KH Ahmad Sanusi: Mengingat 5 fase hidup ulama pejuang dari Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 9 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pahlawan Nasional asal Sukabumi, KH Ahmad Sanusi - sukabumiheadline.com/AI

Ilustrasi Pahlawan Nasional asal Sukabumi, KH Ahmad Sanusi - sukabumiheadline.com/AI

sukabumiheadline.com – Di tanah Sukabumi yang sejuk, pernah lahir seorang ulama besar yang hidupnya diabdikan untuk ilmu, umat, dan kemerdekaan bangsa. Namanya KH Ahmad Sanusi — seorang cendekiawan Islam, pejuang pemikiran, dan tokoh yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.

1. Awal kehidupan dan pendidikan

KH Ahmad Sanusi dilahirkan di Sukabumi, pada Jumat, 12 Muharram 1306 H yang bertepatan dengan 18 September 1888. Ia lahir di Kampung Cantayan, Desa Cantayan, Kecamatan Cicantayan (dulu bagian dari Cibadak), Kabupaten Sukabumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kecintaannya pada ilmu agama membawanya menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Jawa Barat, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ilmu ke Tanah Suci Mekkah.

Di Mekkah, KH Ahmad Sanusi tidak hanya belajar, tetapi menjadi ulama yang diakui. Ia berguru kepada para ulama besar dunia Islam dan mendalami berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, fikih, tauhid, hingga tasawuf.

Baca Juga:

Kecintaan ulama pendiri Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum itu kepada ajaran yang dibawa leluhur biologisnya, Nabi Muhammad SAW, membuatnya disegani sekaligus menjadi rujukan banyak kalangan umat Islam kala itu.

Terkait nasabnya hingga ke Rasulullah SAW, diungkap oleh Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, di mana menurut pengakuannya, KH Ahmad Sanusi kawan karib kakeknya mantan Menteri Agama RI di era Presiden Megawati Soekarnoputri itu.

2. Ulama produktif dan pemikir tajam

Ilustrasi KH Ahmad Sanusi muda, Pahlawan Nasional asal Sukabumi - sukabumiheadline.com
Ilustrasi KH Ahmad Sanusi muda, Pahlawan Nasional asal Sukabumi – sukabumiheadline.com/AI

Sekembalinya ke tanah air, KH Ahmad Sanusi dikenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis. Karya-karyanya mencapai puluhan kitab, sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab dan Sunda Pegon.

Baca Juga :  Usia Harapan Hidup warga Kabupaten Sukabumi 75,12 tahun, kalah dari Garut dan Pangandaran

Tulisan-tulisannya bukan sekadar kitab, tetapi senjata pemikiran — membangkitkan kesadaran umat, menguatkan akidah, dan melawan kebodohan yang sengaja dipelihara oleh penjajah.

Bahkan, tulisan-tulisan KH Ahmad Sanusi mendapatkan pujian dari Martin van Bruinessen adalah antropolog, orientalis, dan penulis asal Belanda, yang telah menerbitkan sejumlah tulisan berkaitan dengan warga Kurdi, Turki, Indonesia, Iran, Gaza, dan juga Islam.

Untuk informasi, Martin van Bruinessen lahir pada 10 Juli 1946 di Schoonhoven, Utrecht, Belanda. Ia menikah dengan Rini Goenarto dan memiliki seorang anak bernama Bektash Raharjo.

Berita Terkait:

Mengutip dari tulisan H. Istikhori, Dosen Hadis & Ulumul Hadits STAI Sukabumi, KH Ahmad Sanusi tidak hanya dikenal di Tatar Pasundan, namun juga Bengkulu dan Johor, Malaysia.

Sosoknya dikenal luas sebagai seorang mufassir (fakar Tafsir) dan faqīh (fakar fikih) ternama dengan karya-karya yang telah dibaca berbagai kalangan, meski dirinya juga memiliki kapasitas keilmuan yang memadai dalam bidang ilmu akidah, fikih, bahasa Arab berikut gramatikal dan sastranya, mantiq, termasuk kedalamannya dalam bidang Hadits Nabi SAW.

Kecintaan ulama pendiri Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum, Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat itu kepada ajaran yang dibawa leluhur biologisnya, Nabi Muhammad SAW, membuatnya disegani sekaligus menjadi rujukan banyak kalangan umat Islam kala itu.

