Belajar Fotografi Gratis Bersama Kofimi Sukabumi, Tapi Ada Syaratnya

- Redaksi

Sabtu, 10 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komunitas Fotografer Independen Sukabumi

Komunitas Fotografer Independen Sukabumi

SUKABUMIHEADLINE.com – Kurang lebih sudah satu tahun Komunitas Fotografer Independen Sukabumi (Kofimi) berdiri. Selama itu pula Kofimi menjadi salah satu wadah berbagi tips dan cerita para pecinta dunia fotografi.

Salah seorang pendiri Kofimi, Asep Nasrulloh (25) mengatakan komunitas ini didirikan pada 26 Juni 2020. Digagas oleh Asep dan rekannya, Irfan. Setelah berdiri, Kofimi kemudian merekrut enam orang anggota pertama.

“Awal mula berdirinya Kofimi dari orang-orang yang senang dunia fotografi. Awalnya anggota kurang dari 10 orang, sekarang alhamdulillah sudah 60 orang,” kata pria yang akrab disapa Kakang itu kepada sukabumiheadline.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kakang menyebut Kofimi biasa berkumpul di Cafe Salaka atau di studio Aworld Photography kawasan Cicurug. Pertemuan biasanya dilakukan sebulan sekali.

Selain bersilaturahmi, saat kumpul itu Kofimi sering melakukan sharing informasi maupun tips dan pengetahuan seputar dunia fotografi.

“Kalau mau masuk jadi anggota Kofimi tidak dikenakan biaya. Hanya ada syarat tertentu. Salah satunya harus mengikuti event atau mini hunting minimal enam kali. Kita ingin melihat seberapa serius calon anggota yang mau gabung di Kofimi,” imbuhnya.

Berita Terkait

Milad ke-14 Hijabers Mom Community Sukabumi, galang dana bantu korban bencana
Komunitas Syiah Sukabumi edukasi santri soal bahaya gadget dan bullying
Go Suhartono, peserta tertua Bentang Jawa 2026 terpaksa DNF di Sukabumi
Ini daftar 103 ormas kawal program Prabowo dikukuhkan Hashim Djojohadikusumo
Kawal program Prabowo: 20 ormas dikukuhkan, total jadi 103 organisasi
Polda Jabar bakal bentuk Satgas Bobotoh Jaga Persib, Jaga Lembur Sauyunan
Mengenal Kucing Persia: Jenis, karakter, harga dan tips memelihara mpus asal Iran
Ceperist Sukabumi Ngahidji berbagi di bulan suci, santuni yatim piatu dan lansia

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 13:00 WIB

Komunitas Syiah Sukabumi edukasi santri soal bahaya gadget dan bullying

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 01:27 WIB

Go Suhartono, peserta tertua Bentang Jawa 2026 terpaksa DNF di Sukabumi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:21 WIB

Ini daftar 103 ormas kawal program Prabowo dikukuhkan Hashim Djojohadikusumo

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Kawal program Prabowo: 20 ormas dikukuhkan, total jadi 103 organisasi

Senin, 18 Mei 2026 - 02:44 WIB

Polda Jabar bakal bentuk Satgas Bobotoh Jaga Persib, Jaga Lembur Sauyunan

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB