32 C
Sukabumi
Senin, Juni 24, 2024

Hamas Gencatan Senjata di Gaza, Hizbullah Tetap Gempur Israel dari Lebanon

sukabumiheadline.com l Milisi perlawanan Lebanon, Hizbullah dilaporkan...

Persib Pernah Rugi Rp18 Miliar, Glenn Sugita Bos Maung Bandung Berharta Rp29 Triliun

sukabumiheadline.com - Perjalanan Persib Bandung yang menjelma...

Dengan DNA 250 CC, Kawasaki Ninja Matic 160 Bakal Obrak Abrik Dominasi NMax dan PCX

sukabumiheadline.com l Pasar otomotif Indonesia kembali dihebohkan...

Honor Kecil dan Dicegat Kera, Suka Duka Guru Honorer di Pedalaman Sukabumi

LIPSUSHonor Kecil dan Dicegat Kera, Suka Duka Guru Honorer di Pedalaman Sukabumi

SUKABUMIHEADLINE.com I TEGALBULEUD – Menjadi seorang tenaga pendidik butuh perjuangan, terlebih mereka yang mengajar di wilayah pedalaman. Karenanya, keberadaan guru honorer terbilang vital dibutuhkan.

Ada banyak kisah perjuangan guru-guru honorer yang berjuang di wilayah pedalaman Kabupaten Sukabumi, salah satunya Mery Esa Kamila. Saat ini, wanita kelahiran Sukabumi, 12 September 1994 silam, itu mengajar di SMP Negeri 2 Tegalbuleud.

Tegalbuleud adalah salah satu kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, atau berjarak 89 kilometer dari pusat kota. Namun, tekad dan dedikasinya, membuat ia tetap semangat mengabdikan dirinya di pelosok, tepatnya di Kampung Pasirsalam, Desa Nangela.

Diakuinya, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi dia. Karenanya, selain mengajar di SMPN 2, ia juga menjadi mengajar di sebuah MTs swasta di kecamatan yang sama.

Suka Duka jadi Guru Honorer

Perjalanan Mery sebagai guru honorer, dimulai sejak 2013, ketika ia baru lulus SMA. Kemudian, berlanjut hingga ia mendapatkan gelar sarjana pada 2017 lalu.

“Pertama mengajar dari lulus SMA, tahun 2013, di sebuah sekolah swasta sampai tahun 2017 saya lulus kuliah, pindah ke sekolah negeri. Dari tahun 2018 saya mengajar di SMPN 2 Tegalbuleud sampai sekarang. Jadi kalau dihitung sudah hampir 9 tahun menjadi guru honorer. Sampai saat ini memang pilihan karena latar belakang saya sarjana pendidikan,” kata pengajar mata pelajaran IPA itu.

Honornya sebagai guru honorer memang masih jauh dari kata cukup. Namun, Mery tetap bersyukur karena berpikir selama mau bekerja keras dan melakukannya dengan ikhlas maka perubahan lambat laun akan dicapai.

Mery Esa Kamila
Mery Esa Kamila saat mengajar. l Dok. Pribadi

“Kalau soal gaji tidak banyak, di SMPN 2 saya digaji oleh DPS (Dana Pengembangan Sekolah) yang langsung di transfer ke rekening sebesar Rp380 ribu, karena saya hanya mengajar 10 jam. Ada banyak PNS dan PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di sekolah saya jadi hanya ditugaskan mengajar 10 jam,” kata Mery.

Meski terbilang kecil, Mery mengaku honor yang diterimanya tidak selalu tepat waktu. “Untuk pembayaran honor kadang sebulan sekali, tapi kadang sampai dua bulan belum menerima. Malah pernah sampai tiga bulan baru terima. Kalau di Mts saya hanya digaji Rp17 ribu per jam, saya memegang sekitar 24 jam, jadi sekira Rp420 ribu per bulannya. Kondisinya relatif sama, paling cepat tiga bulan sekali, atau kadang sampai enam bulan sekali. Walau seperti itu, saya syukuri karena memang untuk kebutuhan sudah ada suami yang bertanggung jawab jadi sebagai seorang istri dan ibu hanya mengamalkan ilmu yang saya miliki,” papar dia.

Untuk menambah penghasilannya saat ini, selain mengajar Mery juga berjualan makanan, peralatan rumah tangga, atau kerja kontrak, seperti menjadi panitia lokal pemilihan umum dan petugas sensus. “Apa saja yang penting halal,” cetusnya sambil tersenyum.

Duka lainnya, untuk sampai ke sekolah, Mery harus menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer melintasi hutan dan perkebunan. Dengan mengendarai sepeda motornya, Mery tetap semangat mengajar agar anak-anak di daerahnya mendapatkan pendidikan yang layak.

“Perjalanan ke tempat saya mengajar kurang lebih 10 kilometer, saya mengendarai motor sendiri untuk sampai ke sana. Jalannya melewati perkampungan, perkebunan karet, dan di perjalanan kadang saya dicegat beberapa kera dan kambing karena memang masih hutan. Tapi alhamdulillah, sejauh ini tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan,” ungkap ibu dari satu anak ini kepada sukabumiheadlines.com, Kamis (25/11/2021).

“Suka duka menjadi guru, itu bahagia saat bisa bertemu dan belajar bersama anak-anak, yang bermacam-macam karakternya. Namun, kadang sedih saat setiap bulan menunggu gaji yang tidak seberapa, tapi jarang tepat waktu,” papar guru honorer berusia 25 tahun itu.

Hanya kecintaan terhadap profesi dan anak-anak didiknya yang membuat Mery bertahan, meskipun hanya menjadi guru honorer.

“Saya bertahan menjadi guru honorer karena merasa ini adalah dunia saya, dengan mendidik dan bertemu setiap hari dengan anak-anak untuk belajar bersama mereka, selalu ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau melihat mereka serius dan antusias dalam belajar. Misalnya, cerita-cerita lucu mereka, tawa mereka dan berisik mereka, seolah adalah dunia saya yang tidak pernah ingin saya tinggalkan. Selain itu, dengan mengajar saya selalu ingin belajar hal baru untuk meng-upgrade ilmu-ilmu baru, akhlak terbaik agar bisa menjadi contoh anak-anak. Memang banyak yang menawari dan pernah bekerja di berbagai instansi, tapi tidak ada yang lebih menyenangkan selain mengajar,” jelas wanita yang bergelar sarjana itu.

Mery, dan tentunya semua guru honorer berharap mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dalam hal kesejahteraan.

“Harapan saya sebagai guru honorer inginnya lebih diperhatikan oleh pemerintah selayaknya profesi lain yang jelas pendapatannya,” harap Mery.

“Bukan tidak ikhlas hanya saja sebagai seorang guru saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk siswa-siswi saya dengan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan agar ilmu yang mereka dapatkan lebih baik lagi. Semoga guru honorer mendapat kejelasan jenjang karier, tidak sebatas menjadi PNS, atau PPPK,” pungkasnya.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer