22.2 C
Sukabumi
Minggu, Mei 26, 2024

Honda AMAX 160, skutik futuristik performa unggul jadi penantang Yamaha Aerox

sukabumiheadline.com - Honda kembali menggebrak pasar skutik...

Smartphone dengan Peforma Mewah, Spesifikasi Xiaomi 13T Dilengkapi Kamera Leica

sukabumiheadline.com - Xiaomi selalu menjadi incaran bagi...

Satu Tewas, 2 Korban Jembatan Gantung Lapuk Penghubung Kalapanunggal-Kabandungan Sukabumi

SukabumiSatu Tewas, 2 Korban Jembatan Gantung Lapuk Penghubung Kalapanunggal-Kabandungan Sukabumi

sukabumiheadline.com l Aliran Sungai Citarik yang membelah Kecamatan Kalapanunggal dengan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengalir perlahan ketika musim kemarau. Bahkan, airnya terlihat surut drastis di saat musim kemarau panjang seperti saat ini.

Namun, aliran air sungai di perbatasan Kampung Batu Gajah, Desa Walagsari, Kecamatan Kalapanunggal dengan Kampung Lio, Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan tersebut, seketika berubah beringas dan mengancam keselamatan jiwa ketika musim penghujan dan terjadi bah.

Sementara di atas sungai, Jembatan Gantung Muara Lio yang terbuat dari bambu dan papan kayu yang sudah lapuk, membentang sepanjang 24 meter menyeberangi Sungai Citarik.

Jembatan tersebut terbilang vital karena setiap hari digunakan untuk menyeberangi sungai oleh sekira 100 KK warga Walagsari dan 45 KK warga Tugubandung.

Menurut tokoh warga setempat, Ade Rahmat, air sungai bisa tiba-tiba meluap dan nyari rata dengan daratan. Sedangkan, jembatan lapuk tersebut setiap hari juga digunakan oleh pengendara sepeda motor untuk menyeberang.

“Ya wajar lapuk, karena seingat Abah sih memang sudah sepuluh tahun lebih tidak diperbaiki,” kata pria 61 tahun yang biasa dipanggil Abah Ade itu kepada sukabumiheadline.com, Rabu (11/10/2023).

Abah Ade menambahkan, seingat dirinya sudah ada dua warga yang menjadi korban setelah terjatuh dari Jembatan Gantung Muara Lio ke aliran Sungai Citarik.

Bahkan, dari dua korban jatuh tersebut, salah seorang di antaranya langsung meninggal dunia sebab langsung terseret arus sungai yang saat itu sedang meluap.

“Seingat Abah sudah dua orang menjadi korban. Satu orang meninggal dunia karena terbawa arus sungai yang meluap,” jelas pria yang aktif sebagai pegiat Seni dan Budaya Sunda itu.

“Jasadnya bahkan baru ditemukan setelah empat hari dilakukan pencarian karena memang arusnya deras banget waktu itu,” pungkas Abah Ade.

Diketahui, lokasi jembatan gantung lapuk tersebut berada tidak jauh dari lokasi PLTP Salak. Baca lengkap: Mengintip Dana Bagi Hasil dan Bonus Produksi PLTP Salak untuk Kabupaten Sukabumi

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer