25.2 C
Sukabumi
Selasa, April 23, 2024

Smartphone dengan Peforma Mewah, Spesifikasi Xiaomi 13T Dilengkapi Kamera Leica

sukabumiheadline.com - Xiaomi selalu menjadi incaran bagi...

Yakin Wanita Sukabumi Tak Minat Beli Yamaha QBIX 125? Intip Spesifikasi dan Harganya

sukabumiheadline.com l Yamaha QBIX 125 telah mengaspal...

Cerita Wanita Sukabumi Penyintas Bencana, 5 Tahun di Huntara Berbagi Dapur untuk Tidur dan Belajar Anak

LIPSUSCerita Wanita Sukabumi Penyintas Bencana, 5 Tahun di Huntara Berbagi Dapur untuk Tidur dan Belajar Anak

sukabumiheadline.com l Total hampir 5 tahun sudah para penyintas bencana gerakan tanah Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat menempati hunian sementara (huntara).

Bangunan berukuran 4 x 4 meter persegi yang ditempati ratusan penyintas berlokasi di Kampung Ciboregah desa setempat. Lokasinya sekira 3 kilometer dari sebelumnya mereka tinggal, sebelum terdampak bencana.

Ratusan jiwa penyintas bencana geologi ini mulai menempati huntara yang disediakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi sejak Sabtu, 31 Agustus 2019. Sebelumnya di antara mereka sempat menghuni tenda pengungsian selama hampir 4 bulan

Sedangkan bencana yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi mulai diketahui warga pada pertengahan April 2019. Dan semakin hari retakan dan amblesan tanah terus meluas secara sporadis hingga akhirnya memporak-porandakan permukiman.

“Sudah tiga tahun di sini. Bangunannya sudah pada rusak sudah tidak nyaman dan layak untuk ditinggali,” ungkap seorang penyintas Nina Tri Agustina (27) kepada sukabumiheadline.com ditemui di huntara, Senin (11/2/2024).

Nina menuturkan, ia harus mengatur ruangan ukuran 4 x 4 meter persegi seoptimal mungkin. Ruangan yang dibangun berkerangka baja ringan dengan dinding GRC tersebut, harus dibagi menjadi ruang tidur, tempat belajar anak, menyimpan lemari, ruang keluarga untuk nonton televisi, sekaligus dapur.

“Saya tinggal di sini bersama suami dan dua anak,” tutur dia.

Di sisi lain, Nina juga mengkhawatirkan kondisi bangunannya karena seng pada bagian atap sudah bolong-bolong, bautnya pada copot terkena angin, dan hujan.

“Dinding juga bolong-bolong jadi binatang ada yang pernah masuk ke dalam,” aku Nina.

Menurut Nina, sebelumnya pemerintah menjanjikan akan merelokasi para penyintas bencana ke hunian tetap (huntap) di lokasi lebih aman dan nyaman. Namun, hingga saat ini huntap yang ditunggu-tunggu belum juga terealisasi meskipun sedang dalam proses pembangunan.

“Janjinya dua tahun tinggal di huntara, tapi sampai sekarang belum selesai dibangun. Kami di sini sudah bosan, ingin segera pindah ke huntap,” ujarnya.

“Sampai saat ini belum ada kabar, cuma angan-angan saja. Datang dari sana dari sini berjanji tapi kenyataannya belum terealisasi,” sambung Nina dengan nada kesal.

Ingin Kembali Hidup Normal

Keluhan senada disampaikan penyintas bencana lainnya, Sumiati (34). Dia menuturkan sebelumnya pemerintah menjanjikan dua tahun menempati huntara lalu akan dipindahkan ke huntap.

Berbagai informasi rencana pembangunan huntap sering didengar, warga sudah senang. Apalagi lahan untuk huntap sudah ada di Kampung Cimenteng. Namun sampai saat ini belum terealisasi juga.

“Semua warga (penyintas) pasti ingin segera dibangunkan huntap. Kami ingin kembali hidup normal seperti warga lainnya tinggal di rumah yang layak,” tutur dia.

“Kalau di sini kan sempit, ukurannya empat kali empat meter. Kebayang kalau anggota keluarganya banyak,” sambung Sumiati yang tinggal bersama suami dan dua anaknya.

Penyintas lainnya Ade Aisyah (53) mengakui bangunan huntara sudah tidak enak, tidak nyaman. Bila hujan berisik, dinding sudah bolong-bolong akibatnya binatang berbahaya seperti ular bisa masuk ke dalam.

Ruangan sempit harus berbagi untuk tidur, hingga dapur. Padahal sebelum terjadi bencana menempati rumah panggung miliknya cukup luas dengan kamar tiga

“Sudah gak betah. Katanya mau dipindahkan ke huntap, sudah ada lahannya di Cimenteng tapi sampai sekarang masih belum selesai, gimana ini,” aku Ade.

“Kami sangat berharap huntap, dijanjikan dua tahun tinggal di huntara lalu pindah ke huntap. Tapi sekarang sudah tiga tahun tapi huntapnya tidak ada,” sambungnya.

Sementara menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, lokasi huntara dibangun 74 unit dalam 37 kopel, juga terdapat 4 unit tempat mandi cuci kakus (MCK) dengan masing-masing 3 kamar dan sarana air bersih.

Jumah rumah dan penduduk terdampak bencana gerakan tanah pada April 2019 sebanyak 129 rumah dengan penduduk 161 kepala keluarga (KK) yang berjumlah 482 jiwa.

Sebelumnya terdata sebanyak 109 rumah dengan jumlah penduduk sebanyak 110 KK yang berjumlah 354 jiwa.

Dampak lainnya fasilitas umum berjumlah 3 unit, sawah 26 hektar dan jalan provinsi sepanjang 200 meter rusak.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer