sukabumiheadline.com – Pada usia di atas tujuh puluh tahun, taipan perhotelan Adrian Zecha adalah sosok fenomenal di industri perhotelan, meskipun ia sendiri menepis anggapan tersebut. Saat ini, Adrian Zecha, menjabat sebagai ketua eksekutif Amanresorts dan ketua perusahaan manajemen hotel mewah GHM.
Zecha, dalam wawancara bersama Nicolas Shammas dari Bespoke, berbicara mengenai dunia perhotelan, gaya hidup, serta alasannya memilih staf berdasarkan perpaduan antara kecantikan dan kecerdasan.
Adrian Zecha lahir di Sukabumi pada 1933. Dia tumbuh besar di keluarga Tionghoa terhormat, juga kaya raya. Adrian Zecha memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia perhotelan dan jurnalisme, meskipun ia lebih memilih untuk menghindari sorotan media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mely Tan dalam The Chinese of Sukabumi (1963) menyebut, keluarganya dikenal sebagai ‘cabang atas’ yang merujuk pada keluarga Tionghoa tajir melintir dan sukses di Indonesia. Baca selengkapnya: Kenalkan, Adrian Zecha asal Sukabumi pemilik jaringan hotel di 20 negara
Di media berbahasa Inggris tersebut, Adrian Zecha bercerita mengawali kariernya sebagai jurnalis di majalah Time dan kemudian meluncurkan majalah Asia (sebuah suplemen edisi hari Minggu) pada tahun 1961, sebelum akhirnya—akibat apa yang ia sebut sebagai “masalah penyensoran”—ia memutuskan untuk mundur dan beralih ke bisnis perhotelan pada 1972.
Usaha perhotelan pertama yang ia geluti adalah jaringan sukses Regent International, yang pada 12 tahun kemudian dijual kepada Four Seasons. Namun, warisannya tetap hidup hingga kini melalui aset-aset unggulan Four Seasons, seperti hotel utama di New York (di 57th Street) dan hotel di Milan, yang pada awalnya merupakan bagian dari jaringan Regent.
Setelah itu, ia bermitra dengan salah satu rekan bisnisnya di Regent, Georg Rafael, untuk mendirikan Rafael Hotels, yang kemudian dijual kepada Mandarin Oriental Group.
Berita Terkait: Menghitung jumlah kekayaan Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi
Adrian Zecha sosok yang selalu berorientasi pada langkah bisnis berikutnya, ia kemudian bergerak secara mandiri dan mendirikan Beaufort Hotels, yang membangun properti di Singapura dan Bangkok. Ia lalu bergabung dengan South Pacific Hotel FDH, jaringan hotel terbesar di kawasan Pasifik Selatan. Baca selengkapnya: Memahami filosofi “Aman” Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi mengubah persepsi

Kini, Zecha memimpin sebuah imperium hotel dan resor eksklusif yang mengesankan, mencakup lokasi-lokasi eksotis mulai dari Maroko dan Oman hingga Miami, Bali, dan Phuket. Baca selengkapnya: Siapa pemilik Aman Group? Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi turun tahta
Saat Nicolas Shammas dari Bespoke bertanya pada Adrian Zecha tentang siapa sosok atau pelaku bisnis perhotelan yang paling dikagumi, ia menjawab, “Georg Rafael”.
“Oh, itu mudah sekali. Georg Rafael. Dia adalah mitra saya di Regent dan Rafael Hotels. Sekarang dia sudah pensiun, tetapi saya berharap dia berhenti mencoba menjadi pensiunan yang santai dan kembali ke industri ini,” kata Adrian Zecha, dikutip sukabumiheadline.com, Kamis (9/7/2026).
“Menurut pendapat saya, dia adalah pelaku bisnis perhotelan terbaik tanpa tandingan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Georg Rafael adalah salah seorang pendiri merek Regent dan pelaku bisnis hotel mewah sepanjang hayat. Ia tutup usia di Monako pada dalam usia 86 tahun. Georg Rafael dikenal sebagai salah satu tokoh terhebat di dalam dunia perhotelan mewah.
Tokoh perhotelan kelahiran Berlin ini memainkan peran kunci dalam industri hotel mewah internasional antara tahun 1972 hingga awal tahun 2000-an, setelah mendirikan Regent International Hotels bersama Bob Burns pada tahun 1972.
Baca Juga: Leluhur Adrian Zecha, Karena Sim Keng Koen Perayaan Cap Go Meh di Sukabumi Dimundurkan
Awalnya, ia menjabat sebagai direktur regional Regent untuk kawasan Pasifik, dan pada tahun 1976, sebagai wakil presiden eksekutif yang berbasis di New York City, ia bertanggung jawab atas seluruh hotel Regent di Amerika Serikat dan Eropa.
Selama masa itu, Regent Hong Kong berulang kali dinobatkan sebagai hotel terbaik di dunia, sementara properti seperti Regent Beverly Wilshire meraih ketenaran sebagai lokasi syuting film klasik seperti Pretty Woman.
Kota terbaik menurut Adrian Zecha
Lebih jauh, kepada Nicolas Shammas, Adrian Zecha juga bercerita akan terus berekspansi di kawasan Timur Tengah, setelah membangun Chedi di Oman dan Amanjena di Maroko.
“Tentu saja. Ini adalah pasar yang sedang berkembang pesat. Saya sangat mengagumi apa yang telah dicapai di Dubai. Ingatkah Anda saat sepuluh tahun lalu Sheikh Mohammed mengatakan akan menjadikan Dubai sebagai pusat pariwisata? Saat itu, tidak banyak orang yang menanggapi ucapannya dengan serius,” jelas Adrian Zecha.
“Namun, lihatlah apa yang telah beliau lakukan; hasilnya sungguh luar biasa,” yakin dia.
Berita Terkait: Kisah 5 tokoh Sukabumi mualaf dan sukses jadi pengusaha, menteri, hingga istri pangeran
Adrian Zecha kemudian mengungkap satu kota terbaik menurutnya, yakni Beirut, Lebanon.
“Meski demikian, salah satu negara favorit saya adalah Lebanon. Sebelum perang, Beirut adalah salah satu kota favorit saya. Saya ingat pernah menginap di Hotel St. Georges dan masih teringat bar di sana,” ungkap dia.
“Dan tentu saja, ada Cave du Roy. Saya masih ingat bartender yang biasa melontarkan rokok dari bibirnya dengan gerakan tangkas,” kenang diam.
“Suatu hari nanti, saya ingin hadir di Lebanon,” pungkasnya.








