Sejarah berdiri band heavy metal Jamrud dan fakta menarik Jamrock

- Redaksi

Minggu, 7 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah berdiri band heavy metal Jamrud dan fakta menarik Jamrock - Istimewa

Sejarah berdiri band heavy metal Jamrud dan fakta menarik Jamrock - Istimewa

sukabumiheadline.com – Jamrud adalah grup musik hard rock & heavy metal Indonesia yang dibentuk di Kota Cimahi yang dimotori oleh Azis Mangasi Siagian dan Ricky Teddy. Grup musik ini telah merilis 13 album studio, dan 5 album kompilasi.

Awal berdiri, Jamrud bernama Jamrock dan sempat mengalami beberapa kali pergantian formasi sebelum album pertama rilis. Pada tahun 1995, formasi terdiri dari Azis Mangasi Siagian (Gitar), Ricky Teddy (Bass), Krisyanto (Vokal), Fitrah Alamsyah (Gitar) dan Shandy Handoko (Drum).

Jamrud dikenal sebagai salah satu grup band yang sukses besar membawa musik bernuansa heavy metal ke “major label” di Indonesia. Bahkan kedua albumnya yaitu album keempat Ningrat dan album kelima Sydney 090102 masuk jajaran album terlaris di Indonesia dengan penjualan mencapai jutaan copy.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jamrud dikenal mampu meramu berbagai genre musik dengan lirik lirik yang kocak. Jamrud sendiri sempat mengalami beberapa kali pergantian formasi sebelum album keempat rilis.

Fakta di balik Jamrock menjadi Jamrud

Pada Mei 1995, tiba-tiba Jamrock diterima oleh label rekaman milik Log Zhelebour, yaitu Logiss Records. Perkenalan anak-anak Jamrock dengan Log Zhelebour sendiri bukan baru kali itu, karena Jamrock sendiri pernah mengikuti festival yang pernah digelar Log Zhelebour pada 1984.

Karena sudah saling mengenal akhirnya Mas Log mau menerima Jamrock untuk rekaman. Proses rekaman di Studio Triple M, sejak Juni hingga Agustus 1995. Pada 25 Oktober tahun yang sama, Mas Log mengganti nama Jamrock menjadi Jamrud.

Alasan nama Jamrock diganti menjadi Jamrud karena untuk menghindari permasalahan dikemudian hari dan terasa lebih enak didengar. Awalnya Azis dkk kurang setuju nama Jamrock diganti, sebab nama Jamrock sudah banyak dikenal luas, tapi setelah berunding, mereka pun setuju berganti nama.

Setelah berganti nama menjadi Jamrud, Album pertama Nekad dirilis pada 15 Desember 1995 di bawah naungan Logis Records.

Awal kesuksesan

Jamrud menjadi matang secara musik dan penampilan di bawah asuhan label rekaman milik Log Zhelebour tersebut. Penjualan album perdana Jamrud, Nekad (1995), meraih angka penjualan sebanyak 150 ribu keping dalam waktu singkat.

Kesuksesan mereka dilanjutkan dengan album kedua mereka, Putri (1997), yang angka penjualannya mencapai 300 ribu keping. Keuntungan besar dari hasil penjualan album-album Jamrud terus berlanjut hingga mereka merilis Terima Kasih (1998).

Album tersebut sangat populer di kalangan generasi muda Indonesia saat itu, terutama lewat lagu Berakit-Rakit dan Terima Kasih, sehingga terjual hingga menyentuh angka 800 ribu keping, prestasi yang sangat luar biasa untuk penjualan album musik cadas di Indonesia saat itu. Mereka juga mendapat anugerah penghargaan sebagai Group Rock Terbaik AMI Award 1999.

Pergantian formasi

Sepanjang perjalanan kariernya, Jamrud beberapa kali mengalami pergantian formasi. Formasi terbaru terdiri dari Azis Mangasi Siagian (gitar), Ricky Teddy (bass), Krisyanto (vokal), Danny Rachman (drum), dan Mochamad Irwan (gitar).

Lirik unik, album terlaris dan tersukses

Selain musik yang keras, Jamrud juga dikenal dengan lirik-liriknya yang kocak dan kreatif, yang membuat mereka berbeda dari band heavy metal lainnya.

Dua album Jamrud yang paling sukses adalah album keempat, Ningrat, dan album kelima, Sydney 090102, yang keduanya menjadi album terlaris di Indonesia.

Album debut Jamrud, Nekad (1995), terjual sebanyak 150.000 kaset dan CD. Album-album berikutnya seperti Putri (1997) mencapai penjualan 300.000 kaset/CD, dan Terima Kasih (1999) terjual hingga 800.000 kaset dan CD.

Berita Terkait

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi
Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 04:29 WIB

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB