Sisi baik Firaun, manusia sombong mengaku tuhan tapi berumur panjang

- Redaksi

Senin, 5 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Firaun, raja Mesir yang sombong - sukabumiheadline.com

Ilustrasi Firaun, raja Mesir yang sombong - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Firaun adalah gelar untuk raja-raja Mesir kuno, yang dianggap sebagai pemimpin politik dan agama, dianggap keturunan dewa, dan memiliki kekuasaan absolut.

Secara harfiah, kata ini berarti ‘Rumah Besar’ (istana), namun kemudian digunakan untuk menyebut raja itu sendiri, terutama sejak Kerajaan Baru (sekira 1500 SM).

Firaun terkenal dalam sejarah dan agama karena kezaliman dan kesombongannya, terutama sosok Firaun yang hidup di zaman Nabi Musa AS, yang menindas Bani Israil dan mengaku sebagai tuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesombongan Firaun digambarkan dalam berbagai ayat AlQuran, terutama di Surat Yunus ayat 75-92, Al-Qashash ayat 38, dan Al-Baqarah ayat 49.

Suatu ketika, Firaun berkata kepada pembesarnya: “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” Surah Al-Qashash : 38.

Peran dan kekuasaan

  • Kepala Negara: Firaun adalah kepala pemerintahan, membuat hukum, mengumpulkan pajak, dan memimpin militer.
  • Pemimpin Agama: Dianggap sebagai perantara antara manusia dan dewa, menjaga keseimbangan kosmik (Maat), dan sering dipuja sebagai dewa.

Karakteristik dalam agama

  • Zalim dan Sombong: Firaun digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai raja yang congkak, menindas, dan mengaku sebagai Tuhan.
  • Penindasan: Ia memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil karena takut akan kebangkitan seorang nabi.
  • Kehancuran: Kisahnya berakhir tragis dengan tenggelam di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa AS, sebagai hukuman atas kekufurannya.

Sisi baik Firaun, benarkah ada?

Meskipun Firaun dikenal sebagai tiran zalim yang mengaku Tuhan, ada beberapa sisi “baik” atau fungsi positifnya sebagai manusia dalam konteks sosial-politik Mesir kuno, seperti menjadi pemimpin negara yang mengurus urusan publik.

Firaun juga memastikan kemakmuran dengan cara membuka lumbung padi saat paceklik dan menjamin pembagian lahan pertanian, memastikan kemakmuran rakyatnya.

Ia juga seorang panglima militer (pelindung perbatasan), dan kepala agama yang menjaga ritual. Firaun menjaga kerukunan dan berpartisipasi dalam upacara keagamaan.

Namun, sisi baik ini ternoda oleh keangkuhan dan kekejamannya, terutama saat ia menolak kebenaran Nabi Musa, meskipun ada satu “lelaki beriman dari keluarga Firaun” yang membela Nabi Musa, menunjukkan ada individu baik di sekitarnya.

Kemudian, semua Muslim pasti mengetahui kisah bagaimana Firaun mau menerima dan merawat Nabi Musa AS sejak bayi. Peristiwa tersebut menunjukkan adanya sisi kepedulian terhadap yang lemah, sebelum akhirnya kekuasaan merusak hatinya.

Dikutip sukabumiheadline.com dari tulisan pachruddien.wordpress.com, disebutkan sebagai manusia, Firaun juga memiliki sisi baik.

“Jika kita memperhatikan dan mempelajari kehidupan ini dengan baik, maka kita akan menemukan bahwa pada dasarnya tiap manusia itu pasti memiliki dua (atau beberapa) sisi sifat yang tak sama. Meski tingkat dominasi sifat itu juga berbeda-beda,” tulis Fachru memulai tulisannya.

“Tidak ada ceritanya manusia itu seluruh sifatnya lembut. Tidak ada juga manusia yang seluruh sifatnya kasar/keras. Pasti ada keduanya. Hanya saja di antara kedua sifat yang bertolak belakang itu, salah satunya pasti ada yang lebih dominan dalam pribadi tiap-tiap manusia,” lanjut dia.

Beberapa waktu lalu penulis membaca beberapa hadits menarik di kitab Syu’abul Iman.

“Kita tak usah membicarakan bagaimana status hadits yang akan penulis sampaikan, itu persoalan teknis. Yang penting adalah pelajaran besarnya. Hadits unik ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, salah satu pionir dalam dunia ilmu hadits,” tulisnya.

Fachru meyakini bahwa setiap Muslim pasti tahu siapa sosok antagonis yang tersebut abadi dalam AlQuran dengan segala kesombongan dan kejumawaannya, Firaun. Dan jika disebutkan kata Firaun, maka segera terlintas dalam benak Muslim adalah segala predikat dan track record buruk, sekaligus ikon kejahatan dalam catatan sejarah manusia.

Segala sepak terjang kesombongannya yang luar biasa terekam dalam AlQuran. Bagaimana juga cara Nabi Musa menghadapinya. Hingga kematiannya yang tragis ditelan oleh Laut Merah, setelah laut itu terbelah oleh mukjizat pukulan tongkat Nabi Musa.

“Hadits yang aku maksud tadi, berkenaan dengan Firaun. Sebelum Nabi Musa diutus untuk menghadapi Firaun, beliau sempat bertanya kepada Allah bahwa kenapa Firaun dibiarkan hidup begitu lama dengan segala kesombongannya, perilakunya yang memperbudak bangsa Israel, membunuh bayi-bayi laki-laki Israel, bahkan mengaku Tuhan,” papar Fachru.

“Oleh Allah SWT, Nabi Musa diberitahu, bahwa meski Firaun seperti itu, dia tetap mempunyai sisi kehidupan yang lain, terutama kepada sesama bangsanya. Yaitu dia punya kebaikan perangai dan bersikap jika pada bangsanya sendiri dan sebagai raja dia tak mempersulit siapapun yang ingin menemuinya,” jelasnya.

Maka, kata Fachru, oleh Allah sisi kebaikan Firaun tersebut dibalas dengan usia panjang dan tak pernah mengalami sakit. Versi hadits sebagaimana diceritakan Fachru, Firaun hidup hingga 400 tahun.

Karena itu pulalah, menurut dia, Nabi Musa AS dan Harun AS diarahkan untuk bertutur kata baik meskipun tetap tajam, siapa tahu Firaun mau bertaubat.

“Fa qulaa lahu qoulan layyinan la’allahu yatadzakkaru aw yakhsya”, yang artinya adalah: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” Surah Thaha : 44.

Ayat tersebut merupakan perintah dari Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Harun AS, ketika mereka diutus untuk berdakwah kepada Firaun. 

Fachru menyimpulkan perintah tersebut turun, sebab Firaun juga tetap manusia yang punya sisi baik. Seperti diabadikan di AlQuran bagaimana Firaun membesarkan Musa kecil dalam asuhannya dengan penuh kasih sayang. Meskipun kekejamannya pada rakyatnya (khususnya yang non koptik) sangat luar biasa.

Selanjutnya, bagaimana Allah SWT menyelamatkan Bani Israil dari Firaun dan menenggelamkan Firaun dan kaumnya, menunjukkan kehancuran kesombongan, sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Baqarah : 49:

“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu.” 

Namun, sebagaimana fitrahnya sebagai manusia tetaplah kecil di hadapanNya, pada akhir hayatnya dijelaskan momen ketika Firaun tenggelam, ia mencoba beriman.

“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim.” Surah Yunus : 90

Tetapi tertolak karena kesombongannya yang sudah mendarah daging.

Dari kisah tersebut, ada pesan moral yang bisa kita ambil bahwa mungkin kita tidak menyukai seseorang akan kekerasan, keburukan perangainya. Namun, jangan menutup mata jika -bisa jadi- orang yang kita benci juga punya sisi baik.

Begitu pula dengan seseorang yang dominan bersifat baik, pasti ada sisi jelek yang tidak kita suka.

Maka semisal kita respek dengan seseorang sebab dia selalu bertutur kata sejuk, lalu tiba-tiba dalam satu tempo dia berubah tegas dan tajam yang bahkan membuat kita sendiri gerah atau bahkan tidak suka, maka kita tidak perlu heran dengan perubahan-perubahan sejenak itu, namanya manusia.

Mungkin hanya para Nabi saja yang tidak punya sisi menyebalkan sebab mereka punya kemampuan super tinggi mengontrol perilakunya, khususnya Rasulullah SAW.

Kisah Firaun menjadi contoh bagaimana kesombongan dan keangkuhan akan dihancurkan oleh Allah, serta sebagai peringatan agar tidak melampaui batas dan menentang kebenaran. Wallahu alam bis shawab.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB