sukabumiheadline.com – Go Suhartono, peserta tertua dan Muhammad Gusti Hibatullah sebagai peserta termuda dalam gelaran Bentang Jawa 2026, terpaksa DNF (Did Not Finish), setelah gagal menaklukkan lintasan ekstrem, dan jalur gravel di wilayah Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Ajang ultra-cycling paling populer di Indonesia itu memang menyajikan realitas keras. Sering kali tidak sesuai harapan. Tak peduli rekam jejak puluhan tahun atau semangat membara usia muda, ego sering kali harus direlakan demi keselamatan jiwa.
Melansir dari Mainsepeda, bagi Ko Hai, sapaan Go Suhartono, partisipasi di Bentang Jawa 2026 adalah ujian batas fisik atas kondisi tubuhnya. Ia disebut bukan nama baru di gelaran ultra-cycling.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pria 76 tahun itu diketahui rajin mengikuti berbagai event Mainsepeda, termasuk finish strong di East Java Journey (EJJ) 2024 kategori 1.500 km dengan catatan waktu 156 jam.
Namun nasib nahas menghampiri saat Ko Hai dan pair-nya, Vindranori Djiwananggoro, melintasi seksi gravel di Ciracap. Itu adalah jalur turunan berkerikil dan berlubang yang dikenal sangat merusak fokus pembalap.
Meski telah melaju pelan, ban sepeda Ko Hai tergelincir batu. Ia terjatuh ke sisi kiri dan lututnya terbentur. Setelah itu, Ko Hai tidak langsung berhenti. Ia masih mencoba berjalan lali. Bahkan di satu titik ia turun dan menuntun sepedanya.
“Itu (batu) memang nggak bisa dihindari. Jadi ya memang harus dilewati. Ban depannya itu tergelincir batu, akhirnya jatuh. Jatuhnya nggak seberapa, tapi pas kebetulan kena lutut yang kiri ini,” ungkap Ko Hai, dikutip sukabumiheadline.com dari video, Sabtu (21/8/2026).
Lutut kiri Ko Hai mengalami pengapuran (osteoarthritis) tingkat lanjut (Grade 4). Ia sebenarnya sudah disarankan menjalani operasi penggantian sendi dengan titanium. Namun ia tunda demi menyalurkan kecintaan pada olahraga ekstrem tersebut.
Ko Hai sempat memaksakan diri mengayuh sejauh puluhan kilometer hingga mencapai KM 363. Sekira pukul 16.30 WIB, rasa nyeri yang menusuk tak lagi sanggup ditahan. Dibantu Vindranori, Ko Hai akhirnya memutuskan untuk mengundur diri sebelum mencapai Checkpoint 1 (CP1) di Rancabuaya.
“Kepinginnya sih menyelesaikan sampai CP1, mau tak mau harus tak paksa, tapi ndak mungkin ini. Sakit sekali, jalan aja sakit. Kalau diteruskan ini tambah gempor,” lanjutnya.
Tim medis dan ambulans panitia Bentang Jawa 2026 sempat menawarkan rujukan ke klinik terdekat. Namun, Ko Hai memilih untuk langsung kembali ke Surabaya guna menjalani perawatan intensif.
Sementara itu, Gusti Hibatullah yang baru berusia 16 tahun dan berstatus peserta termuda Bentang Jawa 2026 harus DNF lantaran sepedanya patah setelah dua kali kecelakaan.
Ujian pertama menghampiri Gusti pada KM 48. Lubang jalan yang tak terhindarkan memicu kecelakaan (crash) pertama, mengakibatkan luka robek di lutut samping. Walau menahan rasa nyeri bak ditusuk-tusuk saat melibas tanjakan, Gusti terus mengayuh sepeda demi menjaga ritme balap.
Petaka puncak terjadi di KM 204, tepatnya pada turunan Cikotok sebelum tanjakan akhir. Perbedaan ketinggian permukaan aspal yang ekstrem di tengah jalan membuat sepeda Gusti melayang. Ia terpelanting keras hingga sempat kehilangan kesadaran.
“Aku terpental dengan keadaan sepedaku yang juga ikut melayang, sempat tak sadarkan diri. Namun bersyukur ada warga yang membantu dan memberi tahu bahwa frame sepedaku sudah terbelah dua. Sedih, kecewa, speechless,” tutur Gusti melalui akun media sosial pribadinya.
Untuk informasi, Zidan Attala Nouval memimpin balapan Bentang Jawa 2026. Ia telah mencapai kilometer ke-832, sudah lebih dari separuh jalan saat waktu genap 40 jam saja. Lajunya disusul oleh Berry Putra Perdana yang tertinggal 55 km dari Zidan.









