sukabumiheadline.com – Cibadak merupakan salah satu dari 47 kota kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Cibadak yang populer disebut sebagai Kota Nayor itu, digadang-gadang akan menjadi calon Ibu Kota Sukabumi Utara.
Cibadak terbilang strategis karena letaknya berada di tengah-tengah dari total jumlah kecamatan yang akan bergabung dengan Kabupaten Sukabumi Utara. Baca lengkap: Membanding Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Sukabumi dan Sukabumi Utara
Karenanya, seperti yang kita saksikan saat ini, Cibadak, telah berubah menjadi kota dengan hiruk pikuk aktivitas perekonomian dan segala persoalannya, dari mulai kemiskinan, hingga sampah dan kemacetan lalu lintas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di luar persoalan sosial yang mengepung Cibadak, tidak banyak warga Sukabumi yang mengetahui bahwa nama Cibadak sendiri baru populer sejak abad ke-19.
Berikut adalah 5 catatan tranformasi Kita Cibadak sejak zaman purba, seperti dilansir sukabumixyz.com.
1. Dihuni Manusia Sejak Zaman Purba
Wilayah Cibadak sudah dihuni manusia sejak masa purba, tepatnya sejak zaman batu. Terbukti dengan temuan kapak batu di dalam tanah di wilayah Malingut, Cibadak, kemudian di Cipetir, di Karang Tengah tepi sungai Ciheulang dan di Cibadak sendiri.
Delapan buah kapak batu juga ditemukan di Cikidang, dua di antaranya ditemukan di Pasir Rarangan. Saat ini keberadaan kapak-kapak tersebut berada di Museum Pusat Jakarta.
Sejarah Cibadak juga diwarnai masa logam, dibuktikan dengan temuan tiga buah kapak perunggu di Munjul oleh Mr. J.G. Huisjer pada 1871. Penemuan kapak perunggu ini bersamaan dengan kepingan periuk belanga. Kemudian di Sinagar, Nagrak, ditemukan dua lonceng perunggu, dua cermin dan sebuah piring logam.
2. Kabuyutan Sanghiyang Tapak
Sanghyang Tapak adalah sebuah kabuyutan di Cibadak, nama itu disebut dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Cibadak, pada tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 atau 11 Oktober 1030, ini terdiri dari empat buah batu bertulis yang ditemukan di aliran Sungai Cicatih, sebuah lagi ditemukan pada 1890 di hutan pinggir sungai yang sama, tepatnya di dekat Leuwi Kalabang.
Prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan oleh Wedana Cibadak saat itu ke Museum Batavia (Jakarta), kemudian pihak Museum memberi nomor koleksi D.73.
Untuk menyaksikan keberadaan sisa-sisa Kabuyutan Cibadak ini bisa dilihat jelas dari Puncak Panenjoan lho.
3. Ditemukan Banyak Prasasti
Tiga prasasti lain yang ada hubungannya dengan Sri Jayabhupati, ditemukan J. Faes pada 1897, dari dalam hutan Bantar Muncang, Kecamatan Cibadak. Ketiga prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan ke Museum Batavia, kemudian diberi nomor koleksi D.96, D.97, dan D.98.
Sesudah dibantu diterjemahkan oleh Patih Sukabumi Soeria Nata Legawa dan Dr Lord deu Brandes tahun 1899, akhirnya Pleyte menyimpulkannya di dalam sebuah artikel berjudul “Maharaja Cri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak”.
Prasasti ini begitu penting karena membuka catatan sejarah Kerajaan Sunda yang sebelumnya samar dan tidak jelas. Isi prasasti juga unik, karena dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur baik bahasa, gaya penuturan, dan penggunaan gelar.
Prasasti Cibadak menjelaskan bahwa Raja Sunda Sri Jayabuphati telah membuat tapak di sebelah timur kabuyutan Sanghyang Tapak. Sungai yang sudah dibatasi dengan dua batu besar di bagian hilir tadi, siapapun dilarang menangkap ikan dengan ancaman kutukan, sebuah metode keseimbangan alam masa lalu.
Keberadaan prasasti di kabuyutan Cibadak ini bukan berarti Cibadak pernah jadi pusat pemerintahan, tetapi sebagai salah satu tempat penting dalam mengatur kehidupan masyarakat, baik sebagai tempat suci maupun tempat pendidikan.
Kabuyutan ini menurut Pleyte berhubungan juga dengan tempat perlindungan di sekitar Perbakti di Kecamatan Cicurug. Sesudah mengkomparasikan prasasti ini dengan Pustaka Nusantara I/2, diketahui hubungan kekerabatan dengan raja-raja wilayah lain seperti Dharmawangsa, kemudian Raja Melayu, Raja Sriwijaya, Mentri Bali, dan lain-lain.
Jika dipetakan batas timur Sanghyang Tapak ini cukup luas, dari sekitar Pamuruyan hingga Bantarmuncang, atau mungkin lebih luas dari Kota Cibadak saat ini. Hal ini memunculkan asumsi bahwa Ibu Kota kota Pajajaran pernah ada di sini.
Untuk informasi, istilah kabuyutan berasal dari kata buyut yang mengandung arti dua hal. Pertama, turunan keempat (anak dari cucu) atau leluhur keempat (orang tua dari nenek dan kakek). Kedua, pantangan atau tabu alias cadu atau pamali. Kabuyutan identik dengan hal yang dianggap keramat atau suci dan sakral. Konon, di situlah tempat para pandita dan pujangga bekerja dan mengajarkan ilmunya.
4. Asal-usul Nama Cibadak
Berbicara tentang kota kecil Cibadak, pada mulanya merupakan sebuah kawedanaan. Konon, nama Cibadak berasal dari sebuah tempat pemandian Badak di dekat Sungai Cicatih (sekitar Sungai Pamuruyan sekarang), yang menjadi nama kampung kecil, Cibadak.
Tetapi, cerita tentang pemandian binatang badak ini, warga Cibadak sendiri pasti hanya mendengar secara sekilas-sekilas dari para orang tua.
Namun, sebenarnya banyak fakta sejarah di baliknya yang luput diceritakan orang tua, sehingga cerita tentang itu lebih mirip seperti hanya sebuah dongeng belaka.
5. Dulu Populer dengan Nama Ciheulang
Dulu wilayah ini lebih dikenal dengan nama Ciheulang, Scipio yang melewati wilayah ini bersama Letnan Tanujiwa pada 11 Agustus 1867, menyebutnya sebagai Silangh (Ciheulang). Begitupun Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck yang mengunjungi Jogjogan dan Pondok Opo (dua tempat yang masih wilayah Cibadak) menyebutnya sebagai Tzilangh.
Nama Ciheulang kemudian diresmikan sebagai distrik pada 1776. Fakta pembentukan distrik untuk pertamakalinya diperkuat oleh keberadaan kuburan Raden Raksadipraja (1739-1830) demang/wedana Ciheulang pertama di Nagrak.
Pembangunan infrastruktur awal di Cibadak dilakukan sesudah pembelian wilayah ini oleh Engelhardt bersamaan dengan wilayah lainnya oleh Andries De Wilde dan Raffles pada 1813. Sang pengelola yaitu Andries De Wilde membangun 20 kilometer irigasi yang disalurkan dari Sungai Cikolawing dan Cicatih.
Baca Juga: 5 Misteri Pendakian Gunung Gemuruh oleh Raffles dan De Wilde di Batas Sukabumi-Cianjur
Dalam catatan peneliti Pieter Willem Korthals tanggal 2 Juli 1831, wilayah yang dia sebut The Badaks (Cibadak), memiliki irigasi yang dibuat disungai Tjitjati dengan lembah berumput dan kontur yang tajam. Irigasi ini digunakan untuk mengairi perkebunan tanam paksa.
Barulah setelah Stasiun Kereta Api (KA) selesai dibangun, nama Cibadak semakin populer. Sehingga pada 17 Mei 1913 Distrik Ciheulang berubah nama menjadi Distrik Cibadak dan dikenal pada masa awal kemerdekaan sebagai Kawedanaan Cibadak.