22.8 C
Sukabumi
Senin, April 22, 2024

Pria tewas tersambar petir saat main handphone ternyata ASN Pemkab Sukabumi

sukabumiheadline.com - Korban tewas dalam insiden tersambar...

Daftar kamera mirrorless tapi harga di bawah Rp5 juta, minat?

sukabumiheadline.com - Ingin merasakan sensasi saat melakukan...

Belasan pemotor pengguna knalpot bising diamankan Satlantas Polres Sukabumi

sukabumiheadline.com - Belasan pengendara sepeda motor yang...

Cerita Inspiratif Silmatunnisa, Santriwati Asal Sukabumi Hingga Bisa Kuliah di Turkiye

KhazanahCerita Inspiratif Silmatunnisa, Santriwati Asal Sukabumi Hingga Bisa Kuliah di Turkiye

sukabumiheadline.com l Menjadi santri atau santriwati kini tidak kalah bergengsi dengan lulusan sekolah sekolah negeri. Jika dahulu Santri hanya memiliki kemampuan mengaji saja, kini mereka juga memiliki banyak potensi strategis yang cukup layak diperhitungkan.

Bahkan, tidak sedikit tokoh-tokoh besar bangsa ini yang berlatar belakang santri. Mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha-pengusaha besar, seniman, hingga public figur. Hal itu karena kini banyak santri yang kini mengambil pendidikan tinggi hingga ke keluar negeri.

Cita-cita Santri untuk belajar, baik di dalam ataupun luar negeri harus tetap dijaga agar santri sebagai aset sumber daya manusia atau SDM yang unggul dan mampu bersaing di dunia global.

Silma Silmatunnisa, salah seorang santriwati asal Sukabumi yang merupakan alumni Pondok Modern Gontor Putri dan pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Assalam bercerita tentang Perjuangannya hingga bisa menempuh kuliah di Ankara Sosyal Bilimler Üniversitesi Türkiye.

Menurutnya, saat pertengahan Masa Pengabdian di Gontor Putri tepatnya tahun 2018, dirinya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

“Tapi bukan ke negara timur tengah seperti kebanyakan para alumni pesantren, namun ke negara yang unik dan multikultural dengan dua benua,” ungkap Silma dikutip dari santrirealistis.com.

Mengapa Turkiye? Karena negara tersebut dinilai Silma merupakan negara kaya akan sejarah, terutama sejarah pada masa Kekhalifahan Utsmani.

“Namun, ketika itu saya akui bahwa sangat minim informasi bagaimana langkah yang harus dilakukan agar bisa masuk ke salah satu universitas di Turkiye, karena pengabdian di Gontor Putri tidak dibolehkan membawa alat elektronik seperti handphone, laptop, dan lainnya,” paparnya.

Namun demikian, pada satu waktu ia bisa mengunjungi DCC (Darussalam Computer Center), tetapi itu pun dengan unit komputer yang masih terbatas.

Setelah beberapa kali mengunjungi DCC, sedikitnya ia mendapatkan berbagai macam informasi untuk bisa masuk ke salah satu universitas di Turkiye melalui Program YTB (Turkiye Burslari/Turkiye Scholarship) atau beasiswa yang diberikan langsung oleh lemerintah Turkiye untuk mahasiswa internasional jenjang S1, S2, S3.

Hingga kemudian, tibalah saatnya masa-masa akhir deadline apply YTB. Pada saat itu Silma memutuskan untuk pulang ke Sukabumi karena di Pondok Modern Assalam akan diadakan pengarahan apply YTB (Turkiye Burslari Scholarships).

Selesai apply YTB dan tinggal menunggu pengumuman hingga satu bulan kemudian.

“Tapi sayang, ternyata saat itu saya belum diterima untuk program beasiswa ini. Tapi ini tak membuat patah semangat untuk bisa ke Turkiye dengan jalur lain,” ungkapnya.

Silma pun kemudian memilih jalur mandiri dengan menggunakan hasil ujian YÖS. YÖS adalah ujian seleksi masuk universitas semacam SBMPTN, atau seleksi untuk masuk ke perguruan tinggi di Turkiye.

“Ujian YÖS yang saya ikuti diselenggarakan oleh Istanbul Univesitesi, atau IU YÖS. Setiap tahun kampus tertua di Istanbul ini mengadakan ujian yang mana tempatnya di berbagai macam negara, dan Indonesia adalah salah satunya. Ujian ini dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ),” jelas dia.

Kemudian pada 2019 lalu, iapun membulatkan niat dan tekad untuk mempersiapkan ujian ini.

“Walau saat itu posisi saya sedang mengabdi di Pondok Modern Assalam untuk tahun kedua pengabdian. Saya yang diposisikan sebagai pengasuhan dengan berbagai macam kegiatan yang dihadapi, berbagai macam santriwati yang harus diayomi, terlebih belum lagi jika ada wali santri yang datang ke kantor dengan keluhan anaknya,” kenang Silma.

Dalam situasi dan kondisi seperti itu, tak membuatnya putus asa untuk menghadapi ujian YÖS. Setidaknya dalam satu minggu ia bisa menyelesaikan 3 lembar soal-soal yang saat itu dibimbing oleh seorang guru yang kompeten di bidangnya.

Hari terus berlalu, tibalah saatnya ujian YÖS dilaksanakan padan malam hari pukul 20.00-22.00 WIB dengan diawasi oleh dosen-dosen dari Istanbul Üniversitesi Türkiye.

Satu pekan kemudian, nilai ujian sudah bisa dilihat di website. Namun ternyata nilai ujian YÖS yang diperoleh Silma tidak mencukupi untuk masuk PTN di Turkiye hingga iapun terpaksa harus mengulang untuk yang kedua kalinya, dan kembali gagal.

Dua hari setelah ujian YÖS, ayahnya meminta Silma untuk mengikuti ujian seleksi ke Mesir melalui jalur Kedubes.

“Tanpa persiapan yang matang saya pun mengikuti ujian tersebut. Satu pekan kemudian ada informasi dari pihak Kedubes bahwa tiga dari enam orang yang mengikuti ujian saat itu dari santri Assalam dinyatakan lolos dan berhak mendapatkan beasiswa. Dan saya adalah salah satu dari tiga orang itu,” cerita dia.

“Perasaan tak menentu, apakah saya harus senang atau sedih. Dalam benak saya hanya ada satu kalimat, ‘tetap ingin ke Turkiye’, bisik hati saya. Berkas-berkas yang diminta oleh Kedubes satu per satu saya kumpulkan walau harus bolak balik ke Jakarta dan Bandung. Mulai dari SKCK, berkas-berkas pribadi yang diterjemahkan ke Bahasa Arab dan lain-lain,” jelas Silma.

Hingga pada Oktober 2019, ada salah satu teman seangkatan dengan Silma mengiriminya direct massage (DM) di instagram untuk membantu like postingannya dalam program IYS (Istanbul Youth Summit) tahun 2020.

Ternyata setelah satu bulan kemudian, ia melihat story Instagram temannya yang sudah berada di Turkiye. Bukan untuk mengikuti program IYS, seperti yang ia pernah sampaikan saat itu, melainkan untuk melanjutkan studi di Turki, tepatnya di Kota Ankara.

“Mendengar kabar ini, saya langsung antusias dan banyak bertanya tentang proses perjalanannya sampai bisa diterima di salah satu kampus Ibu Kota Turkiye. Saya sampaikan kepadanya bahwa sampai saat ini belum berhasil, dan sempat dua kali selama dua tahun berturut-turut belum berhasil untuk bisa kuliah di Turkiye,” kenang Silma.

“Saya menggunakan bahasa belum berhasil, karna saya yakin tidak ada seorang pun yang gagal melainkan belum berhasil. Dari percakapan kami di Instagram yang hanya memohon bantuan like postingannya, hingga ternyata teman saya ini lah yang membantu proses perjalanan saya menuju Turkiye saat ini. Dari berkas-berkas dan persyaratan yang harus di-apply, hingga semua kebutuhan meliputi tempat tinggal dan lainnya juga ia yang membantu,” paparnya.

Pada awal 2020, Silma pun mencari lebih banyak informasi seputar lembaga-lembaga yang bisa memfasilitasinya untuk mempersiapkan Test IELTS. Karena salah satu syarat untuk jalur langsung apply ke kampus yang ditujunya adalah Score IELTS, karena kampus tersebut adalah kampus yang full berbahasa Inggris,” jelasnya.

Sampai pada akhirnya, walau dengan keadaan yang sangat mendesak sekali karena pada saat itu tengah lockdown akibat pandemi Covid-19, membuatnya tidak bisa langsung belajar offline di lembaga tersebut.

“Saya kuatkan tekad untuk mengikuti Test IELTS di IDP Bandung pada bulan Agustus. Setelah 14 hari, keluarlah hasil tesnya dan dengan hasil tersebut saya gunakan untuk apply ke kampus tujuan,” ujar dia.

“Masih dengan harapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya harap dengan langkah ini saya dapat diterima di kampus tersebut. Tak peduli bagaimana hasilnya, yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya yakin Allah tidak tidur, Allah SWT melihat usaha hambanya yang sunggung-sungguh dan bertawakal dan saya yakin pertolongan Allah itu pasti ada,” harapnya ketika itu.

Kurang lebih dua pekan setelah tanggal apply, ia mendapatkan email dari kampus bahwasannya nama Silma Silmatunnisa diterima di kampus tersebut.

“Jujur saja, setelah melihat kabar ini, saya menangis terharu teringat banyak usaha-usaha yang sudah saya perjuangkan dan tidak sedikit mengeluarkan tenaga, fikiran, juga materi,” kenang Silma.

“Allah SWT Maha Adil, Maha Baik, Maha Bijaksana. Ternyata memang benar, pertolongan Allah itu benar-benar ada. Siapa sangka Allah SWT mengirimkan saya seorang teman yang sebenarnya belum saya kenal sebelumnya, memang kami satu angkatan, tapi berbeda kampus,” papar Silma.

“Kami bahkan tidak pernah berkomunikasi sebelumnya, hanya pernah tidak sengaja berpapasan disalah satu gedung di Gontor Putri 1 kala itu. Ternyata, dia adalah wasilah yang Allah berikan untuk membantu saya menuju Turkiye,” jelasnya.

Walau jalur yang ia tempuh saat itu adalah jalur pemberkasan mandiri, tapi belum tentu orang yang mampu dalam segi materi bisa lolos. Kalaulah Allah SWT tidak berkehendak, maka tidak akan terjadi.

“Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari teman yang telah membantu saya dalam proses keberhasilan ini. Katanya: ‘Bantulah siapapun orang yang membutuhkan bantuan kita. Selama kita bisa bantu, bantulah. Karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang akan membantu kita. Mungkin saja orang yang kita bantu hari ini, ialah yang akan membantu kita di kemudian hari’,” jelas Silma.

Terlebih, ia mendengar cerita, ia pernah dibantu oleh seseorang ketika proses menuju ke Turkiye, dan orang yang membantunya ini ingin berterimakasih, karena dulu pernah dibantu oleh kakak dari teman yang membantu Silma.

“Orang tersebut membalas dengan cara membantu adiknya. Inilah yang dimaksud dengan pertolongan yang berkesinambungan. Kita tidak tahu di mana dan kapan akan membutuhkan bantuan. Maka dari itu selama kita bisa membantu orang lain, bantulah ia sekuat tenaga yang bisa kita berikan semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer