sukabumiheadline.com – Penelitian tentang alasan seseorang melakukan gaslighting, yakni bentuk manipulasi psikologis yang membuat korban meragukan pikiran, ingatan, atau realitas mereka sehingga kehilangan rasa percaya diri dan bergantung pada pelaku, masih sangat terbatas.
Namun, studi terbaru dari Willis Klein, psikolog di McGill University di Montreal, Kanada, memberi gambaran lebih jelas bahwa ada dua motivasi utama di balik perilaku ini.
Inginan mengendalikan pasangan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya, motivasi seseorang melakukan gaslighting adalah untuk menghindari bertanggung jawab atas kesalahan. Demikian hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Personal Relationships, dikutip sukabumiheadline.com dari Huffington Post, Jumat (20/3/2026).
Dalam banyak kasus, gaslighting muncul ketika pelaku ingin menutupi kesalahan besar, termasuk perselingkuhan.
“Gaslighting sering kali merupakan upaya untuk menghindari akuntabilitas, terutama ketika menyangkut perilaku seperti perselingkuhan,” jelas Klein, penulis utama studi.
Dengan memutarbalikkan fakta, pelaku berusaha menutup kesalahan sekaligus membuat pasangannya meragukan versi realitas yang mereka miliki. Strategi ini biasanya dibarengi dengan ungkapan seperti, “Itu tidak pernah terjadi” atau, “Kamu hanya terlalu sensitif”.

Motivasi kedua adalah keinginan untuk mengontrol pasangan. Dalam penelitian, banyak korban gaslighting melaporkan, pasangannya berusaha mengatur bagaimana mereka bertindak, dengan siapa mereka berbicara, dan bahkan pakaian apa yang dikenakan.
“Gaslighting adalah bentuk kontrol. Pelaku ingin mendikte perilaku korban, siapa yang boleh mereka temui, bahkan bagaimana mereka melihat diri sendiri,” terang Klein.
Upaya kontrol ini tidak selalu terlihat frontal. Kadang upaya ini muncul lewat sikap manis berlebihan pada awal hubungan, yang dikenal sebagai love-bombing.
“Pemenuhan kebutuhan emosional secara cepat menciptakan ikatan kuat sekaligus rasa berutang budi pada korban,” tambah dia.
Dari ikatan inilah pelaku mendapatkan celah untuk menanamkan pengaruh yang lebih besar.
Tahapan perilaku gaslighting dalam hubungan

Studi tersebut juga menemukan pola perilaku yang umum dilakukan oleh gaslighter dan sering kali muncul dalam beberapa tahap.
1. Love-bombing: Pada awal hubungan, gaslighter kerap menampilkan diri sebagai pasangan yang penuh kasih dan perhatian. Mereka memberikan pujian berlebihan, hadiah, atau perhatian intensif. Menurut Klein, hal ini menciptakan ikatan emosional cepat dan membuat korban merasa berutang budi.
“Love-bombing mempercepat terbentuknya epistemic trust yakni kepercayaan terhadap pasangan sebagai sumber validasi diri. Namun, justru inilah yang nantinya dimanipulasi,” jelas Klein.
2. Mengisolasi Korban: Setelah ikatan terjalin, gaslighter mulai menjauhkan korban dari keluarga atau teman dekat. Dengan begitu, korban kehilangan dukungan sosial yang bisa menjadi sumber kebenaran alternatif.
3. Perubahan Sikap yang Tak Terduga: Gaslighter sering berperilaku tidak konsisten, berpindah dari sikap penuh kasih ke sikap dingin atau bahkan marah. Hal ini membuat korban selalu merasa waspada dan bingung.
4. Memberi Hukuman Diam: Salah satu taktik manipulatif lainnya adalah cold-shouldering yakni mengabaikan pasangan tanpa penjelasan. Tujuannya agar korban merasa bersalah dan mencari cara untuk “memperbaiki” hubungan









