sukabuiheadline.com – Tercatat di dalam Pantun Pajajaran Tengah (Pantun Bogor) Karya Aki Buyut Baju Rambeng, seorang pujangga misterius jaman VOC (abad 18) yang fenomenal.
Pantun yang mengisahkan legenda Babakan di Sukabumi ini meski belum menjadi pijakan sejarah, namun menjadi satu-satunya kisah legenda yang mengisi kekosongan sejarah wilayah Sukabumi pasca Pajajaran runtuh, dan sebelum masuknya bangsa asing ke wilayah Sukabumi sejak 1687.
Rekomendasi Redaksi: Geert Wilders, tokoh anti Islam berdarah Sukabumi ini gagal jadi PM Belanda meski menang Pemilu
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantun ini konon diwariskan kepada Raden Wanda Sumardja kemudian kepada Raden Mochtar Kala, dan terakhir kepada Drs. Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda. Pantun ini cukup fenomenal karena sesudah meninggalnya Ki Anis, pantun tersebut menjadi rebutan klaim beberapa fihak yang merasa sebagai pewaris.
Ada yang mengklaim sebagai murid atau sekadar karena pengalaman mistis ritual. Hingga sebagian terus menelusuri baik yang direstui oleh keluarga pewaris maupun yang dianggap sebagai maling karena mengambil dan menyebarkan kesakralannya tanpa izin.
Rekomendasi Redaksi: 5 Misteri Pendakian Gunung Gemuruh oleh Raffles dan De Wilde di Batas Sukabumi-Cianjur
Konon, pantun ini tidak sembarangan dibuka ke publik, dan hanya patut dilakukan oleh orang yang terpilih. Pleyte (1906), mengkategorikan Pantun Bogor sebagai historiografi tradisi melalui jurnal Volk en Volkenkunde yang merupakan jurnal kisah-kisah rakyat yang tidak menjadi acuan sejarah utama.
Historiografi tradisional sendiri memang lebih merupakan ekspresi kultural dibandingkan rekaman masa lampau.
Namun, setidaknya kurun hidup sang pujangga yang tidak terlalu jauh dari masa hancurnya Pajajaran, lebih terlihat orisinil dan menggambarkan kisah aslinya dibandingkan versi lain yang dibuat beberapa dekade ke belakang. Sehingga, terkesan sebagai pseudo sejarah yang jauh dari fakta.
Babakan, awal Kota Sukabumi
Dalam Pantun Bogor juga dikisahkan asal muasal munculnya Babakan di Gunung Parang (cikal bakal Kota Sukabumi). Konon, pasca Pakuan dihancurkan pasukan Banten, Kadatuan Pamingkis yang berpusat di Gunung Walat juga mengalami serangan serupa.
Rekomendasi Redaksi: Ini Lho Sejarah Singkat Asal-usul Kota Ini Dinamai Sukabumi
Pemimpinnya tewas, sementara istrinya yang sedang hamil melarikan diri ke selatan bersama para pembantunya. Sang istri kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Nyi Raden Pudak Arum.
Semakin dewasa semakin terkenal kecantikan Nyi Pudak Arum ini sehingga menjadi incaran para menak saat itu. Namun, siapapun yang menikahinya langsung meninggal seketika.
Baca Juga:

Setting Nyi Pudak Arum ini dimungkinkan berlangsung sekira 1614, di mana pengaruh Mataram sudah masuk ke Sukabumi dan mengklaim wilayah yang tidak diduduki Banten ini.
Dalam versi Sumur Wangi, Raden Kartala (Demang Mangkalaya) menyarankan supaya Nyi Pudak Arum dihadiahkan kepada Sultan Mataram. Tetapi Penasehat Demang, Mas Sakatana, melarangnya karena tanah Sunda akan menjadi habis oleh kejayaan bangsa Jawa. Untuk menghindari dunia berat sebelah sebelum waktunya, sang Demang diberi saran gila, membunuh Sang putri!
Rekomendasi Redaksi: Dulu Bernama Ciheulang, 5 Catatan Sejarah Kota Cibadak Sukabumi Sejak Zaman Purba
Namun, diam-diam Nyi Pudak Arum ternyata menjalin kasih dengan pemuda bernama Ki Wangsa Suta yang sedang belajar di Resi Saradeya di Kiara Gantung dan ngababakan di Gunung Parang. Dalam versi lain, disebutkan bahwa Ki Wangsa Suta adalah anak yang kehilangan orang tua dan diadopsi oleh Nyi Puntang Mayang saat dalam pelarian dari kejaran Banten.
Untungnya, sebelum eksekusi mati dilaksanakan, Wangsa Suta berhasil menyelamatkannya dan menyuruh Pudak Arum melarikandiri dan menunggunya di Tegal Kole pada tempat yang ada Pakujajar (Kipaharé) berdahan lima.
Setelah berhasil mengalahkan para eksekutor, Wangsa Suta mendatangi tempat yang dijanjikan bertemu Pudak Arum. Namun, ia tak mendapati sang kekasih di tempat yang dijanjikan tersebut.
Di luar pengetahuan Wangsa Suta, ternyata Pudak Arum ditangkap oleh Bajo (rampok) yang kemudian menjualnya ke Dayeuh Muhara Cihaliwung (Jakarta sekarang). Ki Wangsa Suta kemudian meminta pertolongan Resi Saradeya yang sudah bertempat di Gunung Arca.
Resi Saradeya memberi petuah dan uga (wangsit) bahwa Nyi Pudak Arum sedang sembunyi di balik zaman dan akan kembali saat Sukabumi penuh dengan rumah-rumah.
Resi Saradeya juga meminta Wangsa Suta untuk membangun babakan di Tegal Kole (saat ini lokasinya sekitar Supermarket Yogya). Babakan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Sukabumi sekarang.
Tulisan ini disarikan dari: Tumbuhan dari Khayangan dan kisah herois romantis di balik berdirinya Kota Sukabumi