25.2 C
Sukabumi
Selasa, April 23, 2024

Smartphone dengan Peforma Mewah, Spesifikasi Xiaomi 13T Dilengkapi Kamera Leica

sukabumiheadline.com - Xiaomi selalu menjadi incaran bagi...

Yakin Wanita Sukabumi Tak Minat Beli Yamaha QBIX 125? Intip Spesifikasi dan Harganya

sukabumiheadline.com l Yamaha QBIX 125 telah mengaspal...

Kemiri Sunan, Beracun Tapi Bikin Pejabat Argentina Terpukau Saat Datang ke Parungkuda Sukabumi

EkonomiKemiri Sunan, Beracun Tapi Bikin Pejabat Argentina Terpukau Saat Datang ke Parungkuda Sukabumi

sukabumiheadline.com l Siapa kenal Kemiri Sunan? Tanaman ini berhasil memukau para tamu negara yang berkunjung ke Indonesia yang tergabung dalam delegasi G20 beberapa waktu lalu.

Temuan yang dilakukan dalam upaya Indonesia menyediakan bahan bakar ramah lingkungan di setiap negara dalam rangka mengatasi perubahan iklim.

“Kami kagum dengan hasil temuan dari Indonesia untuk menciptakan sumber energi baru terbarukan. Kami merupakan perwakilan Delegasi G20 dari Argentina yang ingin mengetahui dan belajar banyak dari Badan Litbang Kementan RI mengenai sumber energi baru yang ramah lingkungan,” kata Dr. Pablo Mercuri, dikutip dari laman resmi Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Marves).

Pablo menyampaikan pernyataan tersebut saat berkunjung bersama rombongan di Taman Sains Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), terletak di Jalan Raya Pakuwon KM 2 Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kemiri Sunan. l Istimewa

Pablo yang merupakan Director of Natural Resources Research Center, mengapresiasi Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang tidak ada di negaranya.

Hal ini terlihat banyak inovasi yang dihasilkan oleh para peniliti, karena kekayaan SDA di Indonesia. Salah satunya sumber daya alam yang berhasil dikembangkan adalah CPO, kemiri sunan, dan lainnya.

Kemiri sunan (Reutealis trisperma) memang sangat istimewa, karena memiliki keunggulan dibandingkan bahan bakar nabati lainnya, di antaranya rendeman yang tinggi hingga mencapai 56 persen, dapat tumbuh di lahan kritis, umur produksi yang panjang dan sudah berbuah saat usia 3 atau 4 tahun, serta memiliki diversifikasi produk.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Prof Fadjry Djufry mengatakan, para peserta atau Delegate dari berbagai negara seperti Amerika, Argentina, Jepang, Australia, Afrika, Arab Saudi dan negara peserta G20 lainnya berbagi pengetahuan tentang cara menghadapi perubahan iklim.

“Hari ini sengaja kita bawa ke Balittri di Sukabumi salah satu UPT dari bidang pertanian, kita melihat bagaimana kita menerapkan, bagaimana pola integrasi tanaman perkebunan, dalam rangka memproduksi menghadapi perubahan iklim, seperti tadi kelapa, kopi, kemiri sunan, ada kayu manis,” ujar Fadjry.

Seperti diketahui, bahwa Indonesia beberapa tahun terakhir ini fokus mengembangkan energi baru terbarukan, untuk menggantikan energi fosil yang lambat laun akan hilang, sehingga perlu persiapan peralihan energi agar tetap berkesinambungan.

Fadjry mengatakan, biodiesel dari bahan dasar kemiri sunan ini dapat digunakan untuk bahan bakar traktor dan diperuntukkan bagi petani, juga masyarakat menengah ke bawah.

“Sesuai instruksi bapak Presiden melalui Kementerian Pertanian, swasembada kemandirian energi, dan ini alat sangat bisa digunakan di seluruh Indonesia, jadi setiap pulau atau mungkin di daerah susah bahan baku, kita sesuai dengan komoditi yang ada di sana, kalau di sana ada kelapa ya kelapa kita olah jadi Biodiesel, kalau sawit ya sawit diolah Biodesel,” ucap Fadjry.

Kebutuhan masyarakat, khususnya petani akan bahan bakar murah dan mudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Untuk itu disiasati dalam penyediaan sentral-sentral reaktor di setiap pulau yang jauh dari ibu kota.

Banyak delegasi yang penasaran dengan teknologi pembuatan energi biodiesel itu, terlihat peserta G20 mencoba langsung kendaraan dan traktor yang memakai biodiesel.

Delegasi G20 Jepang Keiichi Hayashi dirinya merasa terpana dengan berbagai temuan sumber bahan bakar yang ramah lingkungan dan menilai temuan Indonesia menjawab perubahan iklim yang menjadi pembahasan utama di dunia khususnya G20.

“Kita tentunya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang telah membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan sumber energi yang ramah lingkungan ini, bahkan ini menjadi catatan kami dan mungkin ke depan akan melakukan kerjasama dalam upaya menciptakan sumber energi,” jelasnya.

“Apalagi temuan tersebut sudah diaplikasikan kepada kendaraan dan ternyata berfungsi dengan baik,” tambah pria yang menjabat sebagai Program Director in Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS).

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer