22.2 C
Sukabumi
Minggu, Mei 26, 2024

Honda AMAX 160, skutik futuristik performa unggul jadi penantang Yamaha Aerox

sukabumiheadline.com - Honda kembali menggebrak pasar skutik...

Smartphone dengan Peforma Mewah, Spesifikasi Xiaomi 13T Dilengkapi Kamera Leica

sukabumiheadline.com - Xiaomi selalu menjadi incaran bagi...

Nostalgia Baenuri, Pemburu Kumbang di Sukabumi Kehilangan Penghasilan Sebab PLTP Salak

SukabumiNostalgia Baenuri, Pemburu Kumbang di Sukabumi Kehilangan Penghasilan Sebab PLTP Salak

sukabumiheadline.com l Bangbung atau kumbang, bagi sebagian orang, mungkin hanyalah hewan biasa saja layaknya kupu-kupu atau lainnya. Bahkan, banyak di antaranya yang menganggapnya sebagai hama.

Padahal, bagi sebagian orang lainnya, kumbang, atau bangbung dalam bahasa Sunda, menjadi sumber penghasilan menggiurkan.

Dituturkan oleh Baenuri, dirinya bersama puluhan warga lainnya di Kampung Babakan, Desa/Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pernah selama bertahun-tahun hidup dari hanya berburu kumbang di Gunung Salak.

Salah satu jenis kumbang unik dan langka, kata kakek 22 cucu itu, yakni kumbang metalik. Terlebih yang berwarna hijau atau cotnis mutabilis yang juga dikenal sebagai kumbang figeater, juga dikenal dengan kumbang buah hijau atau kumbang ara, paling banyak dicari kolektor.

Karenanya, bangbung jenis ini dihargai hingga jutaan Rupiah per ekor. Sedangkan jenis lainnya, dihargai antara Rp75 ribu hingga Rp300 ribu.

“Bangbung metalik itu paling mahal, satu ekor ukuran 7 sampai 8 centimeter harganya bisa mencapai tiga juta Rupiah per ekor,” kata pria 73 tahun itu kepada aukabumiheadline.com, Sabtu (28/10/2023).

Bangbung atau kumbang bertanduk dua. l Istimewa
Bangbung atau kumbang bertanduk dua. l Istimewa

“Kalau jenis bangbung jangrang tanduk 4 itu harganya 300 ribu Rupiah, bangbung capit kebo ukuran 8 centimeter dijual 75 ribu Rupiah, bangbung capit konci ukuran 8 cm juga 300 ribu Rupiah. Ada banyak jenisnya. Tapi itu juga harga dulu, enggak tahu kalau sekarang,” papar suami dari Ruminah itu.

Adapun untuk teknis berburu bangbung, Baenuri memaparkan, dilakukan pada malam hari dengan membawa alat penerang dengan sumber listrik dari genset berukuran kecil.

“Dipasangi lampu di hutan, di kaki Gunung Salak itu, biasanya sampai empat lampu. Biasanya, bangbung-bangbung itu jatuh sendiri setelah menabrak lampu,” jelas Baenuri.

“Kalau abah biasanya menangkap bangbung juga dengan cara dikemat (dipanggil dengan doa-doa – red). Tiba-tiba bangbung nabrak badan dan nempel aja di baju,” jelasnya tanpa menceritakan doa apa yang ia lantunkan.

Ketika itu, ungkap Baenuri, dalam sehari ia bisa menghasilkan uang dari mulai Rp300 ribu hingga Rp700 ribu sehari.

“Dapat waktu itu sampai 300 ribu atau 700 ribu per hari. Kan ramai-ramai, jadi penghasilan semalam itu dibagi-bagi,” jelas dia.

Untuk pemasaran, kumbang-kumbang hasil tangkapan Baenuri dan kawan-kawan, biasanya dijual kepada kolektor asal Jepang.

“Pembelinya datang ke sini langsung dengan membawa kandang-kandang berukuran kumbangnya. Dikasih makanannya juga termasuk mewah, seperti buah anggur dan apel,” ungkapnya.

Dilarang Chevron Geothermal Salak

Diakui Baenuri, ia bersama warga lainnya menjadi pemburu kumbang sejak puluhan tahun silam. Bahkan, hingga kemudian dimulai proses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak pada sekira 1982, pekerjaan itu masih dijalaninya.

Namun, terhitung sejak Chevron mengakuisisi PLTP Salak dari Unocal, yakni sejak 2005 hingga 2016, aktivitas berburu bangbung Baenuri dan kawan-kawan dilarang dengan alasan untuk menghindari insiden kebocoran gas beracun.

“Waktu itu kan yang pertama perusahaan Union 76, lalu ganti Unocal, itu kami masih diizinkan berburu bangbung. Baru setelah Chevron masuk, kami dilarang berburu bangbung lagi,” kenang dia.

Sejak itu pula kini Baenuri menggantungkan hidupnya dari berjualan pisang di depan rumahnya. Terlihat sekira 4 hingga 5 sisir pisang Ambon digantung di tiang tiang bambu yang ditancapkan di teras.

Sementara Ruminah, setiap hari hanya bisa terbaring di tempat tidur di ruang tengah sejak stroke menyerang tubuhnya.

“Sekarang mah ya gini aja, jualan pisang. Dapat 10 ribu atau lebih, alhamdulillah. Sejak istri abah menderita stroke, abah juga gak bisa pergi jauh-jauh. Apalagi sekarang umur juga udah tua,” kata ayah enam anak itu memungkasi percakapan.

Diakui Baenuri, ia dan warga pemburu kumbang lainnya sempat mendapatkan bantuan dari pihak Chevron pada sekira 2005 silam. Namun, ia enggan menceritakan bantuan apa yang diterimanya.

Kan bantuannya untuk kelompok,” singkat Baenuri.

Kumbang Metalik

Untuk diketahui, kumbang metalik masuk dalam anggota keluarga kumbang scarab dan termasuk ke dalam subfamily Cetoniinae yang terdiri dari sekelompok kumbang yang biasa disebut flower chafer karena mereka banyak memakan serbuk sari, nektar, atau kelopak bunga.

Hewan ini adalah satwa asli daerah lembap di barat daya Amerika Serikat dan Meksiko. Kumbang figeater sering keliru dengan kumbang hijau Juni (Cotinis nitida) dan kadang-kadang kumbang Jepang (Popillia japonica), yang muncul di AS bagian timur.

Kumbang metalik masuk dalam keluarga scarab dan termasuk dalam subfamily Cetoniinae. l Istimewa
Kumbang metalik masuk dalam keluarga scarab dan termasuk dalam subfamily Cetoniinae. l Istimewa

Larva kumbang figeater biasa disebut “punggung merangkak”, berguling-guling dan mendorong diri mereka terbalik.

Warna hijau semi-glossy di bagian atas dan hijau warna-warni cemerlang di bagian bawah dan kaki. Mereka aktif selama siang hari, sering berkumpul di bawah naungan pohon dekat tempat berkembangbiak pilihan untuk menemukan pasangan.

Tempat makanan alaminya mencakup buah dari kaktus dan getah dari pohon gurun. Mereka berkembang pesat sejak 1960-an dengan meningkatnya ketersediaan kebun rumah, tumpukan kompos, dan mulsa organik.

Larva memakan bahan organik yang membusuk, seperti yang ditemukan ditumpukan kompos, tumpukan pupuk kandang, dan mulsa organik, dan kadang-kadang akar, seperti akar rumput di halaman rumput. Makanan utama kumbang dewasa adalah buah di kebun.

Untuk informasi, saat ini PLTP Salak dimiliki oleh Star Energy. Pada 22 Desember 2016, Konsorsium Star Energy dan Chevron meneken share sale and purchase agreement untuk dua aset di Indonesia, salah satunya PLTP Salak, dan satu aset di Filipina.

Nilai akuisisi ketiga aset tersebut diperkirakan mencapai 2,3 miliar dolar AS atau setara Rp31 triliun.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer