Kisah Adang, sopir angkot era 7 presiden asal Sukabumi terdesak digitalisasi transportasi publik

- Redaksi

Rabu, 8 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sukabumiheadline.com – Kisah Adang, sopir angkot di Sukabumi, Jawa Barat, yang terdesak digitalisasi transportasi publik mungkin bukan pertama dan satu-satunya. Namun, Adang yang sudah menjadi pilot darat angkutan kota sejak era Orde Baru, mengaku saat ini kondisi ekonominya jauh lebih berat.

Pria berusia 58 tahun itu mengaku menjadi sopir angkot sejak 1995, atau tepatnya era Presiden RI ke-2 Soeharto. Namun sebelum menjadi sopir angkot, ia mengawalinya dengan menjadi sopir truk.

“Berat. Sekarang mah semakin berat. Apalagi setahun terakhir ini,” kata ayah 5 anak dan 5 cucu itu kepada sukabumiheadline.com, Rabu (8/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya jadi sopir angkot itu dari tahun 1995, waktu itu setoran masih 12 ribu Rupiah sehari. Ongkos juga cuma 100 Rupiah,” lanjut pria warga Kampung Pakuwon, Desa Cibodas, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi itu.

Bahkan ketika era Presiden RI ke-3, BJ Habibie, kondisi terbilang tidak seberat saat ini. Meskipun diakuinya saat itu dalam kondisi krisis moneter. Kemudian era Presiden RI ke-4 dan ke-5, Megawati Soekarnoputri dan Abdurrahman Wahid, diakuinya tidak seberat saat ini.

“Zaman Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke-6), masih mending. Baru sejak zaman Jokowi (Joko Widodo, Presiden RI ke-7) mulai terasa beratnya,” ungkapnya.

“Dan sekarang paling parah, zaman Prabowo (Subianto) nih. Makin terasa banget beratnya,” kata Adang.

Ia lalu bercerita, meskipun jadi sopir angkot, pada era Presiden SBY, ia masih bisa membiayai anaknya kuliah kebidanan.

“Dulu, kang. Walaupun saya cuma sopir angkot, saya masih bisa membiayai anak kuliah kebidanan. Alhamdulillah, sekarang sudah jadi bidan. Tugasnya di Garut,” paparnya.

“Sekarang tinggal dua lagi anak, kelas satu SMA dan satu lagi SD kelas lima,” imbuh Adang.

Saat ini, kata sopir angkot 09 trayek Cibadak-Benda itu, andai ia bisa membawa pulang ke rumah uang Rp100 ribu, sisa setor ke pemilik angkot, benar-benar sebuah anugerah.

“Beneran. Saking susahnya, malah sekarang lebih sering 50 ribu Rupiah malah. Bahkan, pernah cuma 20 ribu Rupiah. Tapi ya alhamdulillah, istri bisa aja ngaturnya, walaupun dia gak kerja. Jadi kalau bisa bawa pulang 100 ribu Rupiah, itu makan enak lah,” papar Adang.

Terdesak digitalisasi transportasi publik

Adang mengungkap sejumlah tantangan yang membuat profesinya kini kian terdesak. Dari mulai jumlah kepemilikan kendaraan bermotor oleh warga yang terus bertambah, jumlah angkot yang mencapai lebih dari 500 unit, hingga digitalisasi transportasi publik.

“Tahun 2000 sampai 2005an, banyak pegawai dan anak sekolah yang masih menggunakan angkot. Kalau sekarang, kebanyakan sudah pada punya kendaraan sendiri. Anak sekolah bawa motor sendiri, apalagi karyawan pabrik,” jelas Adang.

“Sekarang anak pabrik tuh, kalaupun gak punya kendaraan sendiri, mereka pakai jasa ojek antar jemput,” imbuhnya.

Di sisi lain, kemunculan sejumlah penyedia jasa transportasi online, diakuinya telah membuat sopir angkot kian terdesak.

“Sekarang kan kalau anak muda ke mana-mana tinggal buka aplikasi di handphone. Semua serba online. Nah, kita sekarang paling berebut pelajar yang ongkosnya dua ribu Rupiah, atau ya orang tua,” katanya.

“Sedangkan, angkot 09 saja sekarang jumlahnya sekira 500 unit. Udah penumpang makin sedikit, masih harus berebut juga,” pungkasnya.

Berita Terkait

BASB ancam tutupi Pendopo Sukabumi dengan kain kafan
Tabrakan beruntun di Cibadak Sukabumi, lebih dari Rp50 juta melayang
Innalillahi, pria asal Cicurug Sukabumi jadi korban tabrakan maut
Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 disetujui DPRD Kabupaten Sukabumi
Polda Jabar ungkap dugaan korupsi Rp9,8 miliar proyek Jembatan Cipamuruyan Sukabumi
Wanita Sukabumi sulit dapat jodoh? Ini 5 kecamatan paling banyak dihuni cowok ganteng
Lagi, keluhan tentang kemacetan lalin di Cibadak Sukabumi dan absennya pemda
DPRD Kabupaten Sukabumi dorong percepatan UHC

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:37 WIB

Kisah Adang, sopir angkot era 7 presiden asal Sukabumi terdesak digitalisasi transportasi publik

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:00 WIB

BASB ancam tutupi Pendopo Sukabumi dengan kain kafan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:44 WIB

Tabrakan beruntun di Cibadak Sukabumi, lebih dari Rp50 juta melayang

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:39 WIB

Innalillahi, pria asal Cicurug Sukabumi jadi korban tabrakan maut

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:51 WIB

Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 disetujui DPRD Kabupaten Sukabumi

Berita Terbaru