sukabumiheadline.com – Aksi membongkar plang nama pondok pesantren (ponpes) milik keluarga dai kondang berinisial MSL di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, oleh warga viral di media sosial.
Seperti diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, dai kondang juga pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Cicantayan diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya. Dugaan tersebut terungkap setelah para korban berani mengungkap apa yang dialaminya.
Menurut kuasa hukum orang tua korban, Rangga Suria Danuningrat dari LBH Pro Ummat, pihaknya mendapat informasi tersebut dari keluarga korban yang kini menjadi kliennya dalam perkara tersebut. Baca selengkapnya: Kronologi bujuk rayu dai kondang di Sukabumi diduga lakukan pelecehan terhadap santriwati
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun aksi pembongkaran plang ponpes dikabarkan terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam sekira pukul 22.00 WIB. Dalam video yang beredar, sejumlah warga terlihat menurunkan hingga memotong plang nama pesantren menggunakan mesin gerinda.
Sementara itu, sejak kabar dugaan pencabulan merebak, ponpes yang berdiri sejak 17 Juli 2021 tersebut, kini kondisi bangunan terlihat kosong karena keluarga MSL sudah tidak lagi berada di lokasi.
Ketua RT setempat, Iwan Setiawan (48), mengatakan pembongkaran plang tersebut merupakan hasil kesepakatan warga bersama para tokoh masyarakat setempat.

Menurut Iwan, langkah itu dilakukan bukan sebagai aksi anarkis, melainkan upaya mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Alasannya kami dari semua pihak, semua tokoh di Cikondang ini sebetulnya bukan anarkis. Justru kita dari oknum luar yang takutnya kalau misalkan pelaku masih terpampang, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar Iwan, Jumat (13/3/2026).
Selain itu, kata dia, lokasi plang tersebut rencananya juga akan dimanfaatkan sebagai akses jalan menuju tempat pemakaman umum (TPU) di kawasan tersebut.
“Kedua, nantinya akan dijadikan jalan menuju TPU karena ini memang jalur pemakaman juga. Oleh karena itu kami sepakat dengan semua tokoh warga Kampung Cikondang untuk membongkar gapura atau plang tersebut,” katanya.
Iwan mengungkapkan warga merasa sangat kecewa dengan dugaan kasus yang menyeret nama dai tersebut. Menurutnya, masyarakat setempat merasa nama baik lingkungan mereka ikut tercoreng.
“Tokoh-tokoh di sini sangat kecewa. Kok seorang ustaz atau dai sampai melakukan hal yang tidak senonoh,” ucapnya.
Ia menambahkan, warga berharap aparat penegak hukum segera menangkap MSL dan memproses kasus tersebut secara adil.
“Harapan warga pelaku segera ditangkap dan dihukum seadil-adilnya atas apa yang dia lakukan terhadap santri tersebut,” katanya.
Menurut Iwan, warga terakhir kali melihat MSL sebelum berangkat menunaikan ibadah umrah, sekitar satu hari sebelum memasuki bulan Ramadan. Sejak saat itu keberadaannya tidak diketahui.
“Pas mau berangkat umrah, satu hari sebelum puasa. Setelah itu belum ada kabar lagi dan orangnya juga tidak terlihat,” ujarnya.









