sukabumiheadline.com – Peristiwa penusukan yang menewaskan tiga gadis belia akhirnya berkembang menjadi kerusuhan di Inggris. Tak sebatas rusuh, isu juga berkembang jadi gerakan anti-Muslim.
Lantas, siapa sebenarnya pelaku penusukan itu?
Pelaku sebenarnya adalah Axel Rudakubana, usia 17 tahun, terlahir dari orang tua asal Rwanda di Cardiff, Wales. Axel Muganwa Rudakubana bukan seorang Muslim. Demikian dilansir Aljazeera. Baca selengkapnya: Rusuh anti-Muslim di Inggris, Buntut 3 anak tewas ditusuk ternyata ini pelakunya
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Diberitakan The Independent, identitas tersebut diungkap oleh hakim pengadilan Liverpool, Andrew Menary pada Kamis, (1/8/2024).
Menurut hakim, pengungkapan identitas Rudakubana adalah upaya untuk menghentikan hoaks tentang pelaku pembunuhan yang beredar di media sosial.
Diketahui, sebelumnya kelompok sayap kanan sempat menyebarkan rumor bahwa pelaku pembunuhan merupakan imigran Muslim.

Peran Tommy Robinson
Agitator sayap kanan Tommy Robinson dituduh sebagai biang kerok kerusuhan anti-imigran dan anti-Muslim yang merebak di sejumlah Inggris buntut penikaman tiga anak di Southport, Merseyside, pada Senin (29/7/2024) pekan lalu.
Sejumlah aktivis mengatakan Robinson memainkan peran penting dalam memicu kekerasan yang menyasar kelompok etnis minoritas.
Tommy Robinson merupakan mantan pemimpin English Defence League, sebuah kelompok sayap kanan Islamofobia yang didirikan 15 tahun lalu. Kepolisian Merseyside telah mengaitkan kelompok ini dengan protes keras di Southport.
Dilansir dari AFP, Tommy Robinson memiliki nama asli Stephen Yaxley-Lennon. Ia mantan anggota Partai Nasional Inggris (British National Party/BNP) yang pernah dipenjara karena kasus penyerangan.
Robinson lahir pada November 1982. Dia adalah salah satu aktivis anti-Muslim paling terkemuka di Inggris. Robinson pertama kali terkenal pada 2009 ketika dia membantu mendirikan English Defence League (EDL) di Luton, London.
Kelompok ini banyak diisi oleh hooligan sepak bola dan sering mengadakan demonstrasi di jalan yang menentang Muslim, serta kerap bentrok dengan demonstran anti-fasis.
Pada Oktober 2013, Robinson mundur dari EDL. Dia mengklaim tak mampu mengendalikan pengikut kelompok tersebut lantaran terlampau ekstrem.
EDL pernah terungkap memiliki hubungan dengan aktivis sayap kanan Norwegia Anders Behring Breivik, pelaku serangan bom dan penembakan pada Juli 2011 yang menewaskan 77 orang. Pada Desember 2011, dua pendukung EDL juga dihukum karena berencana mengebom sebuah masjid di Stoke-on-Trent.
Meski telah hengkang dari EDL, pengaruh Robinson nyatanya masih sangat kuat, kali ini di media sosial. Ia masih ‘didewakan’ pengikutnya seiring dengan serangkaian kasus yang menjerat dia.
Robinson pernah dipenjara karena kasus penyerangan, penghinaan terhadap pengadilan, kepemilikan narkoba, serta penipuan. Saat ini, ia diburu polisi gegara meninggalkan Inggris pekan lalu sebelum sidang kelanjutan kasus penghinaan terhadap pengadilan.
Berdasarkan cuplikan gambar yang diperoleh AFPTV, Robinson saat ini berada di Siprus untuk berlibur. Dia terlihat bersantai di tepi kolam renang sebuah hotel bintang lima di kota resor Ayia Napa.
Polisi Siprus mengatakan kepada AFP bahwa mereka yakin Robinson masih berada di pulau tersebut. Mereka juga telah memberi tahu pihak berwenang Inggris bahwa mereka mengawasinya.