31 tahun tubuh digerogoti belatung, keluarga Ahmad Yani terharu dijenguk Bupati Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 29 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

31 tahun tubuh digerogoti belatung, keluarga Ahmad Yani bahagia ditengok Bupati Sukabumi

31 tahun tubuh digerogoti belatung, keluarga Ahmad Yani bahagia ditengok Bupati Sukabumi

sukabumiheadline.com – Sudah 31 tahun Ahmad Yani hanya bisa tergeletak di rumahnya yang sempit di sebuah gang di Kampung Warungceuri RT 014/006, Desa Pondokkasolandeuh, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Saat Bupati Sukabumi Asep Japar menyambangi kediamannya pada Jumat (30/5/2016) sore, usai berbagi daging kurban di Kampung Susukan, Desa Kompa, tubuh pria 41 itu tampak hanya tinggal menyisakan tulang. Kurus, tak berdaya dan hanya bisa terbaring di ruang tengah rumahnya.

Epah, kakak kandung dari anak bungsu empat bersaudara tersebut, mengaku kaget dan tak menyangka jika Bupati Sukabumi menjenguk adiknya yang sudah puluhan tahun hanya bisa terbaring.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Demi Allah bapak abdi mah nangis sadayana keluarga teu nyangka pak bupati ninggal pun rayi,” kata Epah keadaan sukabumihheadline.com seraya menyeka air matanya.

Dituturkan Epah, sakit yang dialami adiknya tersebut berawal dari eplipsi yang dideritanya ketika masih berumur 10 tahun. Hingga pada suatu hari, anak dari pasangan Saroh dan M Shaleh itu terjatuh di kamar mandi hingga mengalami patah tulang belakang.

Akibat yang ditimbulkan kemudian cukup fatal. Kondisi tubuh Ahmad Yani bukan saja tidak kembali pulih, namun bertambah parah. Daging bagian pantatnya membusuk, sehingga membuatnya hanya bisa terbaring tak berdaya selama puluhan tahun.

Atos dicandak lima kali operasi, pak, di Rumah Sakit Medicare (Cicurug) sareng DKH (Cibadak) mung kondisi makin memburuk, untungna BPJS-na aktif (sudah dibawa berobat lima kali, pak, ke Rumah Sakit Medicare dan DKH, tapi kondisinya semakin memburuk. Untungnya kalau BPJS-nya aktif,” ungkap Epah.

Alhasil, selama 31 tahun berlalu, ketiga saudara kandungnya harus bergiliran setiap hari mengurus Ahmad Yani. Sementara itu, Saroh, sang ibu yang sudah lansia juga mengalami kebutaan dan tak lagi mampu berjalan.

Dalam keterbatasan ekonomi, keluarga Ahmad Yani setiap hari harus mencari uang sebesar Rp150 ribu untuk merawat sang adik yang kondisinya semakin memburuk.

Bahkan pada suatu ketika, ketika pantat Ahmad Yani membusuk dan dipenuhi belatung, Epah mengaku pernah kesulitan mendapatkan uang sebesar Rp150 ribu.

“Sedih, pak. Kantos teu gaduh artos teu kabersihan sampai bilatungan. Jujur, pak, abdi sakuat tenaga kudu milari artos setiap hari 150 kanggo perawatan pun rayi, untungna aya perawat anu bageur tiap hari ngabersihan (pernah tidak punya uang, akhirnya tidak bisa dibersihkan sampai keluar belatung. Jujur, kami sekeluarga sekuat tenaga mencari uang setiap hari Rp150 ribu untuk perawatan. Untungnya ada perawat yang baik hati selalu rajin ikut merawat – red),” kata Epah

Epah dan keluarganya pun mengucapkan syukur atas kedatangan Asep Japar, menjenguk Ahmad Yani. Baginya, kedatangan orang nomor  satu di Sukabumi itu tidak sekadar kejutan, namun juga pelipur lara selama puluhan tahun merasa tidak punya pelindung.

“Ya Allah bapak kondisi abdi karena teu gaduh, makana asa mimpi pak bupati kersa dongkap (kondisi saya karena orang tidak punya, makanya serasa mimpi pak bupati mau datang menjenguk – red)” ungkap Epah haru.

Epah juga berharap Asep Japar bisa menjadi pemimpin yang amanah dan selalu menyayangi warganya.

Mugia bapak sing janten bupati anu amanah nembe saumur abdi gaduh bupati kieu mah ning bageur bapak (semoga bapak menjadi bupati yang amanah. Seumur hidup baru merasakan punya bupati yang baik – red),” lanjut Epah.

Sementara itu, Asep Japar langsung melakukan koordinasi dengan tim dari Dinas Kesehatan dan memastikan agar Ahmad Yani mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Keluarga sudah lima kali operasi, tetapi kondisi terus memburuk. Walaupun keluarga memilih untuk dirawat di rumah, kami pastikan akan mendapatkan kemudahan pelayanan kesehatan,” kata bupati.

Berita Terkait

Wafa dan Kania, dua perempuan pelajar Sukabumi tewas tenggelam di pantai
Mahasiswa KKN keluhkan jalan hancur di Cibitung Sukabumi
Pacaran sama maling asal Medan, Wanita Sukabumi dianiaya dan diintimidasi hingga trauma
DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Desa Ciwaru aset budaya
Berawal dari rekaman CCTV, pria Sukabumi ini tewas dikeroyok
Evi Mentari, pahlawan devisa asal Kota Sukabumi meninggal dunia di Arab Saudi
Warga Sukabumi jarang piknik, ini top 5 daerah asal wisnus di Jawa Barat
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi respons tuntutaan tolak kenaikan harga BBM dan evaluasi MBG

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:24 WIB

Wafa dan Kania, dua perempuan pelajar Sukabumi tewas tenggelam di pantai

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:37 WIB

Mahasiswa KKN keluhkan jalan hancur di Cibitung Sukabumi

Jumat, 17 Juli 2026 - 00:57 WIB

Pacaran sama maling asal Medan, Wanita Sukabumi dianiaya dan diintimidasi hingga trauma

Kamis, 16 Juli 2026 - 03:35 WIB

DPRD Kabupaten Sukabumi: Syukuran Nelayan Desa Ciwaru aset budaya

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:18 WIB

Berawal dari rekaman CCTV, pria Sukabumi ini tewas dikeroyok

Berita Terbaru

Ilustrasi kawasan Chinatown - sukabumiheadline.com

Kultur

Memahami harmonisasi budaya di Chinatown Sukabumi

Selasa, 21 Jul 2026 - 17:01 WIB

Ilustrasi telur asin - sukabumiheadline.com

Kesehatan

Meskipun enak, kandungan gizi telur asin rendah

Selasa, 21 Jul 2026 - 15:44 WIB