21.4 C
Sukabumi
Sabtu, April 13, 2024

Blueberry, sniper cantik Rusia pembantai tentara Ukraina

sukabumiheadline.com - Sosok Blueberry sangat misterius. Namun,...

Soal tangan buruh wanita asal Bojonggenteng Sukabumi putus, Latas: Disnaker harus proaktif

sukabumiheadline.com - Paskakecelakaan kerja yang terjadi di...

Nani Adiwijaya, bantu suami asal Sukabumi jadi perintis salon kecantikan di Indonesia

Gaya hidupNani Adiwijaya, bantu suami asal Sukabumi jadi perintis salon kecantikan di Indonesia

sukabumiheadline.com – Sosok wanita cantik yang satu ini relatif tidak terlalu populer di kalangan warga Sukabumi, Jawa Barat. Namun, siapa sangka di kemudian hari lahir putra-putri hebat dari rahimnya.

Berdasarkan penelusuran sukabumiheadline.com, tidak banyak data tersedia terkait sosok Nani Adiwijaya. Redaksi bahkan tidak menemukan data terkait tanggal, bulan lahir perempuan cantik ini.

Namun diceritakan, Nani Arianti Adiwijaya kemudian menikah dengan seorang jurnalis asal Sukabumi, bernama Gandhi Sukardi, putra dan dari pejuang kemerdekaan asal kota ini, Eddy Sukardi dan Didi Sukardi.

Adapun, terkait penulisan namanya, ada dua versi berbeda. Dua dari tujuh anak, dari pasangan Gandhi dan Nani, yakni Laksamana Sukardi menulis Nani Aryani, sedangkan Wina Armada Sukardi menulis nama ibunya dengan Nani Arianti.

Namun apapun namanya, Nani tetaplah wanita cantik yang inspiratif. Demikian pengakuan Wina, yang di kemudian hari menjabat sebagai direktur utama salah satu perusahaan milik negara, Garuda Indonesia.

“Wajahnya, dari sudut manapun, cantik nian. Rambutnya yang gelombang ombak dibentuk dengan model apapun, selalu menarik, bahkan dibiarkan dengan natural pun, tak kalah indah. Proposi dan bentuk tubuhnya serasi dan menarik,” kenang Wina Armada Sukardi, anak ketiga Gandhi dan Nani.

Ditambahkan Wina, sosok Nani termasuk salah seorang wanita yang berperan merintis hadirnya usaha salon kecantikan di Indonesia.

“Dia, dalam pandangan saya, juga patut disebut dalam catatan lintasan dunia fashion di Indonesia karena pada awal-awal lahir disain dan penataan busana, dia tak sekadar hadir, tapi ikut mengembangkannya,” papar Wina.

“Meski begitu, dia juga tak pernah melupakan urusan dapur. Memasak atau membuat kue. Sebagai wanita, dia mendekati sempurna,” pujinya.

Profil Nani Arianti

Nani Arianti, ia lahir di Jakarta, pada 1934. Nani adalah anak kedua dari tujuh bersaudara, dari pasangan Mas Adiwijaya dan Raden Sekaringsih. Keluarga ini tinggal di di Jalan Kencana No. 58, Guntur, Jakarta Selatan.

Mas Adiwijaya sendiri seorang PNS yang bekerja di Bagian Keuangan di Kementrian Pengajaran dan Agama (sekarang Kemendikbud Ristek).

Ketika kecil, pancaran kecantikannya sudah menonjol. Selain lincah dia juga dikenal luwes dan berani. Itulah sebabnya sang kakek dan nenek terpincut hatinya kepada cucunya ini.

Sang kakek dan nenek minta izin kepada orang tuanya agar mereka diperbolehkan mengasuh cucunya itu, setidaknya hingga lulus SMP. Begitulah, belum lagi genap usia dua tahun, akhirnya Nani diboyong kakek neneknya tinggal di Kampung Babakan Tarogong, Desa/Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.

Nani Arianti Adiwijaya. l Istimewa

Nani mendapat curahan kasih sayang dari kakek dan neneknya. Nani tumbuh dan berkembang layaknya remaja lain. Ia selalu ceria dan penuh canda.

Sesuai janji kakek dan neneknya, setelah lulus SMP pada 1950, atau berusia sekira 16 tahun, Nani pun kembali ke Jakarta, ke rumah keluarganya di Jakarta.

Sejak itulah keinginan yang kuat dan bakatnya yang besar sudah mulai terlihat. Sekembalinya ke Jakarta, selain sekolah formal, Nani pun belajar tata rias.

Ia juga menghabiskan sebagian waktunya dengan mengikuti kursus-kursus, seperti menjahit, hingga mencapai tingkat mahir.

