sukabumiheadline.com – Sosok Prajogo Pangestu terus menjadi pemberitaan berbagai media karena Forbes berulangkali mansbihkan miliarder ini sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan berjumlah fantastis, ribuan triliun! Jumlah yang berhasil menempatkan dirinya di posisi 24 orang terkaya di dunia. Baca selengkapnya: Miliki Aset di Kabandungan Sukabumi, Prajogo Pangestu Jadi Orang Terkaya ke-24 di Dunia
Mantan sopir angkot yang baru saja dinobatkan sebagai orang terkaya kelima di Asia dengan harta sebanyak Rp1.000 triliun lebih ini, adalah bos PT Barito Pacifik Tbk (BRPT) yang sahamnya laris manis di lantai bursa. Baca selengkapnya: Punya aset triliunan Rupiah di Sukabumi, mantan sopir angkot masuk Top 5 orang terkaya di Asia
Terbaru, saham BRPT diburu pada sesi I perdagangan 11 September 2024. Saham ini begitu laris dengan frekuensi perdagangan mencapai 21.958 kali. Adapun 275,5 juta saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp316,7 miliar. Larisnya saham Barito Pacific ini memompa harganya +5,91% ke Rp1.165.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karenanya, Sucor Sekuritas merekomendasikan saham BRPT sebagai high alpha stock, atau saham dengan pengembalian yang jauh melebihi rata-rata pasar.
Namun sayangnya, kekayaan fantastis Prajogo Pangestu, ternyata keberadaan perusahaan miliknya di Sukabumi tidak terlalu berpengaruh terhadap kesejahteraan warga di sekitar perusahaan.
Baca Juga:
BREN
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merupakan perusahaan induk sekaligus bagian dari Grup Barito Pacific, milik Prajogo Pangestu. Perusahaan ini berfokus pada strategi jangka panjang untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan emisi yang lebih rendah.
Perusahaan ini memulai operasinya melalui anak perusahaannya, Star Energy Geothermal Group, sebuah produsen energi panas bumi. Perusahaan kini memiliki tiga aset panas bumi di Jawa Barat dengan kapasitas 886 MW, yang merupakan 38% pangsa pasar energi panas bumi di Indonesia.
Perusahaan yang berkantor di Wisma Barito Pacific II, 23rd Floor, Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 60 Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, ini memiliki dua pembangkit listrik di Kabupaten Sukabumi yang bernilai triliunan Rupiah.
PLTP Salak

Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) pertama yang dimiliki Prajogo Pangestu, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Salak berdiri megah di atas gunung yang terkenal paling angker di Indonesia itu. Namun, keberadaan PLTP ini telah menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit, ribuan miliar Rupiah, terhitung sejak beroperasi pada 1994 silam.
Rekomendasi Redaksi: Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi
Setiap tahun, tidak kurang dari Rp60 miliar hingga Rp80 miliar mengalir ke kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, melalui Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bonus Produksi (BP).
Angka tersebut tentunya belum termasuk nominal yang diterima Pemkab Bogor, mengingat lokasi PLTP terbesar di Indonesia tersebut berada di antara dua kabupaten di Jawa Barat itu.
Pembangkit listrik yang disebut sebagai terbesar di dunia ini dimiliki Star Energy Geothermal Salak (SEGS), anak usaha BREN, setelah merampungkan akuisisi dengan Chevron Geothermal Salak. Baca sejarah PLTP Salak: Sejarah PLTP Gunung Salak, Setor Puluhan Miliar Rupiah per Tahun ke Kas Pemkab Sukabumi
Baca Juga:
Namun sayangnya, kehadiran BREN dan SEGS tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan warga di sekitar lokasi usaha, Kecamatan Kabandungan. Baca selengkapnya: Berharta Rp1.000 triliun, Prajogo Pangestu bertetangga dengan kemiskinan di Sukabumi
PLTB Sukabumi

Perusahaan EBT kedua yang dimiliki miliarder eks sopir angkot tersebut, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sukabumi.
Rencana pembangunan proyek PLTB di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, hingga saat ini masih simpang siur. Bahkan, proyek kemudian dialihkan dulu ke Sulawesi Selatan.
Namun belakangan, proyek tersebut dicaplok oleh perusahaan swasta milik orang terkaya di Indonesia dan nomor 24 di dunia, Prajogo Pangestu, juga melalui BREN.
Padahal, rencana pembangunan proyek tersebut sudah dijanjikan oleh Presiden Joko Widodo. Bahkan sejak 2019 silam. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat pun sesumbar bahwa pembangunan PLTB di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi berkapasitas 150 megawatt (MW) itu akan terlaksana dalam waktu dekat. Baca selengkapnya: Apakabar PLTB Sukabumi? Terbesar se-Asia, dipindah ke Sidrap, dicaplok BREN