sukabumiheadline.com – Revolusi teknologi digital dan media baru seperti smartphone, internet, dan media sosial (YouTube, Instagram, TikTok) dalam konteks dakwah Islam, telah menggeser media konvensional seperti mimbar dan pengajian tatap muka, sebagai saluran utama dakwah. Sehingga, kini dakwah dapat diakses kapan saja dan di mana saja, tanpa batas ruang dan waktu, menjangkau audiens lebih luas.
Maka wajar jika tren dakwah Islam pada tahun 2026 diwarnai oleh integrasi teknologi yang semakin dalam dan pergeseran pendekatan yang lebih personal serta solutif bagi generasi muda.
Dengan demikian, tren dakwah Islam pada tahun 2026 di Indonesia semakin didominasi oleh pendekatan teknologi digital dan kreativitas visual untuk menjangkau generasi muda (Gen Z).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, mengapa tren dakwah Islam harus berubah?
Tren dakwah Islam harus berubah karena adaptasi yang mengadopsi teknologi digital, pergeseran demografi (munculnya dai muda), tuntutan khalayak yang lebih interaktif dan visual, serta adaptasi terhadap isu-isu kontemporer seperti kesehatan mental.
Dengan demikian, dakwah menjadi lebih modern, personal, dan tersebar luas melalui platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, namun juga menimbulkan tantangan seperti penyebaran informasi salah.
Berikut adalah poin-poin utama tren dakwah 2026:
1. Dakwah digital & kecerdasan buatan (AI)
Penggunaan AI bukan lagi sekadar tren, melainkan instrumen utama untuk personalisasi konten dakwah dan penyebaran informasi yang lebih efisien.
Dikutip sukabumiheadline.com dari jurnal karya Dina Aulia dan Muhammad Rafi’i, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), berjudul Islam in Tlthe Digital Era: Shaping the Future of Learning and Preaching, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tetap menjadi platform utama bagi dai muda untuk menjangkau audiens secara luas melalui konten kreatif yang relevan dengan masalah sehari-hari.
Adapun fokus yang direkomendasikan, adalah:
- Ekosistem Aplikasi Islami: Penggunaan aplikasi untuk pengingat salat, platform donasi online, dan kajian daring menjadi standar baru dalam aktivitas harian umat Muslim.
- Bumikan Kalender Hijriah: Ada dorongan kuat dari organisasi besar seperti Muhammadiyah untuk memasyarakatkan penggunaan kalender Hijriah secara global di tahun 2026.
2. Fokus pada kesehatan mental & masalah sosial dengan sasaran audiens Gen Z
Dakwah semakin banyak mengangkat tema yang berkaitan langsung dengan tantangan hidup modern, seperti kesehatan mental, etika digital, dan solusi atas tekanan sosial. Pendekatan dakwah lebih bersifat “mengajak” daripada “menghakimi” (rahmatan lil alamin).
Dikutip dari jurnal berjudul Transformasi Dakwah di Era Digital: Tantangan dan Pendekatan Efektif bagi Generasi Z Indonesia karya Hijrayanti Sari dari IAI STIBA Makassar, Mahmuddin dari UIN Alauddin Makassar, dan Firdaus Muhammad juga dari UIN Alauddin Makassar, menyebut tren dakwah 2026 lebih fokus memilih audiens Gen Z, melalui:
- Pendekatan Interaktif: Dakwah kepada Gen Z lebih menekankan pada cara dan medium yang sesuai dengan karakter digital mereka dan tema kekinian, tidak hanya terpaku pada isi pesan saja.
3. Digitalisasi ibadah & komunitas
Dikutip dari jurnal berjudul Digitalization of Islamic Preaching Communication as a New Civilization in the Field of Islamic Preaching karya Luthfi Hardi dan Canra Krishna Jaya, dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, platform digital kini terintegrasi penuh untuk mendukung ibadah, mulai dari pengingat salat, donasi daring, hingga kajian daring yang dapat diakses kapan saja.
Komunitas dakwah juga memanfaatkan ruang-ruang digital untuk memperkuat hubungan sosial dan spiritual antarumat.
Adapun fokus yang direkomendasikan, adalah:
- Dakwah Berbasis Algoritma: Strategi dakwah bergeser dari komunikasi satu arah ke konten berbasis algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram Reel agar lebih relevan dengan masalah pribadi audiens.
- Penguatan Personal Branding: Para dai dituntut membangun personal brand yang kuat dan menguasai keterampilan berbicara di depan kamera untuk memperluas jangkauan pesan di platform digital.
4. Otoritas Keagamaan vs Algoritma
Terdapat tantangan besar terkait etika dan otentisitas konten dakwah yang dihasilkan secara otomatis oleh sistem. Umat didorong untuk lebih kritis dan menerapkan prinsip tabayyun (klarifikasi) terhadap informasi agama yang beredar di ekosistem digital guna menghindari disinformasi.
Dengan demikian, ulama juga memiliki tanggungjawab moral untuk:
- Lawan Hoaks dan Disinformasi: Tantangan utama di tahun 2026 adalah rendahnya etika digital dan cepatnya penyebaran informasi yang menyesatkan (hoaks), sehingga pendidik dan orang tua perlu berperan aktif dalam pendidikan karakter berbasis Islam.
- Kolaborasi Program Keagamaan: Organisasi Islam harus terus memperkuat sinergi dengan pemerintah (Kemenag) dan meningkatkan pembekalan bagi para dai muda (kafilah du’at) untuk menghadapi dinamika zaman.
- Akses Tidak Merata: Kesenjangan akses teknologi di berbagai daerah masih menjadi kendala dalam penyebaran dakwah digital secara menyeluruh. Sehingga, meningkatkan kesejahteraan umat menjadi tantangan tersendiri.
5. Dakwah melalui pemberdayaan ekonomi
Tren dakwah juga merambah ke sektor ekonomi syariah dan pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari penguatan kemandirian umat.
Tahun 2026 diprediksi menjadi masa di mana umat Islam diuji kedewasaannya dalam memanfaatkan teknologi untuk pembangunan nasional tanpa mengabaikan kedalaman spiritual dan etika Islam.
Karenanya, penting memasukkan tema-tema aktual atau kekinian dalam dakwah, seperti peringatan Isra Miraj harus dimulai dengan mengangkat tema-tema lebih segar dan relevan dengan gaya hidup pemuda saat ini.