3. Perlawanan terhadap penjajahan

Pemikiran KH Ahmad Sanusi dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia vokal mengkritik ketidakadilan, penjajahan, dan penindasan terhadap umat Islam.

Baca Juga :  Ini 26 kecamatan penghasil padi gogo di Sukabumi, Cikakak paling sedikit

Akibat sikapnya yang tegas, ia ditangkap dan dibuang ke berbagai tempat, termasuk ke Batavia dan Bengkulu. Namun, pembuangan tidak memadamkan semangatnya. Di mana pun ia berada, ilmu tetap diajarkan, kitab tetap ditulis, dan dakwah terus menyala. Baca lengkap: Semangat Melawan Penjajahan dan Perjalanan Panjang Syamsul ‘Ulum Sukabumi

4. Warisan dan pengaruh

Silsilah ulama dan Pahlawan Nasional asal Sukabumi, KH Ahmad Sanusi hingga ke Rasulullah SAW
Pahlawan Nasional asal Sukabumi, KH Ahmad Sanusi hingga ke Rasulullah SAW – Ist

KH Ahmad Sanusi adalah salah satu pendiri Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII), organisasi Islam yang berperan besar dalam pendidikan dan dakwah di Jawa Barat.

Pemikiran dan perjuangannya menjadi fondasi lahirnya banyak ulama dan tokoh pergerakan Islam Sunda. Ia adalah simbol bahwa pena bisa lebih tajam dari pedang.

5. Wafat dan pengakuan

KH Ahmad Sanusi wafat pada 17 November 1950. Namun, perjuangannya tidak pernah wafat. Atas jasa dan pengabdiannya, negara menetapkannya sebagai. Baca selengkapnya: Pemerintah Beri Anugerah 5 Pahlawan Nasional, Salah Satunya Ulama asal Sukabumi

KH Ahmad Sanusi menjadi satu di antara lima tokoh bangsa yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, pada 7 November 2022 lalu, setelah dikonfirmasi oleh Menko Polhukam, Mahfud MD, melalui cuitannya pada hari ini, Kamis (3/11/2022).

Pemerintah akan anugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 5 putera pejuang dan pengisi kemerdekaan Indonesia. Kepada daerah-daerah dan institusi-institusi warisannya dipersilahkan melakukan tahniah (syukuran). Penganugerahan gelar oleh Presiden akan dilakukan di Istana Negara tanggal 7 Nov 2022,” ucapnya di akun Twitter @mohmahfudmd.

Anugerah Pahlawan Nasional untuk KH Ahmad Sanusi diterima cucu perempuan Hj. Neni Fauziah dari Presiden Joko Widodo. Baca lengkap: Gelar Pahlawan Ulama asal Sukabumi Diterima Cucu Perempuan, Profil Neni Fauziah

Berita Terkait

Kathellen Sousa, rekan Cristiano Ronaldo mualaf jelang Ramadhan
1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah
14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I
28 stasiun radio di Sukabumi dan sejarah 13 Februari Hari Radio Sedunia
Sampai kapan orang yang baru memeluk Islam menyandang sebutan mualaf?
Harimau Sunda dan Kontinental: Mengapa hanya dua subspesies maung di dunia?
Pamer manuskrip turats ulama Pasundan, pengertian Haol Masyayikh di Sunanulhuda Sukabumi
Haram! Hukum membuang sampah sembarangan menurut Islam, ini dalilnya

Berita Terkait

Jumat, 20 Februari 2026 - 02:04 WIB

Kathellen Sousa, rekan Cristiano Ronaldo mualaf jelang Ramadhan

Kamis, 19 Februari 2026 - 04:21 WIB

1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 04:00 WIB

14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I

Jumat, 13 Februari 2026 - 19:06 WIB

28 stasiun radio di Sukabumi dan sejarah 13 Februari Hari Radio Sedunia

Jumat, 13 Februari 2026 - 01:40 WIB

Sampai kapan orang yang baru memeluk Islam menyandang sebutan mualaf?

Berita Terbaru

Ilustrasi angkot, ojek pangkalan dan tukang becak - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

KDM: Lebaran opang, becak, angkot libur dua pekan

Sabtu, 21 Feb 2026 - 03:43 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131