sukabumiheadline.com – Radio, adalah media massa satu arah dan teknologi komunikasi nirkabel yang memiliki sejarah panjang, yakni sejak 1884. Hari ini, 13 Februari diperingati sebagai Hari Radio Internasional. Hari Radio Sedunia diperingati untuk merayakan peran penting radio dalam keberagaman dan akses informasi.
Radio yang kita kenal saat ini, termasuk 28 stasiun radio yang adalah di Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah salah satu media yang menyebarkan informasi, berita, serta hiburan melalui gelombang elektromagnetik.
Meski berevolusi dari radio transistor analog ke era digital dan aplikasi streaming, radio tetap menjadi media populer yang mudah diakses dan krusial untuk komunikasi komunitas serta keadaan darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Radio memiliki fungsi utama sebagai penyampai pesan atau informasi, edukasi, hiburan dengan jangkauan luas menggunakan modulasi gelombang elektromagnetik untuk mengirim sinyal suara, yang saat ini dapat didengar melalui radio konvensional, ponsel pintar, atau streaming online.
Dalam perjalanannya, radio berkembang dari era analog menjadi digital, dan kini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) untuk memperluas jangkauan dan kreativitas penyiaran.
Sejarah radio di dunia
Sejarah radio bermula di akhir abad ke-19, didorong oleh penemuan gelombang elektromagnetik oleh Heinrich Hertz (1884) dan teori James Clerk Maxwell (1865). Guglielmo Marconi mematenkan telegraf nirkabel pertama pada 1896.
Teknologi tersebut kemudian berkembang pesat dari komunikasi morse maritim menjadi media massa (AM/FM) pada tahun 1920-an, merevolusi komunikasi dunia.
Pada era 1860-an hingga 1880-an, James Clerk Maxwell merumuskan teori gelombang elektromagnetik (1865), yang dibuktikan secara fisik oleh Heinrich Hertz pada 1884-1886.
Kemudian, Guglielmo Marconi merekayasa aplikasi telegrafi nirkabel praktis pertama pada 1894-1895, mengirimkan sinyal radio pertama, dan mematenkannya di Inggris pada 1896. Pada 1901, Marconi berhasil mengirimkan sinyal radio transatlantik pertama.
Selanjutnya, perkembangan teknologi audio pada 1900-an – 1910-an, ketika Dr. Lee De Forest menemukan tabung amplifier (audion) pada 1906, memungkinkan transmisi suara (audio) bukan sekadar kode morse.
Hingga kemudian stasiun radio KDKA di Pittsburgh, AS, melakukan siaran komersial pertama secara resmi pada 2 November 1920. Sejak itulah radio menjadi booming. Masyarakat mulai menggunakan radio sebagai media informasi dan hiburan.
Tak berhenti sampai di situ, Edwin Howard Armstrong kemudian memperkenalkan sistem Frequency Modulation (FM) pada 1933, yang menawarkan kualitas suara lebih baik dan bebas gangguan cuaca dibandingkan modulasi amplitudo (AM).
Untuk informasi, sosok Nikola Tesla berkontribusi pada pengembangan teknologi nirkabel, namun hak paten radio pertama secara umum diakui milik Guglielmo Marconi.
5 fase sejarah stasiun radio di Indonesia

Sejak populer di Indonesia, radio telah menjadi media yang menyatukan komunitas, mendorong dialog publik, serta memberikan informasi penting saat bencana.
Sejarah radio di Indonesia dimulai pada 16 Juni 1925 dengan berdirinya Bataviase Radio Vereniging (BRV) pada masa Belanda. Radio kemudian berkembang pesat sebagai media informasi dan perjuangan.
Popularitas radio di Indonesia mencapai puncaknya dengan pendirian Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Radio Nasional.
Kini, radio di Indonesia telah bertransformasi dari alat komunikasi kolonial dan media propaganda menjadi media informasi, edukasi, dan hiburan yang relevan hingga saat ini.
Dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi Kementerian Komunikasi Digital (Kondisi) RI, sejarah radio di Indonesia terbagi menjadi 5 fase, yakni:
1. Masa Belanda (1925-1942): BRV di Batavia adalah stasiun pertama, diikuti oleh Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM). Radio pribumi pertama adalah Solosche Radio Vereniging (SRV) didirikan pada 1 April 1933 oleh Mangkunegara VII dan Sarsito Mangunkusumo.
2. Masa Jepang (1942-1945): Jepang mengambil alih seluruh stasiun radio dan menyatukannya di bawah satu komando bernama Hoso Kanri Kyoku. Radio dijadikan alat propaganda, namun pemuda Indonesia memanfaatkannya untuk menyebarkan semangat perjuangan.
3. Masa Kemerdekaan (1945): Setelah proklamasi, para pemuda mengambil alih stasiun radio Jepang. RRI resmi berdiri pada 11 September 1945 sebagai alat komunikasi pemerintah dengan rakyat, dipelopori oleh tokoh seperti Abdulrahman Saleh.
4. Perkembangan Radio Swasta: Radio swasta mulai tumbuh setelah diatur oleh PP No. 55 Tahun 1970. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) dibentuk pada 1974.
5. Era Digital: RRI bertransformasi menjadi lembaga penyiaran publik berdasarkan UU No. 32 Tahun 2002 dan PP No. 13 Tahun 2005, serta merambah ke layanan digital dan streaming.
Daftar stasiun radio di Sukabumi
Di Sukabumi sedikitnya terdapat 28 stasiun radio. Sejatinya lebih banyak dari itu, namun sebagian telah berhenti siaran.
Berikut adalah daftar 28 stasiun radio yang tercatat di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Meskipun beberapa di antaranya sudah kembang kempis hingga tidak aktif siaran, namun ke-28 stasiun radio berikut tercatat masih memiliki izin siaran.
- Elmitra 87,6 FM
- Pas FM Jampang 89,0 FM
- Suara Pulo Air Radio 89,5 FM
- Gemas 90,0 FM
- Dian 90,2 FM
- Fortuna 90,7 FM
- Muara RPS 91,5 FM
- NBS 92,3 FM
- Naila 92,6 FM
- LPPL Radio Swara Perintis 93,1 FM
- RRI Pro 1 Bandung Relay Pelabuhan Ratu 98,3 FM
- Kiwari 94,7 FM
- Megaswara Sukabumi 96,0 FM
- Radio Latanza 96,9 FM
- Salam 97,4 FM
- CGS 98,6 FM
- Airlangga 99,0 FM
- Galaksi 101,4 FM
- SMS 101,7 FM
- Pusaka 102,9 FM
- Rama 104,1 FM
- Adya 104,7 FM
- Fokus Media 104,9 FM
- Radio Muara Gantiri (Ganitri) 105,3 FM
- Muara 105.3 FM
- Menara 105,7 FM
- Bunut 107,7 FM
- RJFM 107,9 FM









