sukabumiheadline.com – Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) diprediksi akan membenci sosok Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris jika terpilih dalam Pemilih Presiden (Pilpres) AS, menggantikan Joe Biden.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengambil keputusan mengejutkan untuk keluar dari persaingan dari Pilpres AS 2024. Dia memilih untuk tidak mengabarkannya secara langsung melainkan secara online, pada pekan lalu

Biden juga berterima kasih kepada Wakil Presiden Kamala Harris. Dia menyebut Harris sebagai seseorang yang berpengalaman, tangguh, dan kapabel. Namun, Biden menambahkan, “Pilihannya terserah Anda.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengamat menyebut, sosok Harris yang dikenal sangat liberal dan merupakan mantan jaksa terkemuka AS dinilai telah memicu kekhawatiran MbS.
Baca Juga: Lebih Dari 40 Negara Minta China Buka Akses PBB Selidiki Kasus Muslim Uighur
Dalam laporan Business Insider, Kamis (25/7/2024), pakar intelijen dan pandangan strategis di forum think-tank Stimson Center, Matthew Burrows, menyebut MbS akan mewaspadai Harris jika nant terpilih menjadi Presiden AS.
“Seorang kandidat presiden yang liberal seperti Kamala Harris, yang dekat dengan para aktivis hak asasi manusia, juga akan mengkhawatirkan,” ujar Burrows.

Pangeran MbS, menurut Burrows, khawatir jika di bawah Harris yang liberal, Partai Demokrat akan lebih vokal mengenai “catatan hak asasi manusia Saudi yang suram”.
Biden sebelumnya berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap Riyadh, terutama setelah pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018. Baca selengkapnya: 5 Dosa Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi yang Dinilai Kejam
Pada saat yang sama, Harris juga menegaskan bahwa AS perlu untuk “secara mendasar mengevaluasi kembali hubungan dengan Arab Saudi, menggunakan pengaruh kita untuk membela nilai-nilai dan kepentingan Amerika”.
Gedung Putih di bawah Biden pada akhirnya mencapai semacam kesepakatan dengan MbS, yang fokus menentang Iran dan mewujudkan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kian Panas, Pangeran Arab Saudi Serukan Jihad Melawan AS
Burrows, dalam analisisnya, menyebut Harris dapat memperumit hal tersebut. Capres yang lebih konfrontatif, menurut Burrows, bisa menjadi hambatan bagi tujuan AS dalam menormalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel, sekutu penting Washington di kawasan.

AS telah berupaya untuk menjadi perantara hubungan yang lebih baik antara negara-negara Arab dan Israel, yang sebagian dimaksudkan untuk menjadi penyeimbang terhadap pengaruh regional Iran.
Baca Juga: 5 Fakta Chateau Louis XIV, Rumah Termahal di Dunia Milik seorang Muslim
Tidak hanya itu, Harris juga dikenal sebagai pendukung utama bagi hak perempuan dan kelompok LGBT, yang semuanya secara hukum lebih rendah dari laki-laki dalam hukum Saudi.
Hubungan sesama jenis adalah ilegal di Saudi, kemudian semua perempuan diwajibkan memiliki wali laki-laki yang sah, dan wanita-wanita Saudi yang memperjuangkan lebih banyak hak mereka bisa dihukum berat.