Millenials Sukabumi, Ini 5 Model Rambut Man Bun Buatmu

- Redaksi

Sabtu, 21 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Model rambut panjang pria, man bun. l Istimewa

Model rambut panjang pria, man bun. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINES.com – Buat Millenials Sukabumi yang sedang malas ke barber, coba deh gaya rambut kuncir atas ini. Rasanya cukup mengikat rambut gondrongmu, rapi dan anti gerah.

Untuk mendapatkan gaya rambut man bun tidak sulit kok. Cukup memiliki rambut sehat yang tidak mudah patah.

Berikut lima model rambut man bun rekomendasi sukabumiheadlines.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Half Man Bun

Half man bun.
Verity Jane Smith

Coba gaya rambut kuncir atas ini, millenials Sukabumi cukup mengikat rambut gondrongmu dengan gaya top knot. Rapi dan anti gerah!

2. Sharp Edge Man Bun

Sharp Edge Man Bun
Shutterstock
Millenials Sukabumi juga bisa memilih gaya sharp edge ini agar penampilanmu semakin keren. Aksen garis pada gaya rambut ini terlihat keren dan sleek, dengan sisi samping dicukur pendek untuk menonjolkan kesan rapi.

3. Undercut Man Bun

pria dengan undercut man bun
Shutterstock

Rambut undercut-mu mulai tumbuh, dicepol saja. Potong setengahnya dengan gaya undercut seperti ini.

4. Mid to Low Bun

medium low ponytail untuk pria man bun
Shutterstock

Unfinished look bakal bikin kamu semakin keren. Gaya man bun adalah potongan rambut yang cocok untuk model rambut gondrong pria panjang atau pendek. Biarkan hasilnya undone seperti ini!

5. Samurai Bun

samurai man bun pada pria asia
Shutterstock
Kalau millenials Sukabumi punya model rambut panjang lurus pria, kamu pasti punya banyak kesulitan dalam menatanya saat berolahraga. Potongan rambut gondrong milikmu bisa kamu tata dengan gaya samurai bun. Gaya rambut pria panjang atas ini bisa kamu tata dengan model cepol a la samurai.

Berita Terkait

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi
Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 04:29 WIB

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB