sukabumiheadline.com – Presiden Prabowo Subianto membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mempercepat konversi motor listrik dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Kamis (5/3/2026).
Hal ini diungkapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, rapat terbatas digelar membahas implementasi energi bersih dan terbarukan. Menurutnya, pembahasan itu berkaitan pembangunan 100 Gigawatt PLTS dan percepatan pemberian konversi mesin motor listrik untuk 120 juta motor konvensional.
Diungkap Bahlil, Prabowo berkeinginan untuk implementasi program tersebut dalam waktu dekat. Untuk itu dia mengatakan presiden membentuk satuan tugas khusus untuk melakukan percepatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karena itu bapak presiden membentuk tim Satgas untuk bisa melakukan percepatan ini, dan tadi kami diberikan tugas oleh bapak presiden sebagai Ketua Satgas dalam menjalankan dan menerjemahkan secara cepat,” kata Bahlil.

Bahlil menjelaskan bahwa upaya ini akan dilakukan untuk percepatan transisi energi. Selain itu juga bisa mengurangi subsidi dengan konversi dari PLTD menjadi PLTS.
“Itu akan mengakibatkan efisiensi terhadap subsidi listrik kita, dan sekaligus kita mendorong percepatan untuk pembagian motor dan mobil listrik,” tutur Bahlil.
Untuk informasi, rapat juga dihadiri oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Brian Yuliarto, dan Direktur Utama PT Pindad (Persero) Sigit P. Santosa.
Asal gratis dan libatkan bengkel lokal

Sementara itu, warga Sukabumi mengaku mendukung konversi program motor konvensional ke listrik. Namun, ia berharap program tersebut tidak dipungut biaya.
“Ya mendukung aja sih. Nolak juga gak bisa, kan. Tetapi yang penting harus gratis lah,” kata Dindin Muhidin (59) kepada sukabumiheadline.com, Jumat (6/2/2026).
Namun, Dindin meragukan program tersebut bakal berjalan lancar. Hal itu karena motor listrik tergolong sesuatu yang baru di Indonesia, terutama di Sukabumi. Ia meragukan kesiapan skill bengkel-bengkel yang ada karena motor listrik memiliki teknologi yang relatif berbeda dengan motor konvensional.
“Nah, masalahnya, gimana kalau terjadi kerusakan? Kan belum tentu semua berjalan atau berfungsi baik. Bengkel-bengkel di kita kan belum tentu siap,” kata dia.

Untuk itu, ia menyarankan pemerintah agar dalam proses konversi tersebut juga melibatkan bengkel-bengkel di daerah. Hal itu untuk memudahkan masyarakat jika terjadi sesuatu terhadap motornya.
“Saran saya, libatkan bengkel-bengkel di daerah. Sekaligus sebagai pelatihan, kalau-kalau ke depan masyarakat membutuhkan perbaikan. Jadi jangan sampai program ini malah merugikan masyarakat,” pungkas dia.