Menikah dengan Pria asal Sukabumi

Beranjak remaja, Nani berkenalan dengan seorang pemuda yang memiliki kemampuan menguasai banyak bahasa, Gandhi Sukardi yang sudah bekerja sebagai wartawan. Baca lengkap: Mengenang Gandhi Sukardi, Profil Wartawan Polygoth dan Empu Epistoholik asal Sukabumi

Rumah Nani dan Gandhi relatif tidak jauh, pemuda itu tinggal di Jalan Kawi No 4, sehingga keduanya relatif sering bertemu. Sebuah hubungan yang sekaligus menjadi episode baru dalam kisah hidup Nani.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sepakat dan berjanji mengikat cinta yang tumbuh dalam pernikahan. Selanjutnya, sejoli ini hidup bahagia di sebuah rumah kontrakan di Jalan Cilosari 14, Cikini, Menteng.

Kebahagiaannya mencapai hampir paripurna manakala Nani dianugerahkan putra putri yang sehat, enam anak laki-laki dan satu perempuan.

Gandhi Sukardi dan Nani Arianti Adiwijaya bersama enam anak laki-laki mereka. l Istimewa
Gandhi Sukardi dan Nani Arianti Adiwijaya bersama enam anak laki-laki mereka. l Istimewa

Seiring waktu berjalan, anak-anak mereka mulai tumbuh besar dan disekolahkan di sekolah elite karena kesadaran anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan terbaik.

Kala itu sebagian besar sekolah terbaik masih sekolah Katholik. Maka dimasukanlah anak-anak ke SD Santo Yoesef (Vincencius) di Kramat, dan SMP Kanisius di Cikini.

Namun, sebagian anak lelaki mereka bersekolah di Kota Sukabumi. Wina misalnya, sekolah di SD Mardi Yuana dan kembali ke Jakarta sekolah di SMP Loyola dan SMA Sumbangsih.

Perintis Usaha Salon Kecantikan di Indonesia

Meskipun kebutuhan hidup semakin meningkat, namun Nani tak mau idealisme wartawan, profesi suaminya tergadaikan. “Dia juga tak mau berkeluh kesah,” bangga Wina mengisahkan ibunya.

Alih-alih banyak menuntut kepada suaminya, Nani lebih memilih memanfaatkan keahliannya hasil kursus untuk mencari penghasilan.

Sejak itulah Nani ikut mengembangkan dunia fashion dan salon kecantikan di Indonesia. Letak rumah yang strategis di kawasan elite Menteng, membuatnya terinspirasi membuka usaha salon kecantikan.

Nani Arianti Adiwijaya sedang melayani pelanggan di salon kecantikan miliknya. l Istimewa
Nani Arianti Adiwijaya sedang melayani pelanggan di salon kecantikan miliknya. l Istimewa

Meskipun usaha salon kecantikan tidak begitu populer saat itu, namun kehadiran usaha yang dirintis Nani justru bak menggugah trend baru di kalangan wanita Jakarta kala itu. Tak ayal, salon kecantikan milik Nani selalu diantri pelanggan.

Lokasi usaha yang strategis, di kawasan di mana banyak terdapat kantor kedutaan besar dan konsulat, membuat banyak istri duta besar negara sahabat mulai terbiasa dengan tradisi datang ke salon. Terlebih saat menjelang Hari Natal dan Tahun Baru.

Tak hanya membuka salon. Nani juga membuka usaha butik, kala itu masih menggunakan istilah modeste dengan menerima pesanan disain busana sekaligus menjahitnya.

Lagi-lagi pelanggan Nani kebanyakan wanita elite kawasan Menteng atau istri para pejabat dan staf kedutaan asing di Jakarta.

Kecantikan, keterampilan, kegigihan serta kasih sayang dan cinta membuat Nani berada dalam lingkungan keluarga yang bahagia dan dinamis.

Kerja keras Nani membantu meringankan beban suami dengan membuka usaha salon kecantikan, tidak sia-sia karena kelak di kemudian hari anak-anaknya berhasil menjadi orang-orang yang sukses.

Sayangnya, Nani meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, 35 tahun. Wanita inspiratif ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 21 Juli 1970, setelah dirawat selama satu bulan di Rumah Sakit R. Syamsuddin, SH., Kota Sukabumi.

Nani menghempaskan nafas terakhir ketika tidur di samping anak keduanya, Laksamana Sukardi. Sosok yang di kemudian hari menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Laksamana Sukardi sendiri dikenal sebagai seorang ekonom dan politikus Indonesia. Ia menjabat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara dari 1999 hingga 2000 dan dari 2001 hingga 2004. Sebelum menjadi politikus, ia adalah salah satu ekonom dan bankir milik Bank Lippo dan LippoGroup. Baca lengkap: Profil Laksamana Sukardi, dari Ekonom, Politikus hingga Menteri Berdarah Sukabumi

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer