22.8 C
Sukabumi
Selasa, April 23, 2024

Pria tewas tersambar petir saat main handphone ternyata ASN Pemkab Sukabumi

sukabumiheadline.com - Korban tewas dalam insiden tersambar...

Daftar kamera mirrorless tapi harga di bawah Rp5 juta, minat?

sukabumiheadline.com - Ingin merasakan sensasi saat melakukan...

Belasan pemotor pengguna knalpot bising diamankan Satlantas Polres Sukabumi

sukabumiheadline.com - Belasan pengendara sepeda motor yang...

Mengulas Mitos dan Cerita Menyedihkan di Situ Batu Karut Sukaraja Sukabumi

KontenMengulas Mitos dan Cerita Menyedihkan di Situ Batu Karut Sukaraja Sukabumi

sukabumiheadline.com – Banyak muda-mudi sering datang ke Situ Batu Karut. Dari mereka yang mengunjungi bersama pasangan, tamasya bersama teman, hingga si jomblo yang larut dalam kesendirian.

Namun, ada sejumlah mitos beredar di kalangan masyarakat terkait penamaan danau yang memiliki pemandangan menawan ini

Berikut adalah ulasan seputar mitos di Situ Batu Karut disarikan dari tulisan di sukabumixyz.com, dikutip sukabumiheadline.com, Sabtu (2/3/2024) dini hari. Baca lengkap: 5 cerita menarik hingga menyedihkan di Situ Batu Karut Sukabumi

Situ Batu Karut nan indah ini terletak di Kampung Batu Karut RT 003/08, Desa Selawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sebuah danau yang membelah dua kampung, yaitu Batu Karut di sisi timur, dan Pulopanggang di sisi barat.

Batu Karut kini menjadi salah satu destinasi wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi baik wisatawan lokal, maupun dari luar daerah. Di area situ ini, pengunjung dapat melihat-lihat kejernihan air dari kolam kecil dan pancuran tujuh di sana.

Tak mengherankan jika saat weekend dan hari libur nasional, banyak orang yang mengunjunginya, dari sekadar nongkrong, berolahraga, hingga berekreasi. Bahkan, ada juga yang sekadar memancing ikan.

Karenanya, di tempat ini banyak terdapat rakit yang biasa digunakan untuk memancing ikan atau sekadar bermain-main ke tengah danau.

Konon, di area danau ini dulu banyak terdapat rumah-rumah dan tempat penggilingan beras. Kemudian setelah warga di sana pindah, tempat itu dijadikan destinasi wisata air, Situ atau Danau Batu Karut.

Mata air situ ini kini hanya dinaungi pohon-pohon besar khas hutan di kaki Gunung Gede Pangrango seluas lima hektar, dengan status tanah milik PDAM Kota Sukabumi.

Sayangnya, di kiri dan kanan lokasi ini dipadati pemukiman penduduk. Padahal, dalam model zonasi perlindungan mata air, seharusnya pada Zona 1, radius 13,5 hektar, tidak boleh ada pemukiman ataupun aktivitas yang bisa merusak ekosistem hutan.

Sedangkan pada Zona 2, dari model perlindungan mata air yang luasannya adalah 72 hektar, seharusnya tidak boleh ada aktivitas yang bisa mencemari air tanah.

Di jalan yang semakin menyempit menanjak dan hanya dialasi bebatuan. Di sepanjang jalan ada sejumlah kegiatan yang sebenarnya bisa menimbulkan pencemaran, seperti pengolahan pupuk kandang, peternakan ayam dan sapi.

Paling menyedihkan, seluas 72 hektar Zona 2 tidak ada satu pohon besar yang hidup. Semua lahan sudah berganti fungsi menjadi ladang holtikultura milik sebuah perusahaan swasta. Dan sepanjang mata memandang ke arah puncak Gunung Gede Pangarango yang ada adalah perkebunan, nyaris tanpa pepohonan besar atau pohon pinus khas Gede Pangrango.

Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. l Istimewa
Situ Batu Karut, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. l Istimewa

Cerita di Balik Nama Batu Karut

Di balik nama Batu Karut ada cerita menarik. Menurut warga setempat, di area tersebut dulunya terdapat sebuah batu terikat akar beringin. Ajaibnya, akar beringin ini bisa mengangkat batu itu keatas kurang lebih setinggi satu meter.

Batu Karut, dalam bahasa Sunda bisa diartikan “batu anu dikarut ku akar” yang artinya “batu yang diikat dengan akar”. Maka kampung tersebut dinamakan Kampung Batu Karut. Tapi sekarang batu yang di ikat oleh akarnya itu sudah tidak bisa lagi kita temukan.

Konon pula, menurut warga setempat, masyarakat di sini masih meyakini mitos bahwa pernah ada pohon kelapa yang menjulang tinggi tumbuh persis di tengah-tengah situ. Selain itu, juga mitos jika di situ tersebut hidup seekor ikan memakai anting, atau dalam bahasa Sunda biasa disebut lauk antingan.

Selain itu, ada banyak yang menjadikan tujuan mengunjunginya karena tertarik dengan tempat pemandiannya yang bernama “Pancuran Tujuh” yang terletak di utara Danau Batu Karut. Pancuran Tujuh ini berair jernih yang berasal dari sumber mata air.

Selain itu, sumber air situ ini juga bisa digunakan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer