sukabumiheadline.com – Kesenian tradisional adalah ekspresi keindahan yang diwariskan turun-temurun oleh suatu masyarakat, menjadi bagian dari identitas budaya, dan mencerminkan nilai-nilai serta kehidupan sehari-hari masyarakat.
Keindahan seni tradisional lazimnya diekspresikan melalui berbagai bentuk seperti tari, musik, teater, dan seni rupa, yang berfungsi sebagai hiburan, pendidikan, serta penguat karakter dan jati diri bangsa.
Ciri-ciri utama kesenian tradisional
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Diwariskan: Diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan atau praktik.
- Berbasis budaya: Berakar pada sistem budaya dan tradisi masyarakat pemiliknya.
- Ekspresif: Menggali hasrat manusia akan keindahan dan menyampaikan pesan atau perasaan.
- Aktual: Tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat meski telah ada sejak lama.
- Berfungsi beragam: Selain hiburan, juga sebagai media pendidikan, ritual, sosialisasi nilai, dan penguat identitas.
Seni pertunjukan, ritual dan tradisi khas Sukabumi
Sejatinya seni pertunjukan dan tradisi ini tidak benar-benar seluruhnya merupakan khas Sukabumi, namun secara umum juga terdapat di berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten.
Namun demikian, beberapa di antaranya adalah khas Sukabumi, seperti seni pertunjukan Boles (Bola Api Sueneu) yang memadukan olahraga dan bela diri dan atraksi bola yang terbakar api.
Kemudian, ada berbagai tari tradisional seperti Tari Cepet, Tari Pakujajar yang sudah diakui UNESCO, dan tarian sebagai ekspresi rasa syukur seperti Dogdog Lojor dan Rayak-Rayak Sukabumian.
Selain itu, ada pula seni pertunjukan ritual seperti Jipeng dan Gondang Buhun yang berhubungan dengan pertanian dan upacara adat.
Seni pertunjukan
Boles atau Bola Leungeun Seuneu: Permainan bola api tradisional yang menggabungkan seni, olahraga, bela diri, dan filosofi, sering diiringi atraksi api.
Wayang Sukuraga: Wayang yang menampilkan figur manusia (sukuraga), memadukan seni rupa, musik, teater, dan sastra.

Tari Cepet: Tari Cepet adalah tarian tradisional khas Sukabumi, Jawa Barat, yang berawal dari ritual tolak bala Ngabungbang, menampilkan 12 penari laki-laki bertopeng (cepet) yang menirukan gerakan hewan buas dan makhluk halus untuk mengusir gangguan.
Namun, kini tari tersebut berkembang menjadi seni hiburan untuk hajatan dan acara nasional dengan iringan gamelan Sunda. Tarian ini terkenal karena unsur kesurupan (trans) dan menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Tari Pakujajar: Tarian khas yang mendapat pengakuan dari UNESCO.

Dogdog Lojor: Kesenian angklung dan tari yang mengiringi ungkapan syukur panen padi, menunjukkan semangat gotong royong. Adapun karakteristiknya berupa alat musik tabuh berbentuk silinder kayu memanjang (sekitar 90 cm) dengan lubang di tengah, kayu dan membran kulit kambing yang diregangkan dengan tali kulit bambu, dan menghasilkan nada “dog, dog, dog” tergantung ketegangan kulit.
Rayak-Rayak Sukabumian: Tarian gaul untuk ungkapan syukur di hajatan dan acara desa.
Jipeng: Kesenian perpaduan tanji/tanjidor, ketuk tilu, dan topeng Sunda, ikon budaya Sukabumi.

Gondang Buhun: Kesenian untuk mengiringi ritual pertanian, juga dipentaskan di acara hajatan. Gondang buhun merupakan salah satu jenis tradisi gondang berupa seni tetabuhan (tutunggulan). Dalam pelaksanaannya, seluruh pemain gondang buhun ini semuanya harus perempuan sebagai pemukul lesung (gondang) yang juga merangkap sebagai juru kawih (sinden).
Instrumen yang mereka gunakan berupa alu yang tingginya mencapai 2 meter, dan lesung yang panjangnya 2,5 meter berisi dua ikat padi yang biasa disebut dua geugeus pare. Padi tersebut kemudian ditalu sehingga suara lesung menghasilkan ritme bunyi yang teratur (harmonis dan polyphonis) diiringi dengan nyanyian para pemainnya.
Tradisi dan ritual

Syukuran Nelayan: Ritual larung saji hasil laut sebagai bentuk syukur nelayan.
Seren Taun: Upacara adat penyerahan hasil panen padi tahunan di Kasepuhan adat.
Ngabungbang: Tradisi ritual menyatukan diri dengan alam atau membersihkan diri.









