Kisah herois romantis Nyi Pudak Arum dan Wangsa Suta di balik berdirinya Kota Sukabumi masa silam

- Redaksi

Selasa, 27 Agustus 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Nyi Pudak Arum - Istimewa

Ilustrasi Nyi Pudak Arum - Istimewa

sukabuiheadline.com – Tercatat di dalam Pantun Pajajaran Tengah (Pantun Bogor) Karya Aki Buyut Baju Rambeng, seorang pujangga misterius jaman VOC (abad 18) yang fenomenal.

Pantun yang mengisahkan legenda Babakan di Sukabumi ini meski belum menjadi pijakan sejarah, namun menjadi satu-satunya kisah legenda yang mengisi kekosongan sejarah wilayah Sukabumi pasca Pajajaran runtuh, dan sebelum masuknya bangsa asing ke wilayah Sukabumi sejak 1687.

Rekomendasi Redaksi: Geert Wilders, tokoh anti Islam berdarah Sukabumi ini gagal jadi PM Belanda meski menang Pemilu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantun ini konon diwariskan kepada Raden Wanda Sumardja kemudian kepada Raden Mochtar Kala, dan terakhir kepada Drs. Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda. Pantun ini cukup fenomenal karena sesudah meninggalnya Ki Anis, pantun tersebut menjadi rebutan klaim beberapa fihak yang merasa sebagai pewaris.

Ada yang mengklaim sebagai murid atau sekadar karena pengalaman mistis ritual. Hingga sebagian terus menelusuri baik yang direstui oleh keluarga pewaris maupun yang dianggap sebagai maling karena mengambil dan menyebarkan kesakralannya tanpa izin.

Rekomendasi Redaksi: 5 Misteri Pendakian Gunung Gemuruh oleh Raffles dan De Wilde di Batas Sukabumi-Cianjur

Konon, pantun ini tidak sembarangan dibuka ke publik, dan hanya patut dilakukan oleh orang yang terpilih. Pleyte (1906), mengkategorikan Pantun Bogor sebagai historiografi tradisi melalui jurnal Volk en Volkenkunde yang merupakan jurnal kisah-kisah rakyat yang tidak menjadi acuan sejarah utama.

Historiografi tradisional sendiri memang lebih merupakan ekspresi kultural dibandingkan rekaman masa lampau.

Namun, setidaknya kurun hidup sang pujangga yang tidak terlalu jauh dari masa hancurnya Pajajaran, lebih terlihat orisinil dan menggambarkan kisah aslinya dibandingkan versi lain yang dibuat beberapa dekade ke belakang. Sehingga, terkesan sebagai pseudo sejarah yang jauh dari fakta.

Baca Juga :  Daftar Lengkap Wali Kota Sukabumi Sejak Zaman Hindia Belanda, Hanya Ada Satu Wanita

Babakan, awal Kota Sukabumi

Dalam Pantun Bogor juga dikisahkan asal muasal munculnya Babakan di Gunung Parang (cikal bakal Kota Sukabumi). Konon, pasca Pakuan dihancurkan pasukan Banten, Kadatuan Pamingkis yang berpusat di Gunung Walat juga mengalami serangan serupa.

Rekomendasi Redaksi: Ini Lho Sejarah Singkat Asal-usul Kota Ini Dinamai Sukabumi

Pemimpinnya tewas, sementara istrinya yang sedang hamil melarikan diri ke selatan bersama para pembantunya. Sang istri kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Nyi Raden Pudak Arum.

Semakin dewasa semakin terkenal kecantikan Nyi Pudak Arum ini sehingga menjadi incaran para menak saat itu. Namun, siapapun yang menikahinya langsung meninggal seketika.

Baca Juga:

Balai Kota Sukabumi - Istimewa
Balai Kota Sukabumi – Istimewa

Setting Nyi Pudak Arum ini dimungkinkan berlangsung sekira 1614, di mana pengaruh Mataram sudah masuk ke Sukabumi dan mengklaim wilayah yang tidak diduduki Banten ini.

Dalam versi Sumur Wangi, Raden Kartala (Demang Mangkalaya) menyarankan supaya Nyi Pudak Arum dihadiahkan kepada Sultan Mataram. Tetapi Penasehat Demang, Mas Sakatana, melarangnya karena tanah Sunda akan menjadi habis oleh kejayaan bangsa Jawa. Untuk menghindari dunia berat sebelah sebelum waktunya, sang Demang diberi saran gila, membunuh Sang putri!

Baca Juga :  Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda

Rekomendasi Redaksi: Dulu Bernama Ciheulang, 5 Catatan Sejarah Kota Cibadak Sukabumi Sejak Zaman Purba

Namun, diam-diam Nyi Pudak Arum ternyata menjalin kasih dengan pemuda bernama Ki Wangsa Suta yang sedang belajar di Resi Saradeya di Kiara Gantung dan ngababakan di Gunung Parang. Dalam versi lain, disebutkan bahwa Ki Wangsa Suta adalah anak yang kehilangan orang tua dan diadopsi oleh Nyi Puntang Mayang saat dalam pelarian dari kejaran Banten.

Untungnya, sebelum eksekusi mati dilaksanakan, Wangsa Suta berhasil menyelamatkannya dan menyuruh Pudak Arum melarikandiri dan menunggunya di Tegal Kole pada tempat yang ada Pakujajar (Kipaharé) berdahan lima.

Setelah berhasil mengalahkan para eksekutor, Wangsa Suta mendatangi tempat yang dijanjikan bertemu Pudak Arum. Namun, ia tak mendapati sang kekasih di tempat yang dijanjikan tersebut.

Di luar pengetahuan Wangsa Suta, ternyata Pudak Arum ditangkap oleh Bajo (rampok) yang kemudian menjualnya ke Dayeuh Muhara Cihaliwung (Jakarta sekarang). Ki Wangsa Suta kemudian meminta pertolongan Resi Saradeya yang sudah bertempat di Gunung Arca.

Resi Saradeya memberi petuah dan uga (wangsit) bahwa Nyi Pudak Arum sedang sembunyi di balik zaman dan akan kembali saat Sukabumi penuh dengan rumah-rumah.

Resi Saradeya juga meminta Wangsa Suta untuk membangun babakan di Tegal Kole (saat ini lokasinya sekitar Supermarket Yogya). Babakan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Sukabumi sekarang.

Tulisan ini disarikan dari: Tumbuhan dari Khayangan dan kisah herois romantis di balik berdirinya Kota Sukabumi


Dilarang republikasi artikel kategori Headline dan Rubrik Headline tanpa seizin Redaksi sukabumiheadline.com

Berita Terkait

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat
Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan
Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi
Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya
Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi
Hasil rukyatul hilal di Sukabumi, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Mengenang kiprah Wisjnu Mouradhy, jurnalis dan tokoh film nasional asal Sukabumi era 1940
Masih binggung? Jangan abaikan aturan qadha dan fidyah bagi yang batal puasa Ramadhan ini

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 00:01 WIB

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat

Selasa, 1 April 2025 - 20:44 WIB

Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan

Senin, 31 Maret 2025 - 21:56 WIB

Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi

Senin, 31 Maret 2025 - 10:00 WIB

Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya

Minggu, 30 Maret 2025 - 00:01 WIB

Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi

Berita Terbaru