahkan cilok saat itu masih merupakan makanan baru sehingga banyak wali murid yang tidak memperbolehkan anaknya untuk membeli cilok di sekolah.

Penghasilan yang ia dapat pun hanya sekitar Rp10 ribu, sehingga Harsono sempat enggan berjualan cilok dan memilih kembali jadi tukang becak selama dua bulan.

Baca Juga :  Inspirasi Bisnis Cilok Ciyey Sukabumi, Bertahan Saat Covid-19 Berkembang Pasca-pandemi

Namun, dorongan sang istri membuatnya kembali bersemangat menjual cilok hingga namanya mulai dikenal masyarakat setelah lima tahun berjualan.

Ia memberi nama “Cilok Edy” agar mudah diingat, meski tidak memiliki sangkut paut apapun dengan Harsono dan keluarga.

Seiring dengan meningkatnya permintaan cilok, Harsono mengajukan kredit ke bank senilai Rp15 juta untuk menambah lima rombong cilok.

Dari lima rombong, Cilok Edy berkembang menjadi sepuluh rombong, bahkan sempat membuka cabang di Probolinggo, Bondowoso, dan Lumajang – meski akhirnya tutup karena adanya kecurangan dari pegawai.

Harsono dan Siti Fatimah senantiasa memastikan bahwa rasa cilok produksinya tak pernah berubah, malah cita rasanya semakin ditingkatkan.

Rajin Investasi

Harsono dan istri membuat mereka berdua memilih untuk tidak hanya menabung uang hasil penjualan, namun juga berinvestasi.

Tiga unit apartemen yang dimiliki kemudian disewakan, sementara 13 rumah dikontrakkan dan dijadikan kos-kosan.

Dengan aset-aset tersebut, dirinya dapat melakukan usaha seraya memutar uang agar bisnisnya dapat mengelola bisnis agar tetap lancar.

Menurut Harsono dan sang istri, kunci dari memulai usaha adalah kesabaran dan ketelatenan untuk menghadapi proses.

Berita Terkait

Ada BLT Rp300 ribu, warga Sukabumi wajib tahu 8 fokus Dana Desa 2026 sesuai Permendesa 16/2025
Belanja online fesyen lokal berkualitas di Elizabeth, ada ribuan produk dan gratis ongkir
Cara mendapatkan pupuk bersubsidi di Sukabumi sesuai HET
Ini lho jenis-jenis sumbangan bebas pajak di Indonesia
Kilang minyak Sukabumi kapan? 6 proyek Danantara groundbreaking Januari 2026, ini kata Mensesneg
Menanti IPO Persib di Bursa Efek Indonesia tawarkan 45% saham, ini penjelasan OJK
Dana Desa 2025-2026 larinya ke mana? Begini menurut BPK, Kemenkeu dan Permendes
Resmi! Daftar UMSK Jabar 2026 hasil revisi, Sukabumi Rp3,850 juta

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 05:15 WIB

Ada BLT Rp300 ribu, warga Sukabumi wajib tahu 8 fokus Dana Desa 2026 sesuai Permendesa 16/2025

Kamis, 8 Januari 2026 - 04:12 WIB

Belanja online fesyen lokal berkualitas di Elizabeth, ada ribuan produk dan gratis ongkir

Kamis, 8 Januari 2026 - 03:27 WIB

Cara mendapatkan pupuk bersubsidi di Sukabumi sesuai HET

Rabu, 7 Januari 2026 - 14:39 WIB

Ini lho jenis-jenis sumbangan bebas pajak di Indonesia

Rabu, 7 Januari 2026 - 10:01 WIB

Kilang minyak Sukabumi kapan? 6 proyek Danantara groundbreaking Januari 2026, ini kata Mensesneg

Berita Terbaru

Ilustrasi petani sedang melakukan pemupukan Urea - sukabumiheadline.com

Regulasi

Cara mendapatkan pupuk bersubsidi di Sukabumi sesuai HET

Kamis, 8 Jan 2026 - 03:27 WIB